Warga Banjar Sental Kangin Ngaben Massal dengan Nuansa Alami

Nusa Penida Post Vol 28

Untuk Download Nusa Penida Post Vol 28 klik gambar di atas!

SENTAL KANGIN, NUSA PENIDA POST
Semua makhluk hidup yang ada di alam semesta selalu melewati siklus alamiah berupa lahir, tumbuh dan mati. Kita lebih mengenal proses tersebut dengan istilah, sthiti, utpetti dan pralina.

Dalam konteks Agama Hindu, semua proses tersebut selalu diiringi dengan upacara ritual, mulai dari janin di dalam kandungan sampai seseorang meninggal dunia. Rangkaian upacara terakhir yang dilakukan terhadap orang yang telah meninggal adalah Pitra Yadnya, yang lazim disebut ngaben. Upacara ini dianggap penting karena merupakan wujud bakti dan rasa hormat terhadap orang tua dari orang yang ditinggalkan. Ngaben pun diyakini sebagai prosesi terakhir untuk mengantarkan arwah leluhur menuju alam nirwana dan kembali bereinkarnasi sesuai dengan amal perbuatannya

Tidak hanya di Bali, tradisi serupa juga ada di berbagai daerah dengan berbagai kemiripan konsep. Umat Hindu di Kalimantan, terutama penganut kaharingan melakukan upacara tiwah. Sementara untuk umat Hindu di daerah Tengger, Gunung Bromo, Jawa Timur, mereka memiliki  upacara entas-entas yang diperuntukkan bagi warga yang meninggal. Tak jauh beda dengan Bali daratan,  masyarakat Nusa Penida yang merupakan warga Hindu juga melaksanakan ngaben.

ngaben wadah

Prosesi ngaben massal di Banjar Sental Kangin, Ped, Minggu, 14 Juli 2013

Minggu, 14/7/2013, warga Banjar Sental Kangin, Desa Ped melaksanakan ngaben massal. Menurut Ketua Panitia, I Ketut Sumerta (46), upacara ngaben merupakan agenda rutin setiap 5 tahun sekali. “Untuk upacara kali ini, pelaksaan dilakukan hampir dari satu bulan sebelumnya dengan melibatkan semua komponen masyarakat,” ungkap ketua panitia yang biasa dipanggil Pak Kota. Tahapan prosesi cukup panjang, diawali dengan menek taring, ngebet sawa (red; mengangkat tulang belulang) yang dilakukan 3 hari sebelum hari H, dan puncak ngaben pada Redite wage, wuku wayang 14/7/2013. Kegiatan selanjutnya adalah ngeroras yang biasa dilaksanakan 12 hari setelah puncak gae, tetapi ngeroras kali ini dilaksanakan lebih cepat, yaitu 19/7/2013 yang dilanjutkan dengan meajar-ajar dan nuntun.

“Secara keseluruhan, jumlah yang diaben sebanyak 17 sawa dengan biaya hampir Rp 12.000.000 per sawa,” papar I Ketut Candra (36) yang juga sekretaris panitia. Candra mengungkapkan bahwa ngaben massal jauh lebih efisien daripada dilakukan perorangan.  Hal ini diamini oleh salah seorang warga, I Ketut Sumadi (32) yang juga ikut ngaben kakeknya. “Ngaben jak he to mudahan ibe, yen pedihi biaya ibe tare kuat” (red; Ngaben massal jauh lebih efisien, kalau sendiri kita tidak mampu karena biayanya mahal), tutur Ketut. Kegiatan ini juga tidak hanya dilakukan oleh pihak yang punya sawa tetapi semua krama urun rembug untuk membantu kegiatan.

ngaben wadah pendukung

Prosesi ngaben

Dari hasil liputan khusus Nusa Penida Post (14/7), ada hal yang cukup istimewa pada ngaben kali ini. Ini bisa dilihat dari bangunan pembakaran sawa, yaitu bale tajuk yang terbuat dari bahan-bahan alami. Atap bale tajuk terbuat dari tapis dan pelepah kelapa kering yang diolah kreatif. Hiasan dinding tersusun rapi dengan memanfaatkan daun pandan, daun lontar dan gedebong kering (red; batang pisang yang dikeringkan). Ide–ide kreatif seperti ini memberi nuansa alami dan lebih menonjolkan kesan klasik. Ngaben massal dinilai menjadi solusi jitu ditengah mahalnya biaya upacara tanpa mengurangi makna dari upacara tersebut dan memperkuat rasa kebersamaan dan sima krama antar warga. (Sumadi, Ludra, & Budiarta)