Sumber Daya Alam Jadi  Latar Proxy War

NUSA PENIDA, NUSA PENIDA POST

Meski jaman telah berganti menjadi modern, perang perebutan pengaruh dan sumber daya alam tetap terjadi. Meski wujudnya sedikit berbeda dengan perang konvensional, latarnya sama, sumber daya alam tetap menjadi trigger. Perang tanpa bentuk atau yang dikenal proxy war bisa dilakukan jarak jauh untuk mengamankan kepentingan strategis tertentu. Semua berdasarkan kepentingan semata dengan memanfaatkan pihak ketiga sehingga lawan sulit dikenali.

Pasca proxy war yang terjadi kawasan Timur Tengah dalam perebutan pengaruh sejumlah negara adidaya, Indonesia kini menjadi bidikan dengan berbagai kekayaan sumber daya alam yang dimiliki. Berbagai negara mulai berebut pengaruh dengan berbagai dalih, lihat saja bagaimana persaingan Rusia dan Amerika yang juga diikuti sekutu mereka seperti Iran dan Arab Saudi. Mereka mulai menancapkan kuku-kuku monopoli untuk menguasai sumber daya alam. Kasus yang terjadi di tambang Freeport menjadi salah satu bukti kuat bagaimana proxy war terjadi untuk memenangkan pengelolaan tambang emas terbesar. Tidak hanya permainan cukong, mafia energi pun ikut bermain jadi perpanjangan tangan demi mengeruk kekayaan. Dipastikan akan ada perang lebih besar seiring meningkatnya pertumbuhan kebutuhan energi dan pangan dunia.

Sejumlah langkah taktis pemerintah untuk melindungi kekayaan negeri bisa dilihat dari pembekuaan petral, negosiasi tambang Freepot hingga kebijakan expansi pencarian sumber energi ke luar negeri. Puluhan tahun petral dan PT. Freeport berhasil menyedot kekayaan dengan nilai triliunan. Hanya sedikit hasil yang masuk ke kas negara sementara masyarakat hanya menikmati limbah. Para cukong dan mafia sengaja menggunakan trik busuk dan kotor untuk melindungi kepentingan mereka termasuk menciptakan konflik. Dibalik berkah kekayaan alam yang melimpah, kemajemukan yang ada di Indonesia mudah sekali dibenturkan untuk mencapai visi pribadi para mafia. Politik memecah belah masih sangat relevan ditambah prilaku picik para politisi busuk yang hanya memperhitungkan kantong pribadi. Praktis, masyarakat hanya disajikan realitas semu sementara para mafia berpesta pora menjarah isi negeri.

Generasi muda bangsa pun kini mulai dikuasai dengan memutar balikkan fakta. Berbagai doktrin yang tidak menghargai perbedaan semakin subur ditambah berbagai isu primordial. Berita hoax pun sudah menjadi sajian setiap hari hingga membuat masyarakat terbelah. Aksi intolerasi, demo anarkis dan gesekan sosial kerap mewarnai bahkan semakin intens parahnya ada sekelompok yang dengan gamblang ingin mengganti dasar negara. Tanpa disadari mereka hanya jadi alat kepentingan asing yang tidak ingin negara ini maju. Jika tidak ada kesadaran dari masyarakat, negeri ini akan hancur dari dalam akibat konflik kepentingan dengan memainkan isu murahan. Ada upaya sistematis untuk melemahkan negara demi kepentingan para mafia.

Proxy War, Metamorfosis Perang Konvensional

Perang di era modern tidak lagi sepenuhnya angkat senjata tetapi memainkan ideologi dan pengaruh serta pemikiran. Seorang perupa I Ketut Agus Mardika yang sering disebut Gus Dangap memvisualkan fenomena perang modern atau proxy war yang melanda bangsa Indonesia dan berbagai negara. Perupa termuda dari kelompok Militan Art dan Galang Kangin ini menilai bangsa yang besar menunggu kehancuran bila gagal dalam melakukan kontrol di sektor pertambangan. Sumber daya alam Indonesia dimanfaatkan pemodal asing dengan dalih kesejahteraan dan memanfaatkan orang lokal sebagai garda depan. Timah, tembaga, emas dan hasil tambang tak luput dari incaran.  Kembali masyarakat hanya  memungut limbah.

Visualisasi karya Gus Dangap dengan latar logam mulia Indonesia yang kini jadi rebutan

Gus Dangap mencoba mengimplemtasikan dalam sebuah karya dan berkhayal sebatas jika  saja kekayaan SDA ini dapat dikelola dengan bijak dan mandiri, bukan tidak mungkin bisa memberi kesejahteraan bagi masyarakat dan bangsa.

“Seandainya saja bangsa Indonesia bisa memanfaatkan dengan baik dan bijak hasil kekayan alam yang dimiliki niscaya tujuan akan tercapai sesuai dengan amanah ‘sejahtera makmur sentosa,” papar Gus Dangap pada Jumat pagi (2/6).

Gus Dangap juga menilai selain masifnya prilaku mafia menggasak kekayaan alam nusantara, aksi kekerasan dan prilaku terbalik dari prinsip Bhinneka Tunggal Ika juga meningkat seiring menggeliatnya isu radikalisme. Masyarakat dibuat sibuk sendiri dengan segala friksi yang terjadi di tengah ketimpangan ekonomi sementara para bandit dan mafia bebas melakukan ekspolitasi. Dampaknya jelas, pencemaran udara, tanah, hutan, bahkan seluruh isisnya akan hancur. Berbekal dalih kesejahteran tanpa disadari ibu pertiwi pun dikorbankan. Lewat goresan kanvas dengan gaya abstrak dikolaborasikan dengan plat aluminium, tembaga dan kuningan, perupa asal Banjar Tulikup, Gianyar ini menceritakan bagaimana logam mulia kekayaan Indonesia sebenarnya dapat menutup seluruh keindahan alam Indonesia.

Reporter: Santana Ja Dewa

Editor: I Gede Sumadi