Sungai Bawah Tanah Nusa Penida

Nusa Penida, Nusa Penida Post

Peta Belanda tempo dulu sebelum ditundukkan Sri Kesari Warmadewa, Nusa Penida bernama pulau Gurun. Seperti namanya Gurun, pulau ini memang kering. Curah hujan tiap tahun 1.250 mm kubik/cm persegi. Keringnya Nusa Penida diperparah dengan minim pohon-pohon besar dan batuan kapur yang banyak melarutkan air. Selama ini masyarakat hanya mengandalkan minum dari air hujan yang ditampung wadah yang disebut cubang.

Air cubang ini dipergunakan mandi, memasak dan minum ternak, khususnya daerah atas Nusa Penida. Sedangkan daerah Nusa Penida yang berada dipesisir pantai biasanya menggunakan sumur yang airnya payau alias asin untuk mandi, memasak dan minum ternak mereka. Kesulitan warga Nusa Penida terhadap air berlangsung sejak lama , walaupun kini sudah dimulai ada saluran air dari PDAM dari air Penida dan Guyangan, tetapi masih sebagian Nusa Penida teraliri itupun masih kecrat-kecrit.

" Tebing menuju sungai bawah tanah PeguyanganNusa Penida, airnya langsung terbuang kelaut "

” Tebing menuju sungai bawah tanah PeguyanganNusa Penida, airnya langsung terbuang kelaut “

Walaupun air di Nusa Penida minim, dari bentuk geologi Nusa Penida yang banyak jurang dan jalur air bisa dipastikan dulu di Nusa Penida banyak air yang mengalir. Tepatnya mengalir melalui jalur -jalur air yang warga Nusa Penida sebut loloan. Loloan mirip seperti sungai kecil sebagai jalur air yang mengalirkan air bah dari perbukitan Nusa Penida sampai ke laut. Tetapi loloan ini ini baru mengalirkan air bah ketika musim hujan yang lebat. Ketika hujan biasa dan musim kering loloan kering kerontang seperti sungai mati.

Ternyata cara kerja loloan yang berfungsi mengalirkan air dipermukaan tanah, tanpa kita ketahui ternyata loloan mengalirkan air dibawah tanah menuju laut juga, melalui jalur-jalur air air bawah tanah atau bisa dikatakan loloan dibawah tanah. Ini diperkuat dengan banyaknya mata air yang terdapat di Nusa Penida yang bermuara langsung ke laut. Sungai-sungai bawah tanah di Nusa Penida ini bisa ditemukan di beberapa mata air yang muaranya di laut misalnya mata air Dlundungan, Seganing, Tameling, Guyangan, Penida dan suehan. Kalau debit air ini dikumpulkan akan bisa mencukupi seluruh kebutuhan warga Nusa Penida karena air Guyangan saja debitnya 178 liter perdetik.

Pernyataan sungai bawah tanah yang ada di Nusa Penida juga dilontarkan Gubernur Bali I Made Mangku Pastika, ketika berkunjung di Nusa Penida 17 February 2013. ”Di Nusa Penida sesungguhnya banyak air , tapi mengalir dibawah tanah seperti sungai bawah tanah. Sehingga harus perlu cara dengan sistem pompa bertingkat untuk menaikkan dari muara air sungai bawah tanah seperti di Guyangan”, Terang Mangku Pastika.

Kajian keberadaan sungai bawah Nusa Penida diperkuat dengan teori yakni didalam perut bumi ada lapisan hidrosfer. Lapisan hidrosfer juga mencakup air bawah tanah yang keberadaannya didalam perut bumi. Untuk sungai bawah tanah Nusa Penida tergolong sungai bawah tanah yang sifatnya permanen karena terus menerus mengalirkan air dengan debit yang stabil.

Dipastikan, jalur besar loloan bawah tanah juga seperti lolan dipermukaan, terbentuk dari pertemuan jalur jalur kecil yang keberadaan jauh didalam tanah kemudian mengalir layaknya sungai menuju laut. Ini diperkuat dengan analisa bahwa sesungguhnya batu kapur banyak menyimpan air sehingga pada kondisi kedalaman tertentu air sangat lembab dan jenuh sehingga tetesan ini mengumpul dan mengalir melalui jalur kecil, bertemu loloan yang lebih besar , bersatu dengan jalur besarnya akhirnya mengalir terbuang ke laut.

Dengan sungai bawah tanah yang permanen dan debit yang stabil apabila dimanfaatkan akan menjadi sangat berguna bagi warga Nusa Penida. Tinggal alokasi anggaran dari pemerintah sehingga air sebagai kebutuhan dasar ini tidak terbuang percuma. Sedangkan warga harus menggunakan air payau, ironisnyamasyarakat pada musim kemarau harus membeli air dengan menjual sapi mereka. Sungguh pemandangan yang kontras seperti ayam mati dilumbung beras. Pemimpin daerah mesti melihat sungai bawah tanah sebagai potensi untuk meningkatkan ekonomi masyarakat Nusa Penida.

Reporter & Editor  : I Wayan Sukadana