Warga Nusa Penida Bertani di atas Batu Kapur

NPP32

Untuka Download Nusa Penida Post Vol 32 klik gambar di atas!

Nusa Penida, Nusa Penida Post
Bertani di atas batu. Demikian yang dilakukan warga pulau ini selama bertahun-tahun walaupun warga sendiri tidak sadar mereka bertani diatas batu. Ini lebih dikarenakan karena warga merasa bertani seperti pada umumnya yaitu diatas tanah. Apabila dikaji lebih jauh, secara geologi, pulau ini terdiri dari gundukan batu yang dilapisi tanah. Ini yang menyebabkannya sering disebut batu bertanah bukan tanah berbatu.

Batu bertanah artinya bongkahan batu kapur yang ada dilapisi oleh tanah yang tipis. Ini dapat kita dibuktikan ketika warga menggali tanah untuk membuat cubang (red; sumur). Ketika penggalian akan banyak sekali lempengan dan bongkahan batu kapur yang akan dijumpai. Terlebih pada dataran tinggi yang membentang dari barat ke selatan, lapisan tanah sangat tipis. Alasan logis lain adanya sekat antara satu luas tanah dengan tanah lainnya dengan susunan batu yang sering disebut abangan atau bataran (red; terasering). “Ne untung ada bataran yen tare telah tanahte abe yeh. Kadik tare nyidang mepulan-pulan ibe” (red; Syukur ada terasering, kalau tidak tanahnya pasti hanyut dan kami tidak bisa menanam apapun), jelas I Made Tis (55) warga Banjar Cemulik, Desa Sakti (11/8). Faktor-faktor inilah yang diduga menyebabkan pertanian di daerah ini relatif kurang subur. Selain aspek geologi, air hujan pun sebagian besar terserap batu kapur sebagai zat terlarut.

tanah kapur

Masyarakat bertani di atas bukit berbatu dengan membuat terasering berupa bataran atau abangan

Nusa Gede seperti bongkahan batu besar yang didekatnya ada bongkahan batu yang berbentuk Pulau Ceningan dan  Lembongan. Tipisnya lapisan tanah disebabkan tanah maupun humus tergerus erosi ketika hujan sementara akar pohon yang menahannya sangat minim. Fenomena ini terjadi di kawasan barat pulau, tepatnya di wilayah Desa Sakti, dimana lapisan tanahnya tidak lebih dari 50 cm. Ketika team Nusa Penida Post, (29/6/2013) mengadakan pelatihan jurnalistik, tim menggali ketela pohon dan terasa sekali lapisan tanah sangat tipis, itupun kerikil batu kapur yang bercampur dengan tipisnya tanah.

Setelah melalui diskusi dan analisa sederhana, penyebabnya adalah tanah di daerah Manteb, Desa Sakti memiliki kemiringan ke laut hampir 30%. Terlebih bagian barat Desa Sakti, Nusa Penida ini menghadap laut lepas di kedua bagian baik sisi barat maupun utaranya. Bisa dipastikan ketika air hujan datang, sedikit demi sedikit tanah ini akan tergerus dan terbuang ke Laut.

hasil bertani

Hasil komoditi pertanian yang menjadi andalan warga

Bongkahan batu yang menyebabkan warganya harus bertani di atas batu, tidak selamanya buruk. Banyak keuntungan yang didapat dari jenis batu bertanah di Nusa Penida. Masyarakat yang membangun rumah tidak perlu membuat kontruksi besi yang terlalu kuat karena dasar lapisan tanahnya adalah batu sehingga sangat kuat. Banyaknya batu kapur, khususnya daerah barat menumbuhkan kreatifitas masyarakat dengan membuat kerajinan batu kapur, baik patung, hiasan pura dan ornamen lainnya. Pengolahan batu kapur bisa dilihat di Banjar Limo, Desa Kutampi Kaler dan beberapa daerah lainnya.

Kelebihan lain jenis batu bertanah adalah kandungan air yang ada di batu kapur menyebabkan ketersediaan air yang terlarut dalam batu kapur lebih lama sehingga sepanjang tahun tumbuhan masih bisa bertahan di Nusa Penida. Keistimewaan lain bertani di atas batu kapur adalah rasa buah, umbi, maupun batang sayur yang ditanam di Nusa Penida akan lebih enak dan manis. Ini dapat kita bandingkan rasa air kelapa muda, rasa umbi ketela pohon demikian juga tebu yang dipanen rasanya sangat manis. “Nu manisan yeh huud ibene ken di Bali, yapin jagung masih hento, jagung ibene meladoman(red; Air kelapa di sini lebih manis daripada di Bali daratan, jagung pun begitu karena jagung di sini lebih berasa), tutur I Wayan Tingas (48) salah satu petani kelapa dan ketela di Banjar Jurang Batu, Desa Suana yang ditemui di kebunnya (9/8). Wayan pun mengakui bahwa ukuran besarnya buah, umbi, dan batangnya tidak terlalu besar.

Reporter : I Wayan Sukadana