Tenun Cepuk, Lestarikan Tradisi Dulang Rejeki

Ni Ketut Korse, salah satu penenun yang masih menggunakan peralatan tradisional untuk mempertahankan originalitas tenun cepuk.

Untuk download nusa penida post vol 24 klik gambar di atas!!!

DESA TANGLAD
Budaya adalah hasil kreatifitas yang menjadi identitas maju mundurnya sebuah peradaban. Ia muncul, tumbuh dan berkembang dari berbagai unsur yang cukup kompleks sesuai dengan tuntutan pemangkunya. Banyak juga yang menganggap bahwa budaya adalah warisan tanpa terkecuali kerajinan kain tenun yang ada di Banjar Tanglad, Nusa Penida. Masyarakat masih setia mempertahankan tradisi sebagai pengrajin tenun yang merupakan warisan leluhur. Secara luas kerajinan ini dikenal dengan tenun cepuk.

Ni Ketut Korse (49) salah satu penenun saput cepuk menceritakan bahwa tidak ada yang tahu persis kapan kerajinan ini dimulai. “Nak nunun to be uling pidan, tiang tare nawang nyen kaden paling malunye, dapetang sube ade” (red; kerajinan tenun cepuk ini sudah ada sejak dulu, saya tidak tahu pasti siapa yang memulainya karena setahu saya sudah ada seperti ini), tutur Ketut sambil memperlihatkan hasil tenunannya (10/3). Ia pun menambahkan bahwa dulunya hasil tenun cepuk hanya untuk penggunaan pribadi dan keluarga. Kain cepuk hanya dikenakan pada saat tertentu, terutama upacara adat dan agama. Tidak dijual bebas seperti sekarang ini.

Hasil Maha Karya
Proses pembuatan kain cepuk cukup panjang karena memakai peralatan sederhana yang masih tradisional. Teknik pembuatannya pun cukup rumit yang memerlukan ketelitian dan keahlian tersendiri. Bahan-bahan yang digunakan masih memanfaatkan sumber alam, baik itu proses pewarnaannya. Tahap awal adalah mepesen, yaitu memisahkan kapas dari bijinya. Selanjutnya menggeburkan kapas yang telah dipisahkan disebut nyetet. Proses ketiga adalah ngantih yang merupakan kegiatan pemintalan kapas menjadi benang. Sungguh proses yang melelahkan tetapi mereka setia melakoninya.

Setelah jadi, benang ditempatkan di bambu ulakan atau ngiha. Untuk memberi warna, benang kemudian di-celub dengan pewarna alami dari ekstrak kulit kayu. Benang yang sudah diwarnai, digulung sesuai corak warna yang diinginkan melalui proses nganyinin. Untuk memastikan kualitasnya, benang pun dicek kembali dengan teknik nyahsah, lalu digulung pada papan selebar 15 cm, kemudian mulailah proses menenun. Lagi-lagi, butuh waktu lama untuk menghasilkan lembaran kain. Kain cepuk seukuran 2 meter x 1,5 meter, pengrajin memerlukan waktu 7 hari karena mereka juga harus melakukan aktifitas lain. Sebuah pengorbanan besar tetapi menghasilkan maha karya luar biasa yang menjadi kebanggaan tersendiri.

Ni Ketut Korse, salah satu penenun yang masih menggunakan peralatan tradisional untuk mempertahankan originalitas tenun cepuk.

Ni Ketut Korse, salah satu penenun yang masih menggunakan peralatan tradisional untuk mempertahankan originalitas tenun cepuk.

Kain tenun memiliki beragam motif yang didominasi motif alam. Warna kain pun sebagian besar merah, kuning dan hitam. Hal ini karena sumber pewarna alami yang didapat dari alam. Berbagai motif yang dipakai antara lain tembing, matan titiran, panggeh taji, burung, pohon dan motif barong yang diadopsi dari unsur tari calonarang. Selain kain untuk saput dan kamben, pengrajin cepuk juga membuat baju yang dikenal tenun ginceran.

Penenun lain, Ni Nyoman Narsi (46), mengakui bahwa ia sudah belajar menenun sejak berumur 15 tahun. “Aluh-aluh keweh nunun te. Uling cenik tiang sube melajah nunun, kanti jani be ngelah panak telu” (red; Gampang-gampang susah untuk bisa menenun. Saya belajar dari kecil sampai sekarang sudah punya tiga anak), papar Nyoman (10/3). Menurutnya, untuk mampu menghasilkan kain tenun memang tidak mudah, tidak hanya rumitnya proses yang dilalui tetapi diperlukan kesabaran dan keterampilan.

Saat ini, kerajinan tenun sedang digandrungi oleh masyarakat luas bahkan bisa dikatakan naik daun. Keunikan motif dan kealamian bahan serta proses pembuatan menjadi daya tarik tersendiri. Selain melestarikan tradisi yang sudah ada, masyarakat pengrajin juga bisa mendulang rejeki tambahan. Satu lembar kain yang berukuran 2×2 meter dihargai ± Rp. 200.000,- cukup menjanjikan untuk terus digeluti. Namun sangat disayangkan minimnya perhatian pihak terkait untuk mendukung keberlangsungan tenun cepuk. Ini dibuktikan dengan sistem pemasaran masih manual dari mulut ke mulut. Para stakeholder harus mau turun tangan dalam hal penyediaan modal dan mengakomodasi prasarana lainnya, termasuk mencarikan pangsa pasar yang ideal bahkan kalau bisa menembus pasar mancanegara. (Gun)