Warning: Use of undefined constant DISALLOW_FILE_EDIT - assumed 'DISALLOW_FILE_EDIT' (this will throw an Error in a future version of PHP) in /home/npm2017/public_html/wp-config.php on line 36
Nusa Penida Media | Tokoh: I Wayan Suarbawa, Aktivis Lingkungan yang Diganjar Penghargaan ‘The Guardian of Nature’
 

Tokoh: I Wayan Suarbawa, Aktivis Lingkungan yang Diganjar Penghargaan ‘The Guardian of Nature’

LEMBONGAN, NUSA PENIDA POST

Lembongan adalah sebuah pulau kecil yang berada di sebelah selatan Bali berdampingan dengan Pulau Nusa Penida dan Nusa Ceningan. Pulau yang kini terkenal sebagai destinasi wisata dunia sangat tergantung dari lingkungan. Wilayah yang kecil dan sebagian berada di posisi rendah hampir sejajar dengan permukaan laut sangat rentan terkena bencana. Tidak banyak sumber yang bisa dikelola sebelum masuknya komoditas rumput laut dan pariwisata seperti sekarang. Semua hanya mengandalkan potensi alam namun tidak banyak yang tahu bagaiman menjaga agar lingkungan tetap sustainable dan memberi manfaat dalam jangka panjang termasuk menghindarkanny dari bencana.

Aktivis lingkungan, I Wayan Suarbawa menunjukkan penghargaan yang diraih bidang konservasi lingkungan

Aktivis lingkungan, I Wayan Suarbawa menunjukkan penghargaan yang diraih bidang konservasi lingkungan

Hingga muncul seorang aktivis lingkungan yang lahir dan dibesarkan oleh alam itu sendiri. I Wayan Suarbawa, lahir dan besar, dekat serta akrab dengan laut. Lelaki paruh baya ini lahir di Lembongan, 43 tahun silam, tepatnya 11 Maret 1972. Ikatan emosional yang tumbuh sejak kecil tentang kehidupan laut  membuatnya begitu lekat dengan lingkungan laut bahkan dalam akun media sosialnya, Suarbawa memakai nama Mali-mali yang identik dengan biota laut.

Berdasarkan hasil penelusuran rekam jejak pendidikan, Suarbawa tercatat menyelesaikan pendidikan dasar di SD Negeri 1 Lembongan tahun 1979 layaknya anak kampung kebanyakan. Pendidikanny apun berlanjut di SMP Kertha Wisata Lembongan hingga lulus 1985. Ketiadaan sekolah setingkat SMA di wilayahnya membuat Suarbawa muda harus hengkang ke Klungkung guna melanjutkan mimpi dan berlabuh di SMA Negeri 1 Semarapura dan tamat tahun 1991. Secara beruntun, aktivis lingkungan ini memasuki jenjang pendidikan tinggi, yakni di Fakultas Sastra Universitas Udayana hingga meraih gelar di tahun 1996.

Meski sudah mendapat gelar sarjana, cucu dari maestro Goa Gala-gala ini tetap ingin memperjuangkan mimpinya untuk menjadi pegiat lingkungan. Mengabdikan diri pada alam yang sudah memberinya kehidupan. Berbekal sedikit pengalaman di bangku kuliah, Suarbawa pun aktif di beberapa organisasi pelestarian terumbu karang, mangrove dan satwa laut. Di bawah payung TNC, ia aktif memberi edukasi pelestarian mangrove dan terumbu karang. Gerakan Hutan dengan 1 juta pohon (Gerhan) juga dilakoni untuk melestarikan dan menghijaukan Nusa Penida.

Sosoknya sangat mudah dikenali dari perawakan tambunnya. Karakter low profile membuat Suarbawa mudah diterima di berbagai kalangan dan akrab bergaul. Keaktifan di berbagai sisi membawa Suarbawa terpilih menjadi Kader Pemberdayaan Masyarakat Desa Lembongan dari tahun 2003 sampai dengan 2006.

Secara berturut-turut, Ia terpilih dari 2006 sampai 2008 menjadi fasilitator Kecamatan Manggis pada Program Pengembangan Kecamatan. Kemudian pindah tugas menjadi fasilitator KecamatanPNPM MPd di Gianyar dan Kecamatan Nusa Penida tahun 2009 hingga 2014. Pengalaman menjadi fasilitator kecamatan setidaknya memperkaya pemahaman tentang karakter dan teknik pemberdayaan masyarakat.

Ditengah padatnya aktivitas pelestarian lingkungan dan pemberdayaan masyarakat, I Wayan Suarbawa yang tamatan sarjana tidak malu dan sungkan menjadi petani rumput laut. Ia telah terbiasa membudidayakan rumput laut sedari kecil. Mulai mengikat, membudidayakan sampai siap dijual. Untuk meningkatkan nilai jual, Suarbawa dan kelompok tani yang dilatihnya tidak kehabisan akal. Hasil panen rumput kini diolah menjadi aneka produk kreatif yang bisa dinikmati adalah dalam bentuk krupuk, dodol, minuman maupun jajanan. Produk olahan ini bisa dijumpai ketika berkunjung ke objek wisata Goa Gala-gala.

Kini I Wayan Suarbawa aktif sebagai anggota Coral Triangel Center (CTC), sebuah lembaga swadaya masyarakat yang konsentrasi dalam konservasi laut dna terumbu karang. Dalam keseharian, tugas pokoknya adalah menjadi konsultan UPT. Kawasan Konservasi Kelautan Nusa Penida untuk menjaga, menata, mengelola kawasan perairan laut yang telah ditetapkan oleh Menteri Kelautan pada 9 Juni 2014 lalu.

Bersama Pokmaswas, CTC, Polairud berupaya melindungi laut Nusa Penida dari ancaman kerusakan terumbu karang, penangkapan ikan yang menggunakan bahan peledak dan kerusakan mangrove. Tidak mau bergerak sendiri, Suarbawa aktif mengajak siswa dan wisatawan menanam mangrove serta terumbu karang di sejumlah titik perairan. Bahkan dalam beberap kesempatan, Suarbawa muncul di siaran televisi internasional yang khusus mengangkat isu lingkungan

Kepedulian dan ketekunannya berujung manis dan diganjar berbagai penghargaan. Sebut saja penghargaan Ketut Nadha Nugraha tahun 2005 yang menobatkannya sebagai petani rumput laut inovative. Tahun 2012, ia juga berhasil menyabet penghargaan dari TNC sebagai Guardians of Nature. Penghargaan juga kembali diterima yakni Coastal Award 2014 kategori kelompok masyarakat atas kepedulian dan komitmen dalam pengelolaan wilayah pesisir laut dan pulau pulau kecil dari Kementerian Kelautan dan Perikanan. Penghargaan-penghargaan ini semakin mengukuhkan I Wayan Suarbawa sebagai pemberdaya masyarakat sekaligus aktivis pelestari konservasi laut yang gigih. Menurutnya, pemberdayaan dan upaya konservasi ibarat dua sisi mata uang logam yang sebenarnnya sama tetapi muka yang berbeda.

“Konservasi dan pemberdayaan seperti dua sisi mata uang logam. Sama saja, walau kelihatannya berbeda. Hidup bekerja dengan hati itu sangat penting agar tidak terasa terbebani. Karena pariwisata tanpa konservasi, pelestarian tanpa melalui edukasi tidak akan memberikan dampak positif secara jangka panjang,” terang Suarbawa beberapa waktu lalu.

“Nusa Penida khususnya Lembongan sebagai tujuan wisata harus dilestarikan. Baik laut maupun lingkungannya sehingga bisa menjadi pariwisata berkelanjutan. Penjagaan laut, menjaga kebersihan dan upaya pelestarian lainnya adalah langkah konkret yang harus kita lakukan secara bersama-sama,” imbuhnya.

Penulis: Dana

Editor: I Gede Sumadi