Wisata Bahari Dikhawatirkan Mati Jika Pengelolaan Tidak Terkendali

LEMBONGAN, NUSA PENIDA POST

Pesona wisata bahari menjadi magnet utama yang menarik kedatangan wisatawan ke Kepulaun Nusa Penida. Ada sejumlah spot terbaik di sekeliling pulau dengan beragam spesies ikan dan terumbu karang hingga menobatkan kawasan ini sebagai juara 2 lokasi menyelam terpopuler pada 2016 lalu. Wisata tirta ini menjadi faktor utama daya tarik wisata namun berbagai pihak mulai was-was dengan perkembangan wisata bahari yang dinilai kurang terkendali. Isu wisata bahari yang berkelanjutan menjadi pembicaraan hangat dan dianggap sebagai jantung pariwisata. Pengelolaan yang serampangan dan tidak mengindahkan konservasi bisa menjadi ancaman nyata hingga matinya pariwisata.

Ekosistem terumbu karang terancam jika pengelolaan tidak terkendali

Ada berbagai persoalan pelik dibalik melajunya industri pariwisata di kepulauan ini. Banyak sekali operator penyelaman dan snorkeling yang melabrak aturan hingga menyebabkan kerusakan terumbu karang termasuk ulah oknum pengunjung nakal. Belum lagi coral bleaching (red; pemutihan karang) akibat pengaruh iklim global dan meningkatnya pencemaran laut. Ditengarai banyak hotel yang membuang limbah ke laut tanpa melalui filterisasi. Menjamurnya pembangunan pontoon untuk wisata tirta juga ikut andil merusak karang dan biota bawah laut. Bisa dipastikan jika konservasi dikhianati maka wisata bahari berkelanjutan bisa jadi hanya mimpi dan destinasi ini pasti akan ditinggalkan pengunjung. Pengelolaan yang masih gamang juga menjadi kelemahan tersendiri.

Persoalan ini ternyata memantik perhatian para penyelam yang akan merasakan imbas langsung dari dampak buruk rusaknya ekosistem terumbu karang. Ketua Lembongan Marine Association (LMA) Gede Sukayasa menegaskan perlunya pembentukan komunitas yang peduli dengan kehidupan bawah laut Nusa Penida.

“Perkumpulan yang kita perlukan adalah perkumpulan orang yang mau ikut menjaga lingkungan bawah laut tempat kita bekerja,” ungkap Sukayasa pada pertemuan Kamis, (25/5) lalu.

Sementara Kadek Jaya Suara berharap adanya peran serta para penyelam untuk ikut ambil andil dalam pelestarian lingkungan. Ia juga meminta adanya legalitas formal organisasi sehingga mempunyai arah yang jelas dan sikron dengan kebijakan pemerintah.

“Kita perlu suatu organisasi yang legal yang bisa bekerjasama dengan pemerintah untuk menjaga kelangsungan hidup biota laut kita,’’ tambah Jaya Suara.

Pertemuan kecil yang digelar tersebut akhirnya membuat kesepakatan membentuk organisasi yang disebut Komunitas Penyelam Lembongan (KPL). Wayan Gede Lama terpilih sebagai ketua didampingi wakil I Kadek Jaya Suar. Sementara sekretaris diberikan kepercayaan kepada I Wayan Bagiayasa dengan bendahara I Wayan Sujana.

Ketua KPL Wayan Gede Lama berharap semua anggota ikut bekerja untuk melakukan penyelamatan terumbu karang demi kelangsungan wisata bahari. Sosialisasi di masyarakat atau sekolah untuk mencintai keindahan bahari juga berperan strategis melalui perkenalan dunia penyelaman. Semua pihak diharapkan berperan aktif untuk menjaga kelestarian demi sustainable tourism.

Kontributor : I Wayan Bagiayasa

Editor: I Gede Sumadi