Warning: Use of undefined constant DISALLOW_FILE_EDIT - assumed 'DISALLOW_FILE_EDIT' (this will throw an Error in a future version of PHP) in /home/npm2017/public_html/wp-config.php on line 36
Nusa Penida Media | Tak Terima Dimutasi, Oknum Guru ‘Bully’ Anak Bupati
 

Tak Terima Dimutasi, Oknum Guru ‘Bully’ Anak Bupati

SEMARAPURA, NUSA PENIDA POST

Mutasi PNS yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Klungkung menuai pro dan kontra. Tak tanggung-tanggung, sejumlah guru dari SMA Negeri ternama di Kabupaten Klungkung yang dimutasi tega mem-bully anak Bupati Klungkung, Putu Maetri Megantari. Akibat tekanan psikologis, Megantari yang merupakan siswa kelas XII ini sempat pingsan dan terpaksa dilarikan ke RSUD Klungkung (30/9). Sebelumnya, cibiran ketidakpuasaan terhadap program mutasi juga menerpa Megantari lewat media sosial. Tindakan yang dilakukan oknum guru ini sangat disayangkan sejumlah pihak karena dinilai tidak etis dan tidak menunjukkan keprofesional seorang pendidik. Mental guru pengajar di Kabupaten Klungkung pun dipertanyakan dan dianggap memalukan. Saking  kesalnya, oknum guru juga ditengarai sempat menyindir disertai ancaman.

“Jangan cuma dia saja yang bisa pindahkan orang. Saya juga bisa pindahkan orang bahkan untuk tetap ada di kelas ini sampai tahun depan,” kata salah seorang guru menyindir Megantari (Anak Bupati), yang ditirukan oleh salah seorang rekan sekelas Megantari, sebagaimana dikutip dari merdeka.com, Jumat (3/10).

Guru yang sedang mengikuti upacara.

Guru yang sedang mengikuti upacara.

Secara konstitusi, mutasi pegawai negeri sipil sudah diatur dalam Undang-undang Nomor 8 Tahun 1974 jo Undang-undang nomor 13 tahun 1999, PP 9/2003 tentang wewenang pengangkatan, pemindahan dan pemberhentian PNS serta SK Kepala BKN nomor  13 tahun 2003 tentang petunjuk teknis pelaksanaan PP nomor 9 tahun 2003. Mutasi pada dasarnya berfungsi sebagai pengembangan pegawai dan penyegaran untuk meningkatkan efisiensi dan efektifitas kerja dalam organisasi yang bersangkutan. Mutasi menjadi  tindak lanjut dari penilaian prestasi kerja para pegawai. Dari penilaian prestasi kerja akan diketahui kecakapan seorang pegawai dalam menyelesaikan pekerjaan yang menjadi tanggungjawabnya.

Nyatanya, program mutasi yang dilakukan justru berujung pada peristiwa memalukan dengan tindakan tak pantas pada anak didik. Menurut Ary Wira Andika, dosen Kopertis Wilayah VIII Bali-Nusra memaparkan bahwa ada beberapa alasan penolakan terhadap mutasi. Penolakan ini dilakukan dengan beragam alasan antara lain budaya malas atau enggan untuk belajar kembali, situasi yang kurang diinginkan seperti penurunan tingkat keterampilan, serta kerugian ekonomi yang ditimbulkan oleh perubahan atau jaringan bisnis yang sudah dibangun. Faktor lain yang turut berperan adalah faktor psikologis berdasarkan emosi dan sikap sentimen. Hal ini dipicu kekhawatiran akan sesuatu yang tidak diketahui sebelumnya, rendahnya toleransi terhadap perubahan, tidak menyukai pimpinan atau agen perubahan yang lain dan cenderung mempertahanlan rezim lama. Disisi lain, penolakan juga terjadi karena dianggap bertentangan dengan kepentingan pribadi dan keinginan mempertahankan zona nyaman yang sedang dijalani.

“Pada prinsipnya, ketika mereka dibawa keluar zona nyaman mereka akan berontak. Kita bisa lihat pegawai yang berada pada posisi ‘lahan basah’ pasti menolak dipindah. Mutasi itu perlu sebagai penyegaran dan mengurangi potensi kecurangan. Coba saja pejabat publik menjabat lebih dari 10 tahun pada posisi yang sama maka potensi untuk curang itu ada sementara dengan mutasi potensi itu minimal bisa dikurangi,” jelasnya Jumat  siang (3/10).

“Sekarang sudah ada undang-undang baru No 4 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara (ASN) dimana pemerintah juga mengancam akan memecat PNS berkinerja buruk karena tidak sedikit PNS yang hanya ongkang-ongkang kaki dan makan gaji buta terutama mereka yang latar belakang nombok untuk jadi PNS,” imbuhnya.

Bupati yang dikonfirmasi kemarin sangat menyayangkan tindakan bully oknum guru kepada anak didiknya sendiri. Dalam beberapa kesempatan Suwirta juga menegaskan bahwa ia bertanggungjawab penuh terhadap pelaksanaan mutasi namun anaknya yang menjadi sasaran.

“Mutasi itu tanggung jawab saya sepenuhnya,” tegasnya. Terlepas dari kekurangan dalam pelaksanaan mutasi, pihaknya mengakui tindakan bully tetap tidak dibenarkan.

Kadisdikpora Klungkung, Nyoman Mudirta mengatakan bahwa yang dimutasi adalah pilihan dan teladan.

“Harusnya para guru buka mata. Mereka adalah guru teladan untuk dapat tugas berat memajukan kecerdasan anak didik di Nusa Penida, Klungkung. Mereka itu pilihan,” terangnya. Ia juga mengklaim bahwa guru yang mencemooh jelas sangat pantas tidak dipilih lantaran mentalnya tidak bagus dalam mengajar.

Reporter: I Gede Sumadi

Editor: I Komang Budiarta