Usaha Kreatif Jarit Kebaya, Membangun Kewirausahaan Mandiri

TABANAN, NUSA PENIDA POST

Pemerintah baik pusat dan daerah terus mendorong perkembangan industri kreatif dengan berbagai skema, baik permodalan maupun pemberian insentif. Sektor ini juga dipacu untuk memanfaatkan teknologi dan informasi, fasilitasi akses pemasaran lewat media sosial, sarana usaha, serta optimaliasai branding, design,  promosi dan manajemen mutu. Industri kreatif memiliki sejumlah keunggulan disamping mampu membuka lapangan pekerjaan dan menopang ekonomi keluarga. Perguruan tinggi pun diminta turut membantu pengembangan industri kreatif.

Tim PKM Stimik Stikom Bali melakukan pendampingan pada kelompok penjarit kebaya

Tim Program Kemitraan Masyarakat STMIK STIKOM Bali yang dipimpin Ni Nyoman Supuwiningsih, S.T., M.Kom melakukan pendampingan pengelolan industri kreatifd di Desa Meliling Kawan, Kecamatan Kerambitan, Tabanan.  Tim bertemu langsung dengan kelompok penjarit kebaya untuk memberi pelatihan pemasaran online, pembuatan merk usaha atau brand hingga manajemen keuangan.

“Sektor ini sangat menjanjikan dan tidak harus dengan pendidikan tinggi, bisa dilakukan di rumah. Dunia mode, khusus kebaya  itu selalu berubah sesuai perkembangan terkini. Kita mendampingi agar pengrajin lebih up to date dengan permintaan konsumen saat ini, lebih kreatif dalam design dan bisa memasrkan secara luas dengan memanfaatkan media sosial,” papar Nyoman.

Penjahit kebaya, Kadek Ari Asih mengakui dirinya awalnya menjahit hanya sekedar menjalankan hobi semata namun kini bisa menjadi sumber penghasil bahkan membuka lapangan pekerjaan.

“Sudah tujuh tahun saya menggeluti pekerjaan ini. Awalnya hanya dari hobi tetapi sekarang jadi pekerjaan dan lumayan menjanjikan,” tutut Asih

“Untuk menjahit kebaya memerlukan tingkat seni yang tinggi agar mampu mengasilkan desain yang elegan. Ada beberapa kendala yang paling sering dihadapi, terkadang konsumen selalu meminta model kebaya yang trendy sesuai dengan perkembangan mode kebaya saat ini, jadi harus terus cari info model terkini,” tambahnya.

Sementara Wayan Sri Asih yang membuka toko jarit kebaya di Kediri, Tabanan justru menyebut model kebaya terbaru mudah didapat melalui internet.

“Model terbaru mudah didapat melalui internet, hanya saja beberapa konsumen baru sering mengeluhkan biaya yang harus dikeluarkan. Konsumen meminta desain yang rumit dengan harga sama dengan desain standar. Memang tidak semua konsumen begitu, banyak juga yang loyal jika jaritan dan model sesuai permintaan mereka,” urai Sri.

Ditambahkanjuga, kualitas benang yang dipakai menjadi salah satu indikator mahalnya harga kebaya selain motif dan desain. Satu kebaya standar bisa diselesaikan dalam waktu hingga 4 hari dengan kisaran biaya jarit mencapai Rp 250.000. Kebaya dengan kain khusus bahkan bisa tembus Rp 1.000.000 per lembar ongkos jarit berkisar Rp 500.000 mengingat resiko cukup besar. Perlu teknik danperlakuan berbeda untuk menggarap kebaya dengan spesifikasi khusus.

Penulis: Dekti

Editor: I Gede sumadi