Tradisi Mengarak Bade di Laut dan Bidikan Mata Lensa

BATUNUNGGUL, NUSA PENIDA POST

Hampir setiap aktivitas upacara dan ritual memiliki nilai seni tinggi yang layak diabadikan. Inilah yang dulunya menjadi daya tarik terkuat wisatawan mengunjungi Bali untuk pertama kali beberapa dekade silam. Satu dari sekian tradisi yang masih bisa dinikmati adalah upacara kremasi yang pada salah satu bagiannya mengarak bade (red; wahana) melewati laut. Tradisi ini menjadi unik sebab ngaben biasanya dilakukan di kawasan tanah lapang atau jalan.

Tradisi Mengarak Bade di Laut Ditengah Bidikan Mata Lensa

Tradisi Mengarak Bade di Laut Ditengah Bidikan Mata Lensa

Ngaben massal yang dilakukan Pasemetonan Warga Tutuan, Banjar Majuh Kauh, Desa Pekraman Batumulapan pada Sabtu, (5/9) menjadi bidikan bagi Perhimpunan Fotografer Bali (FPB). Tak tanggung-tanggung, untuk mendapat gambar yang bagus, mereka rela masuk ke air. Selain di wilayah ini, mengarak bade di laut juga bisa disaksikan pada prosesi ngaben di Kutapang dan Dusun Semaya. Tradisi unik ini sudah diwarisi dari generasi ke generasi.

Ketua Panitia I Kadek Darmada mengatakan upacara ngaben yang digelar warga dilakukan setiap lima tahun sekali.

“Upacara ngaben kami lakukan secara periodik 5 tahun sekali. Warga kami sangat sedikit sehingga melalui upacara ini mengedepankan rasa gotong royong dan saling memiliki tetap di jaga. “Dengan begitu rasa menyama braya berjalan dengan serasi. Kegiatan ini akan mampu mempererat ikatan sosial ekonomi krama ditengah kerasny arus globalisasi yang menggerus budaya,” ujar Darmanta yang sering disapa Dek Kadoel.

Informasi yang dihimpun dari panitia, upacara kali ini diikuti sebanyak 4 sawa, ngelangkir dan nglungah serta warak krurunan yang khusus dilakukan untuk bayi yang meninggal saat lahir sebanyak 8 orang.

I Putu Bonuz Sudiana yang juga tokoh seni asal desa setempat meniali tradisi ini sangat luar biasa dan memutuskan untuk mengundang para fotografer untuk mengabadikan dalam bidikan kamera. Sebanyak 16 fotografer profesional ikut ambil bagian.

“Ini tradisi yang luar biasa sehingga saya mengundang komunitas fotografer yakni Perhimpunan Fotografer Bali (PFB) untuk membidik setiap momen untuk diabadikan. Ini juga salah satu langkah promosi secara tidak langsung. Sulit mencari moment seperti ini. Bidikan mata lensa para fotografer sangat arsistik,” kata Bonuz yang juga seniman lukis abstrak ini.

“Informasi ini saya share lewat social media sebelumnya. Ini permintaan teman-teman fotografer. Sangat luar biasa antusias warga dan fofografer berpacu dengan lensa mengabadikan. Mudah-mudahan tradisi ini menjadi agenda pariwisata,” imbuhnya.

A.A Gede Dhama Putra, Bendahara Perhimpunan Fotografer Bali keunikan budaya yang ada. Menurutnya, momen seperti ini jarang dijumpai di Bali daratan.

“Sangat eksotik budayanya. Salah satu ngarak bade di laut. Tidak hanya dikenal penghasil rumput laut dan wisata spiritual saja. tradisinya sangat unik. Moment ini sangat jarang dijumpai di Bali. Komunitas ini sengaja mencari budaya unik di Bali, sangat jarang di-expose baik media maupun lensa fotografer,” tuturnya.

Salah satu fotografer yang juga berasal dari Nusa Penida, Wayan Mardana mengatakan perlu explorasi lebih untuk menangkap setiap momen mengingat prosesinya di laut. “Sangat jarang prosesi seperti ini tetapi sangat menyenangkan bisa mengabadikan,” ucap Mardana

Reporter : Santana Ja Dewa

Editor: I Gede Sumadi