Warga Jungutbatu Buktikan Kebersamaan dan Ngaben Tidak Selalu Mahal

JUNGUTBATU, NUSA PENIDA POST

Banyak pihak yang selalu beropini bahwa setiap pelaksaan upacara agama di Bali menghabiskan banyak dana. Berbagai terobosan bahkan sempat dimunculkan termasuk penyederhaan banten namun ide ini masih jadi polemik mengingat ada berbagai tingkatan upacara yang bisa disesuaikan dengan kemampuan. Tidak bisa dipungkiri banyak upacara besar yang dilakukan memang sarat akan gengsi yang justru menghilangkan esensi dari upacara tersebut. Tak sedikit pula banyak warga yang jual tanah untuk upacara ngaben.

Pelaksanaan ngaben massal di Jungutbatu

Pelaksanaan ngaben massal di Jungutbatu

Kali ini warga Jungutbatu seolah memberi tamparan keras kepada warga yang sering beralibi menjual tanah untuk membiaya upakara. Kesan upacara berbiaya mahal bisa diminimalkan dengan sistem ngaben massal bahkan gratis dengan pengelolaan dana warga di bawah manajemen LPD dan Desa Pekraman. Meski secara ekonomi warga Jungutbatu dimanjakan dengan gelimang pariwisata namun nilai kebersamaan antar warga tetap terjalin.

“Upacara ngaben kali ini semua biaya ditanggung oleh Desa Pakraman dibawah naungan LPD. Ini salah satu terobosan baru penyelenggaraan upacara secara gratis kepada masyarakat. Pengabdian dan penghormatan terhadap leluhur menjadi kewajiban kita semua tanpa terkecuali, terang Bendesa Jungutbatu, I Ketut Gunaksa, Kamis (5/11).

Ketut juga menjelaskan puncak upacara ngeben berlangsung kemarin (4/11). Dana yang dikucurkan cukup banyak untuk upacara ngaben massal, atma wedana (ngeroras), metatah, ngeruwat dan sapu leger. Warga yang ikut upacara tidak dipungut biaya alias gratis untuk pertama kali yang diikuti sebanyak 59 sawa diiringi bande 3 dan lembu serta 14 perlambang singa.

“Program yang diluncurkan oleh Desa Pakraman terhadap masyarakat tidak semata upacara. Pembangunan fisik dan non fisik menjadi sekala prioritas pembangunan. Membangkitkan karakter masyarakat terhadap pelestarian budaya seperti membangkitkan sekaha shanti, sekaha tabuh dan tari, dan lain-lainnya,” imbuh Ketut.

Model ini layak menjadi acuan desa lain jika pengelolaan dilakukan dengan baik. Seluruh perangkat adat baik prajuru,  pecalang, serta pemangku yang merupakan perangkat desa pakraman mendapatkan jaminan kesehatan. Jaminan ini diberikan agar perangkat desa benar-benar dalam kondisi sehat untuk melayani masyarakat.

“Upacara ngeben ini merupakan kewajiban bagi para sentananya. Disamping itu juga mempererat rasa kebersamaan serta menjalin hubungan antar keluarga. Selama ini disibukan akan aktifitas masing-masing , kali ini semua keluarga bisa melepas kangen. Mudah-mudah upacara ngaben mendapatkan kemudahan kita bersama,” harap Ketut.

Reporter : Santana Ja Dewa

Editor: I Gede Sumadi