Suhu Panas, Kipas Angin Diburu

MENTIGI, NUSA PENIDA POST

Dampak pemanasan global semakin terasa sejak beberapa tahun belakangan. Tidak hanya pola musim yang tidak bisa ditebak, kondisi cuaca pun cenderung lebih panas dengan rata-rata suhu 280C sampai 300C terutama di daerah tropis. Berdasarkan perhitungan astronomis, Bulan Oktober seharusnya sudah menginjak musim penghujan tetapi sampai Bulan Nopember, hujan belum juga turun, akibatnya cuaca dan suhu lingkungan semakin panas termasuk di malam hari. Kondisi ini membuat masyarakat di Kepulauan Nusa Penida menjadi gusar, tidak hanya permasalahan krisis air bersih dan ketidakstabilan pangan, warga juga mengeluhkan hawa panas yang menyengat. Imbas kenaikan suhu sangat terasa di semua wilayah terutama daerah pesisir yang terpengaruh oleh hawa laut.

Warga yang sudah tidak tahan dengan kondisi suhu panas yang ekstrim memilih cara instan untuk mengatasi suhu panas dengan membeli kipas angin. Meningkatnya permintaan kipas angin menjadi keuntungan bagi penjual kipas angin. Hal ini diamini pedagang kipas angin di Pasar Mentigi, I Dewa Gede Rastawan (10/11).

“Cuaca panas berimbas pada meningkatnya permintaan kipas angin. Ini sudah berlangsung sejak bulan lalu, bahkan permintaan terlalu banyak tetapi kami tidak punya stok yang cukup karena tersendatnya pengiriman barang, apalagi saat ini Kapal Ro-ro sedang docking otomatis truk pengangkut kami antre di sana,” ujar Rastawan dengan sedikit nada kecewa (38).

Cuaca panas, permintaan kipas angin meningkat.

Cuaca panas, permintaan kipas angin meningkat.

Rastawan pun menambahkan bahwa kipas angin banyak diminati warga karena harganya relatif terjangkau daripada pendingin ruangan air conditioner (AC). Kipas angin yang diburu warga berada pada kisaran harga Rp 100.000 sampai Rp 200.000 per unit. Hal ini berbeda jauh dengan harga AC yang per unitnya menembus kisaran Rp 1.000.000 lebih. Hanya kalangan menengah ke atas yang bisa menjangkau pendingin ruangan tersebut disamping biaya beban listrik juga dipastikan naik jika memakai AC.

Salah satu pembeli yang ditemui sedang memilih kipas angin, I Made Selamet (35) asal Desa Ped, mengakui bahwa cuaca panas memaksa dirinya membeli kipas angin. “Anak saya tidak bisa tidur karena gerah dan cuaca panas, terpaksa saya beli kipas angin,” ungkapnya sambil mengecek kipas angin yang akan dibeli.

Reporter: Santana Ja Dewa

Editor: I Gede Sumadi