Usaha Kreatif, Bonggol dan Kayu Sisa jadi Berharga

TANGLAD, NUSA PENIDA POST

Meski wilayahnya didominasi oleh perbukitan dan cenderung tandus, bukan berarti tidak ada pohon besar yang tumbuh. Beberapa tanaman yang mampu beradaptasi di lahan kering bisa tumbuh subur seperti pohon caplung, klampuak, jati, juet, mangga, mahoni, intaran termasuk pohon mangga serta akasia. Warga memanfaatkan pohon ini sebagai bahan bangunan mengingat harga kayu dari Bali daratan cukup mahal. Ratusan pohon yang ditebang menyisakan bonggol yang kerap dibiarkan begitu saja. Namun tidak demikian halnya dengan Komang Arta (35) asal Banjar Tanglad, Nusa Penida.

Arta dengan penuh kreativitas berhasil mengubah dan memanfaatkan bonggol sisa menjadi aneka kerajian berupa meja dan kursi yang bernilai tinggi. Ide awal pembuatan peralatan dari bonggol kayu sisa hanya untuk kepentingan pribadi. Berikutnya, rekan satu kampungnya menganggap ide ini cukup unik dan kreatif sehingga tertarik untuk memesan. Ia pun mengaku termotivasi untuk berkarya setelah adanya pesanan meski hal itu bukan menjadi pekerjaan pokok. Hampir 8 bulan bergelut dengan bonggol kayu, Arta telah membuat 16 pasang meja dan kursi.

Komang Arta menunjukkan salah satu hasil karya dari pemanfaatan bonggol dan kayu sisa

Komang Arta menunjukkan salah satu hasil karya dari pemanfaatan bonggol dan kayu sisa

“Sudah delapan bulan saya melakoni pekerjaan ini. Setidaknya ada 16 pasang meja dan kursi sudah jadi. Ini memang tidak menjadi pekerjaan pokok, ya pekerjaan sampingan saja disela-sela rehat dari rutinitas saya sebagai seorang petani tegalan,” tutur Arta sembari memoles meja buatannya dengan pernis, Minggu (7/12) lalu.

Memang tidak ada bentuk kursi atau meja yang pasti, semua menyesuaikan dengan bentuk kayu dan teksturnya, demikian juga ukurannya. Kesan alami kayu masih terlihat dengan guratan-guratan khas yang membuatnya terlihat eksotis dan memiliki nilai seni. Kayu sisa dan bonggolnya hanya dibersihkan sesuai dengan lekukannya dan sedikit diperhalus, selanjutnya dicat pernis agar lebih mengkilap.

Usaha sampingan ini ternyata membawa berkah tersendiri. Satu set furniture biasanya terdiri dari meja dan kursi memanjang. Meja standar dibuat dengan ukuran 120 x 50 cm dengan tebal 6 cm. Ukuran meja unik ini dijual dengan harga kisaran Rp 800.000hingga Rp 1.000.000 tergantung tebal meja dan jenis kayu yang diminta oleh pembeli. Salah satu pembeli bahkan memintanya membuat meja dari kayu jati dan dipernis memakai cat tahan bakar putung rokok dan rela membayar mahal.

“Saya jual kisaran Rp 800.000 sampai Rp 1.000.000 saja dan itu pun tergantung ukuran dan jenis kayu yang menjadi bahan dasar,” paparnya.

“Sekarang pesanan sudah banyak, cukup kewalahan juga karena hanya kerjakan sendiri. Saya sempat berpikir untuk cari tambahan modal dari bank cuma masih mikir-mikir karena pemasarannya juga masih terbatas di Nusa Penida. Repot juga nanti kalau tidak bisa bayar,” imbuh Arta sambil tersenyum.

Reporter: I Putu Gunawan

Editor: I Gede Sumadi