Stigma yang Terbantahkan “Tandus Bukan Berarti Padi Tidak Bisa Tumbuh”

Untuk Download Nusa Penida Post Vol 22 klik gambar di atas!

Untuk Download Nusa Penida Post Vol 22 klik gambar di atas!

DLUNDUNGAN
Kesan akan pulau Nusa Penida adalah pulau tandus dan kering yang tidak bisa ditanami apa-apa, terbantahkan sudah. Tidak banyak yang tahu memang, sebagian warga dari dulu sampai detik  ini, sudah dan masih menanam padi. Bahkan padi terlebih dulu ditanam sebelum penduduknya  mulai menanam jagung. Beras tidak menjadi konsumsi pokok di Nusa Penida karena ada sumber  pangan lain yaitu singkong dan jagung.

Sampai tahun 1970-an, mayoritas masyarakat di daerah pegunungan masih menanam padi. Menjelang tahun 1980-an terjadi pergeseran pola tanam sebagai dampak dari perubahan iklim global. Masyarakat mulai beralih menanam jagung dan singkong yang dinilai lebih tahan terhadap perubahan cuaca dan musim.

Padi yang ditanam pun tidak hanya padi beras putih tetapi juga padi beras merah. Hasil penulusuran menunjukkan bahwa, hasil panen padi dipakai ketika kundangan, yaitu menengok orang menikah atau orang yang melakukan upacara adat. Disamping itu, beras lokal hanya dimasak untuk kepentingan tertentu seperti membuat tipat dan jaja uli menjelang hari keagamaan.

Di Banjar Dlundungan, Desa Sekartaji, beberapa warganya masih aktif menanam padi sampai sekarang. Salah satunya Ketut Terima (65), masih aktif sampai sekarang menanam padi di ladang miliknya. Ketut yang ditemui di ladangnya (25/3) masih setia menanam padi pada sebagian lahannya. “Akikit duang tiang mule padi, sekwale pang misi, lakun telah aleh kedis,” (red; saya sedikit tanam padi, sekedar saja tetapi habis diserang burung). Ditambahkan pula, bahwa tidak semua ladangnya ditanami padi namun cuma sebagian saja karena pada masa sekarang hasil panen sudah mengalami penurunan. Diakuinya bahwa menanam padi bukan pekerjaan utama, Made yang usianya kian senja juga masih beternak sapi, ayam dan babi. Hasil padi pun sering disumbangkan pada masyarakat yang memerlukan untuk upakara.

Hamparan tanaman padi milik Ketut Terima (65) di Banjar Dlundungan.

Hamparan tanaman padi milik Ketut Terima (65) di Banjar Dlundungan.

Jenis padi yang ditanam oleh warga Banjar Dlundungan adalah jenis padi gogo atau padi tegalan. Disebut demikian karena padi gogo ini bisa tumbuh di lahan kering dengan sumber air yang minim. Untuk menanam padi jenis ini, pengelolaan tanahnya cukup mudah yaitu pertama lahan dibersihkan, kemudian nengale (red; dibajak). Bagian-bagian tanah yang tidak bisa dibajak, misalnya pada sudut-sudut petakan dan berbatu bisa digarap dengan cangkul. Untuk tanah normal pembajakan dilakukan 2 kali, tetapi untuk tanah Stigma yang Terbantahkan
Tandus Bukan Berarti Padi Tidak Bisa Tumbuh tertentu pembajakan dilakukan sampai 3 kali. Sampai tanah menjadi gembur dan memungkinkan untuk ditanami.

Untuk pemeliharaan hanya mengandalkan peralatan yang sederhana. Rumput-rumput yang tumbuh di sekitar padi dicabuti dengan tangan tak jarang memakai cangkul dan sabit. “Ten keweh ngolah nike, butbutin ajak bulung tiang padangte,”(red; tidak sulit mengolah, hanya dicabut atau dicangkul), tambah Ketut yang biasa dipanggil Kak Saki, sambil menunjuk padinya. Untuk pemupukan biasanya menggunakan pupuk kandang, yaitu hasil dari kotoran sapi yang dipelihara. Diakuinya bahwa kendala utama menanam padi ini adalah terbatasnya sumber air. Sulit memang menanam padi karena cuaca di Nusa Penida yang semakin panas. Cuaca inilah yang secara langsung mempengaruhi kualitas padi sehingga banyak yang tak berhasil.

Beberapa desa yang dulu pernah menanam padi adalah Desa Batukandik, Desa Tanglad, Bunga Mekar, Batu Madeg dan Sekartaji. Bukti nyata yang masih terlihat adalah setiap karang tua (pekarangan keluarga inti), pasti selalu ada jineng (red; lumbung). Fungsi utama jineng adalah sebagai tempat untuk menyimpan padi. Saat ini, jineng sudah beralih fungsi dari tempat penyimpanan padi menjadi tempat istirahat oleh warga. Disamping itu juga Jineng ini dipakai tempat menyambut orang yang bertamu. Fakta di atas menunjukkan bahwa stigma daerah gersang tanpa hasil tidak sepenuhnya benar. (Gun)