Tokoh: I Wayan Suarnajaya, Putra Nusa yang Kini Menjabat Pembantu Rektor IV Undiksha

SINGARAJA, NUSA PENIDA POST

Disadari atau tidak, Nusa Penida sudah banyak melahirkan putra daerah dengan talenta luar biasa. Keterbatasan yang dimiliki tidak lantas membuatnya pasrah tetapi tantangan itu justru membentuk mereka tumbuh istimewa. Perjalanan panjang dan penuh lika-liku kini berujung manis, banyak sekali putra daerah yang kini menduduki posisi strategis baik di birokrasi pemerintahan, perusahaan bergengsi hingga bidang pendidikan. Kita tentu masih ingat sosok almarhum Prof. Ketut Kinog yang menjadi pendobrak sekaligus membalikkan stigma orang pulau yang selalu dianggap sebelah mata. Seolah menjadi pembuktian berikutnya alias jengah, putra terbaik daerah pun untuk pertama kalinya berhasil melaju menjadi bupati walau sebelumnya hanya dinilai guyonan. Kini bertambah lagi kebanggan tersebut dengan terpilihnya Drs. I Wayan Suarnajaya.,M.A.,Ph.D menjadi Pembantu Rektor IV Univesitas Pendidikan Ganesha masa bakti 2015 hingga 2019.

Pemilihan Pembantu Rektor Undiksah periode 2014 - 2019. Paling kanan, I Wayan Suarnajaya terpilih menjadi Pembantu Rektor IV

Pemilihan Pembantu Rektor Undiksah periode 2015 – 2019. Paling kanan, I Wayan Suarnajaya terpilih menjadi Pembantu Rektor IV

Ditengah padatnya rutinitas, I Wayan Suarnajaya masih menyempatkan diri diwawancari beberapa kali, Selasa, (30/6) dan Rabu (1/7) lalu. Ia pun dengan lugas menceritakan titian jalan panjang yang dilalui hingga berhasil duduk di posisi saat ini. Tidak ada jalan mulus tetapi jalan terjal juga tidak membuatnya terjungkal. Tidak ada yang menyangka, pria tambun kelahiran Nusa Penida, 31 Desember 1956 yang dulunya bocah kecil ‘pengangon godel’ dan pemungut kelapa ini bisa menapaki jenjang karir seperti sekarang. Wayan pun tak ragu menceritakan masa kecil dan pahitnya perjuangan menempuh pendidikan dari pulau seberang.

Wayan kecil yang kini biasa dipanggil Guru Tulu di kampung asalnya Banjar Sental Kawan, Desa Ped mulai menempuh pendidikan dasar di SD N 1 Ped tahun 1963 dan lulus tahun 1969. Ia pun harus rela jalan kaki hampir 4 kilometer pulang pergi. Kerasnya kehidupan saat itu membuat hampir seluruh teman sekelasnya berhenti di tengah jalan dan hanya berhasil meluluskan 5 orang diangkatannya. Ia pun mengaku pernah meminta berhenti sekolah dari orang tuanya dengan alasan membantu memelihara sapi.

“Saya sempat bilang ke orang tua untuk berhenti sekolah karena teman-teman saya banyak yang berhenti dan memilih membantu keluarga memelihara sapi tetapi orang tua menolak. Saya malah disuruh sekolah terus,” kenang Wayan yang jebolan Ph.D dari La Trobe University, Australia.

Begitu lulus sekolah dasar tahun 1969, Wayan kembali menjalani ujian berat dengan masuk ke SMP Widhiyasa yang berada jauh dari kampunnya, tepatnya di daerah Mentigi. Jarak sekolah yang hampir 8 kilometer harus dilalui setiap hari. Berat memang tetapi disinilah militansi dan nyali diuji. Ia pun menuturkan baru 3 bulan menjelang pelulusan, orang tua menitipkannya di salah satu rumah kenalan. Tahun 1972, ia lulus dari SMP Widhiyasa, ujian menempuh pendidikan lanjutan pun menantinya, kali ini ia harus rela menyeberang ke Klungkung daratan dan menempuh pendidikan di SMA Negeri Klungkung. Selama belajar, ia tinggal indekos dengan rekannya yang berasal dari Kutampi, almarhum I Wayan Rusna. Berbekal seadanya, tak jarang biji kacang merah, lahan (red; jagung yang ditumbuk) dan gangsuran (red; singkong parut yang dikeringkan) ikut dibawa sebagai bekal berhemat.

“Hidup itu tidak gampang, penuh perjuangan. Orang tua selalu mengajarkan hidup sederhana, caranya hidup selalu dirinci dengan ketat dalam setiap bulan. Something is better than nothing. Kesederhanaan hidup akan membawa kedamaian,” urai ayah dari Gede Sony Wirawan dan Kadek Doty Dwijayanti ini.

Tahun 1975, mantan Pembantu Dekan II Fakutas Bahasa dan Seni, Undiksha ini lulus dari SMA Negeri Klungkung. Banyak teman sekelas yang mengajaknya untuk kuliah di pertanian tetapi dengan pertimbangan biaya, ia memilih untuk hijrah ke Bumi Panji Sakti, Singaraja menekuni bidang pendidikan. Diet ketat demi bisa menjalani pendidikan menjadi di negeri orang sudah menjadi kewajiban. Biaya hidup yang dijatah dan jarak yang jauh membuatnya menjadi super irit, salah kelola bisa berarti pulang tanpa gelar alias sia-sia belaka. Proses pendidikannya pun tidak langsung sarjana tetapi berjenjang mengingat terbatas ekonomi keluarga.

“Harus pintar ngatur uang, kalau minta pulang juga pasti tidak ada. Yang ada paling dimarahin,”  ujar suami dari Ni Ketut Sukerti sambil tersenyum mengingat.

Selesai pendidikan di tingkat satu, ia beranjak ke tingkat dua namun tahun 1978, sakit menderanya dan harus pulang kampung lebih awal. Selama di kampung, ia pun sempat mengajar di SMP N 1 Nusa Penida di awal berdiri. Setelah sembuh pun ada keengganan untuk kembali ke Singaraja dengan pertimbangan kondisi orang tua namun jawaban berbeda kembali dikemukan orang tuanya, Wayan harus kembali melakoni pendidikan ke tingkat dua yang kelak mengantarkannya jadi orang istimewa. Tahun 1979, Wayan kembali ikut tes untuk masuk Diploma 1 Bahasa Inggris FKIP Singaraja dan lulus di tahun berikutnya. Tidak berhenti disana, ia melanjutkan lagi hingga meraih gelar B.A tahun 1981 dan sarjana tahun 1984.

“Proses itu terkadang pahit bahkan menguras hingga batas akhir tetapi jika ada kemauan dan ketekunan, hasilnya pasti manis,” tambahnya.

Jenjang karir mulai terbuka ketika 1985, Wayan diangkat menjadi dosen di Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris. Kegigihan itu semakin terasa ketika mendapat tugas belajar pertama di Negeri Kangguru, tepatnya di Sydney University tahun 1988. Tiga tahun berselang, Wayan kembali ada kesempatan tugas belajar untuk program masternya hingga 1992. Tak tanggung-tanggung, melalu serangkain ajuan dan proposal, I Wayan Suarnajaya mendapat program beasiswa Program Doktoral (Ph.D) di La Trobe University, Melbourne, Australia dari tahun1997 sampai 2001.

Selama mengajar, sederet posisi prestisius sempat dijabatnya mulai Sekretaris Jurusan, Pembantu Dekan II selama dua periode 2002 – 2006 dan 2007-2011 bahkan menjadi Kepala Program Studi S2 Pendidikan Bahasa Inggris. Kini hanya tinggal menghitung hari pelantikan menjadi Pembantu Rektor IV yang dijadwalkan pertengahan Juli 2015. Ini setidaknya memberi gambaran jelas bagaimana memaknai perjuangan hidup dalam balutan kesederhaan. Keterbatasan itu bukan batas. Tidak ada raihan yang mulus layaknya jalan tol, berliku memang tetapi justru membuatnya lebih mawas dengan tikungan kehidupan yang bisa menjebak.

Saya percaya sumber daya manusia Nusa Penida tidak kalah dengan daerah lain, hanya perlu digali dan diwadahi dalam bentuk fasilitas pendidikan. Niscaya talenta-talenta itu akan tetap muncul,” tutupnya seraya berpesan.

Reporter: Wayan Sukadana & I Gede Sumadi

Editor: I Gede Sumadi