Dilematis, Pemasangan Kabel Bawah Laut PLN Rusak Terumbu Karang Nusa Penida

Nusa Penida Post Vol 14

Kita semua tahu bahwa listrik adalah kebutuhan dasar. Listrik dikatakan sebagai kebutuhan dasar karena semua peralatan yang terkait dengan kehidupan seharihari menggunakan energi listrik. Lampu, Tv, pompa, charge handphone, rice cooker, komputer dan hampir semua peralatan menggunakan listrik. Tidak ada yang menyangsikan kegunaan listrik dalam kehidupan sehari-hari.

  • Dampak Pemasangan Kabel Bawah Laut terhadap Ekosistem Terumbu Karang
  • Terumbu Karang Nusa Penida dalam the Global Coral Triangle
  • Langkah Konkret untuk meminimalisir Kerusakan

Selengkapnya bisa di baca disini : Nusa Penida Post Vol 14

Terinspirasi Jembatan Pasukan Kera Ramayana, Masyarakat Ceningan-Lembongan Sindir Pemerintah

Di mana ada kemauan di sana ada jalan. Sepertinya kata-kata bijak itu yang semakin terbukti dengan  perbaikan Jembatan Kuning (The Golden Bridge) oleh masyarakat Ceningan yang dilakukan secara swadaya. Usia jembatan yang sudah uzur dan minimnya perawatan membuat jembatan rentan mengalami kerusakan. Dibeberapa bagian juga mengalami keropos, terutama tali sling-nya. Beratnya beban dan adanya tekanan Badai Rusty disertai angin kencang yang terjadi akhir-akhir ini telah mempercepat Jembatan Kuning ini jebol. hasil jalur transportasi utama antara Ceningan dengan Pulau Lembongan yang telah dibangun tahun 1992 silam itu tidak bisa difungsikan lagi.

Akses masyarakat yang sedianya memanfaatkan jembatan ini pun menjadi terhambat. Jembatan Kuning yang telah berumur 21 tahun ini dengan panjang sekitar 100 meter dan lebar 1 meter seolah-olah lelah berharap untuk diperbaiki dan berujung petaka. The Golden Bridge yang menjadi pijakan warga Ceningan ambrol tak berdaya menghujam dasar laut. Anak-anak sekolah, warga yang bekerja demikian pula para wisatawan yang ingin ke Nusa Ceningan harus menggunakan sampan untuk menyeberang. Padahal setiap hari, jembatan menyeberangkan ratusan kendaraan dari Ceningan ke Lembongan. Ironis memang, ditengah kemajuan pariwisata dan ribuan gemercing dollar yang disumbangkan untuk PAD Klungkung, ternyata pembangunan sama sekali tidak sinkron. Masyarakat pun mengeluhkan lambannya tindakan pemerintah untuk memperbaiki jembatan. Solusi jangka pendek berupa transportasi sampan pun tidak tersedia terutama jam-jam tertentu. “Kalau pada jam 11 malam di mana masyarakat yang baru pulang kerja dari Lembongan tidak bisa balik menggunakan sampan karena memang sudah tidak ada yang menyewakan angkutan sampan jam segitu” kata Sumiarta salah satu tokoh muda Ceningan. Lebih lanjut Sumiarta yang akrab dipanggil Midun ini mengatakan “Karena hal tersebut kami berinisiatif untuk memperbaiki jembatan yang ambrol ini secara swadaya. Lagipula apabila menunggu bantuan pemerintah akan  terlalu lama karena seperti kita tahu birokrasinya berbelitbelit,” tuturnya lirih. Secara spontan masyarakat Ceningan kemudian berembug dan hasilnya diperoleh keputusan untuk memperbaiki dengan menggunakan bambu walaupun pada awalnya dicoba memperbaiki tali slingnya. “Setelah tali sling-nya dicek juga rapuh, kami mengambil keputusan untuk menggunakan bambu yang  dirakit sedemikian rupa sehingga Jembatan Kuning ini bisa disambung dan berfungsi kembali,” tegas Sumiarta. Walaupun memang hanya untuk pejalan kaki saja tidak seperti biasa. Ketika ditanya tentang perhatian pemerintah tentang jembatan ini, Midun mengatakan bahwa akan ada bantuan dari pemerintah berupa perbaikan yang  sifatnya sementara atau bukan perbaikan permanen sebesar Rp. 600 Juta dan itu ungkin realisasinya baru bulan Juni atau Juli 2013.  Tetapi setelah Nusa Penida Post mengkonfirmasi ke Kepala Dinas PU Kecamatan Nusa Penida Drs. I Nyoman Suarta mengatakan dirinya belum mendapat berita resmi baik dari Pemerintah Kabupaten Klungkung maupun Provinsi Bali terkait bantuan 600 juta ini. Senada yang disampaikan Sumiarta, Jero Mangku Mirah yang dikonfirmasi Nusa Penida Post tentang Jembatan Kuning ini mengatakan masyarakat Ceningan tidak cengeng dengan merengek-rengek ke Pemerintah. Buktinya, “Kami mampu membangun jembatan secara swadaya yang  berbahan dasar yang ada di sekitar kami yaitu bambu, bahkan kami berencana membangun jembatan Ceningan Lembongan yang permanen bertulangkan bambu,” kata Mangku Mirah dengan lantang. Kalau ini bisa dilakukan seharusnya menjadi sindiran yang halus ke pemerintah sehingga mereka bisa berpikir lebih jernih bahwa selama ini pemerintah tidak punya apa-apa, semua yang dimiliki pemerintah adalah milik rakyat sehingga seharusnya dikembalikan ke rakyat. “Kita hanya menuntut aspek keadilan bahwa pendapatan daerah yang ada juga disumbangkan oleh Ceningan dan Lembongan,” pungkas Mangku Mirah dengan lugas. Jembatan yang diperbaiki dengan menggunakan bambu oleh masyarakat Ceningan ini katanya terinspirasi oleh jembatan yang dibangun oleh Pasukan Kera dalam cerita Ramayana. Masyarakat Ceningan pun berharap agar jembatan permanen yang lebih baik untuk mendukung mobilitas warga bisa segera terealisasi tanpa harus menunggu janji yang tak pasti. (Bud) Nusa Penida Post Vol 14