Tape, Bisnis Kreatif yang Semakin Dilirik

koran29

Untuk Download Nusa Penida Post Vol 29 Klik gambar di atas!

SENTAL KANGIN, NUSA PENIDA POST
Tape merupakan olahan sederhana dengan memanfaatkan fermentasi mikroorganisme yang bersifat unaerob. Panganan ringan ini layak untuk digeluti, disamping proses pembuatannya yang cukup sederhana, peluang pasarnya sangat menjanjikan. 

Ada berbagai macam bahan baku tape, mulai dari beras, beras ketan dan singkong. Tape dibuat melalui proses peragian (fermentasi) dari berbagai mikroorganisme. Di Bali, beberapa minuman pun dibuat dari hasil fermentasi, contohnya adalah brem yang dibuat dari bahan beras ketan. Tape bisa dikatakan sebagai kudapan eksklusif karena tidak diproduksi setiap Hari. Masyarakat hanya membuat tape untuk kebutuhan upacara tertentu. Tape juga digunakan sebagai bahan untuk membuat jajan tradisional seperti jaje apem. Langkanya produksi tape, ternyata dilirik sebagai salah satu industri rumahan dengan prospek yang lumayan.

Hal ini diakui oleh Ni Nyoman Warsi (60) warga Sental Kangin, Desa Ped, Nusa Penida kepada Tim Nusa Penida Post yang menyambangi tempat produksinya, Sabtu, 29/6/2013. Menurutnya, usaha pengolahan tape sudah dirintis sejak 8 tahun lalu. Keterampilan membuat tape ia dapatkan dari pelatihan PKK. “Meh ada kutus tahun tiang sampun ngadep tape. Simalune tiang undange jak PKK tondene milu pelatihan, trus jalanin tiang kanti mangkin(red; Sudah sekitar 8 tahun saya jualan tape. Awalnya, saya diundang untuk mengikuti pelatihan oleh kelompok PKK, akhirnya saya terus menggeluti usaha ini), tutur Nyoman yang dipanggil Dadong Ayu.

dagang tahu

Ni Ketut Tini (45) salah satu kerabat yang membantu Ni Nyoman Warsi mengemas tape, Sabtu, 29/6/2013

Secara kimiawi, proses fermentasi singkong menjadi tape adalah glukosa (C6H12O6) yang merupakan gula paling sederhana, melalui fermentasi akan menghasilkan etanol (2C2H5OH). Penjabaran reaksinya meliputi C6H12O6 + 2C2H5OH + 2CO2 + 2 ATP. Pembuatan tape memanfaatkan bioteknologi konvensional melalui cara-cara sederhana. Tahap awal, singkong dibersihkan lalu dipotong sesuai keinginan, kemudian dikukus setengah matang. Singkong kemudian didinginkan dan ditaburi ragi secukupnya. Selanjutnya, singkong ditempatkan pada wadah khusus kedap udara kurang lebih selama 2 hari. Proses berikutnya, ragi (Saccharomyces cereviceae) mengeluarkan enzim yang dapat memecah karbohidrat pada singkong menjadi gula yang lebih sederhana. Hal itulah menjadi penyebab, tape terasa manis meskipun tanpa diberi gula. “Yen sube biasa nyemake, aluh ngae tape te(red; kalau sudah terbiasa, membuat tape itu mudah), paparnya sembari mengemas tape ke dalam plastik.

Untuk produksi, Nyoman biasanya dibantu oleh kerabatnya sehingga hasil produksi bisa lebih banyak. Kebutuhan bahan baku tape diperoleh dari kebun sendiri dan terkadang didatangkan dari desa tetangga. Di rompok (red; gubuk kecil) yang tepat berada depan pompa bensin, Nyoman melakukan produksi tape singkong. Usaha kecil ini pula yang berhasil membantu biaya sekolah cucunya sampai jadi bidan. “Ulian medagang tape, tiang nyidang nulungin cucu masuk” (red; Dari berjualan tape, saya bisa menyekolahkan cucu), ungkap Nyoman sambil tersenyum.

Nyoman tidak mematok harga terlalu mahal. Ia menjual tape singkongnya dengan harga Rp 3.000 rupiah per bungkus. Dalam satu hari ia menjual 60 sampai 80 bungkus dengan rata-rata penghasilan Rp 200.000 per hari. Penjualannya pun tidak rumit, ia hanya mengirim tape ke langganannya di Pasar Mentigi dan Toya Pakeh, serta dijual langsung di depan rompok. Bisa dihitung, omzet bulanan mencapai Rp 6.000.000. Usaha ini terlihat kecil namun pendapatannya tergolong besar. Pembelinya juga beragam, tidak hanya masyarakat lokal, para pemedek yang kebetulan lewat pun sering memborong tapenya. (I Putu Gunawan)