Warga Lampung Asal Nusa Penida: Kami Tetap Ingat ‘Tanah Leluhur’

DENPASAR, NUSA PENIDA POST

Lampung sering dijuluki sebagai miniaturnya Indonesia dengan berbagai keberagaman yang dimiliki baik etnis, agama dan budaya masyarakatnya. Provinsi yang berada di ujung selatan Pulau Sumatera ini juga menjadi tujuan utama daerah transmigrasi bahkan dari rekam jejak yang ada, pemindahan warga Jawa sudah terjadi sejak jaman Belanda sekitar tahun 1905-an. Pun demikian dengan warga Bali, khususnya Nusa Penida, Lampung menjadi daerah tujuan transmigrasi sejak tahun 1950-an dengan sebaran utama daerah Seputih Raman, Lampung Tengah. Berikutnya ledakan dahsyat Gunung Agung tahun 1963 turut mendorong terjadinya transmigrasi termasuk ke wilayah yang kemarin sempat dilanda kerusuhan sosial, Desa Balinuraga, Lampung Tengah.

Warga transmigran asal Nusa Penida bersiap kembali ke Lampung seusai melaksakan upacara Pitra Yadnya

Warga transmigran asal Nusa Penida bersiap kembali ke Lampung seusai melaksakan upacara Pitra Yadnya

Hingga kini jumlah warga Lampung keturunan Bali sudah menyentuh angka hampir 1 juta jiwa yang tersebar hampir di seluruh wilayah Lampung. Sebagian warga menjalani keseharian sebagai petani baik petani karet, jagung, maupun singkong hingga pengusaha. Keterwakilan mereka di pemerintah daerah juga semakin baik, terbukti 5 orang yang notabena putra transmigran kini duduk di kursi DPRD Tingkat I dan puluhan tersebar di DPRD Tingkat II kabupaten. Harus diakui kehidupan mereka jauh lebih baik dibanding ketika dulunya tinggal di Nusa Penida dengan sumber kehidupan yang minim. Namun satu yang tidak bisa dihilangkan, mereka ternyata masih tetap berbicara menggunakan logat dan dialek ‘Bahasa Nusa’.

Pagi tadi, Kamis, (27/8) Tim Nusa Penida Post berbincang-bincang dengan warga yang akan balik ke Lampung setelah melaksanakan upacara ngaben di Nusa Penida. Rombongan ini turun di Pelabuhan Sanur selanjutnya bergerak ke arah parkiran Pantai Matahari Terbit untuk menunggu jemputan. Sembari menunggu jemputan, kami pun sempat berbicara tentang sisi kehidupan para transmigran.

“Memang kehidupan kami lebih baik dibandingkan dulu. Ya meskipun kami rata-rata bertani, kalau yang lama sudah punya lahan isi karet, ada yang ditanami jagung dan juga sela, (red; singkong racun). Astungkara secara ekonomi lebih dari cukup,” ujar Putu Dani, warga yang kini menetap di Desa Mekar Jaya, Kecamatan Putra Rumbia, Lampung Tengah.

Putu Dani juga mengatakan jumlah KK di desanya mencapai 1.500-an yang berasal dari berbagai kabupaten di Bali. Kesuksesan yang diraih warga transmigran bukan perkara mudah. Mereka awalnya berjuang sekuat tenaga mengubah hutan lebat menjadi lahan subur seperti sekarang. Mereka pun kini menikmati kehidupan yang layak baik tanah, rumah hingga properti mewah lainnya. Meski sudah berhasil, para transmigran ini ternyata tidak lantas melupakan tanah leluhur mereka.

“Meskipun kami sekarang berada jauh namun kami tetap ingat jak tanah leluhur. Kali ini kami pulang karena ada ngaben di kampung berikutnya Desember ini kami juga akan pulang lagi, ada karya,” imbuh Putu Dani yang merupakan warga asli Banjar Sebuluh, Desa Bunga Mekar.

Ketika disinggung isu sentimen etnis yang berujung pada bentrokan beberapa waktu lalu, Putu Dani mengakui bahwa kasus ini sudah selesai. Baginya selama bisa saling menghargai, kasus serupa tidak akan terjadi dan berharap bisa menjalani hidup lebih damai dan berdampingan secara harmonis.

“Kasus itu sudah selesai dengan damai, biarlah itu jadi pelajaran buat kami untuk selalu ‘mulat sarire’. Kami ingin tragedi serupa tidak terjadi lagi,” harap Dani.

I Wayan Betul, sopir bus yang sempat dikonfirmasi mengatakan bahwa dirinya bolak-balik Bali – Lampung untuk mengantarkan penumpang. Hampir setiap dua minggu sekali, ia melayani penumpang dengan tujuan Bali. Wayan juga mengakui bahwa bus yang dibawanya milik warga transmigran asal Bali. Meski terlihat lelah, ada senyum sumringah di wajah para penumpang. Ada kebahagiaan yang tak terukur ketika kembali menginjakkan kaki dan mebakti di tanah Bali. Namun, tuntutan kehidupan mau tak mau membuat mereka harus rela beradu di negeri nun jauh di sana meski dengan berat hati. Satu yang pasti, mereka pergi untuk kehidupan yang lebih baik.

Reporter: I Gede Sumadi

Editor: I Komang Budiarta