Wacana Relokasi Lapas, Warga Nusa Penida: Pulau Kami Bukan Tempat Sampah

NUSA PENIDA, NUSA PENIDA POST

Kerusuhan yang terjadi di Lapas Kelas II A Kerobokan beberapa waktu lalu (17/12) memunculkan wacana pemindahan lokasi Lapas. Relokasi juga didorong kapasitas penjara yang sudah melebihi batas daya tampung. Beberapa waktu sebelumnya, Gubernur Bali sempat memberi alternatif untuk memindahkan Lapas ke kawasan dekat TPA Suwung. Senin, (4/1), rapat digelar di DPRD Provinsi Bali yang dihadiri Plh Lapas Kerobokan, pihak Pemprov Bali dan juga Ketua Majelis Utama Desa Pakraman (MUDP) Bali Jro Gede Suwena Putus Upadesa.

Seluruh elemen masyarakat Nusa Penida menolak wacana relokasi lapas ke Pulau Nusa Penida

Seluruh elemen masyarakat Nusa Penida menolak wacana relokasi lapas ke Pulau Nusa Penida

Plh. Lapas Kerobokan, Kusbiantoro menolak jika lapas dipindahkan ke Suwung dengan pertimbangan berada dekat dengan tempat sampah dan tanahnya tidak stabil. Sementara, Ketua MUDP Bali justru mengusulkan agar lapas jauh dari pusat keramaian, salah satunya adalah Pulau Nusa Penida.

“Menurut kami Lapas ini memang lebih baik dipindahkan ke Nusa Penida,” ujar Jro Bendesa Gde Suwena Putus Upadesa sebagaiman dilansir Okezone (4/1).

Usulan Ketua MUDP Bali ini kontan menuai reaksi keras bahkan kecaman dari masyarakat Nusa Penida. Pernyataan ini dianggap melukai perasaaan warga dan tak pelak beragam komentar miring hingga penolakan pun menghiasi berbagai laman media sosial. Hampir semua elemen masyarakat menolak mentah-mentah usulan tersebut dan justru dianggap asal-asalan termasuk logika berpikir pengusul pun dinilai nyeleneh. Semestinya ada kajian mendalam, bukan asal usul bualan.

“Enak saja mengusulkan mau memindahkan lapas ke Nusa Penida……kami (MASYARAKAT LOKAL) yg sdh sekian lama berjuang merangkak dari NOL dan tertatih-tatih utk terlepas dari belenggu keterbelakangan karena pulau kami selalu di-anak-tiri-kan. sekarang kami baru menggeliat sedikit malah kalian seenak udel mengusulkan mau memindahkan lapas ke pulau kami,” tulis Ketut Suarma dalam postingan yang memicu ratusan balasan dari netizen.

“Mungkin Jro Gede Suwena Putu Suwena Upadesa belum pernah ke Nusa Penida, yang mana Nusa Penida kini berkembang menjadi pariwisata terpadu yang meliputi wisata spiritual, wisata bahari, pariwisata alam dan budaya,” sindir I Wayan Sukadana yang juga Ketua Yayasan Nusa Penida.

Kritik tak kalah pedas juga disampaikan I Made Martawan yang juga Bendesa Kutampi, lewat media sosial, Martawan mengaku siap tanda tangan dengan jempol darah untuk menolak pembangunan Lapas di Nusa Penida. Ia juga meminta agar Ketua MUDP Bali meralat pernyataan yang membuat geram warga.

“Ayo saya menyerukan kpd semua Bend se Nusa lewat forum resmi untuk menolak nya bila perlu dg jempol darah pun saya siap. TOLAAAAAAAAAKKK!!!,” tulisnya dalam sebuah pernyataan (5/1).

Akun Ketut Sekartini bahkan secara lugas dan gambang menolak wacana relokasi dengan menyebutkan bahwa Pulau Nusa Penida bukan tong sampah, bukan toilet atau tempat penampungan. Menurutnya, pulau yang digadang sebagai telur emasnya Bali seharusnya dijaga dan dilestarikan, bukan jadi tempat penampungan.

Swastyastu, sya sbge warga nuse pnida sngat kbratan dgn adaxa usul sperti dmkian .knpa bru ada msalh tiba2 ada usul kyk gtu. nuse bukan tong samph. Nuse bkn toilet. Nuse bkn tmpt penmpngan,” cetusnya menanggapi postingan wacana relokasi (6/1).

Sehari pasca merebaknya wacana relokasi ke wilayah Nusa Penida, petisi online https://www.change.org/p/semua-orang-tolak-relokasi-lapas-kerobokan-ke-pulau-nusa-penida?recruiter=459203974&utm_source=share_petition&utm_medium=facebook&utm_campaign=share_for_starters_page&utm_term=des-lg-no_src-no_msg&fb_ref=Default berupa penolakan terhadap relokasi muncul yang diinisiasi oleh penggiat media, Gede Sumadi. Petisi ini mengajak warga bersuara untuk melakukan penolakan. Pulau yang kini sedang berkembang dengan pariwisata dan tujuan spiritual tidak sepantasnya dibangun lapas.

Reporter: I Komang Budiarta

Editor: I Gede Sumadi