Seganing, Air Terjun Cantik di Sudut Pulau

BUNGA MEKAR, NUSA PENIDA POST

Beriringan dengan pesatnya perkembangan pariwisata, sejumlah objek wisata kini mulai dieksplorasi oleh pecinta traveller. Ketika berbicara tentang sumber mata air apalagi air terjun, maka 98% orang beranggapan bahwa tidak mungkin ada potensi itu di Nusa Penida. Stigma ini memang masih melekat dan wajar jika menilik kondisi alamnya yang kering, tidak ada hutan, kuntur berbukit dan hanya diisi pegunungan batu kapur serta nyaris tanpa sungai. Lalu bagaimana mungkin pulau tandus ini dikelilingi air terjun cantik?

Tidak hanya anugerah laut melimpah dengan segala potensi, budaya dan alamnya, Nusa Penida juga memiliki air terjun cantik sekaligus sumber kehidupan di masa lalu, Air Terjun Seganing. Menyusuri setiap jengkal pulau ini akan memberi sejuta kejutan. Ibarat pepatah tak kenal maka tak sayang, perumpamaan in tepat bagi orang belum mengetahui secara utuh keistimewaan Pulau Tri Datu ini. Namun jika sudah menginjakkan kaki, menelusuri dan menikmati indahnya dijamin kecanduan dan berteriak puas kegirangan, berikutnya tertegun melongo akan karunianya yang begitu mempesona. Tidak banyak kata yang siap untuk melukiskan gambaran alam. Ya, keindahan itu ada di sudut pulau, perlu perjuangan untuk bisa menapaki seutuhnya.

Panorama Air Terjun Seganing dan jalur yang mesti dilewati sangat menantang

Panorama Air Terjun Seganing dan jalur yang mesti dilewati sangat menantang

Secara wilayah, Air Terjun Seganing berada di Dusun Sebuluh, Desa Bunga Mekar, Nusa Penida. Spot ini berada di ujung barat pulau, tepat di bawah tebing yang berhadapan dengan laut lepas. Dari pusat kota kecamatan, pengunjung melewati jalur barat menuju Desa Sakti, selanjutnya mengambil jalur yang mengarah ke Desa Bunga Mekar. Perjalanan ditempuh selama hampir 1 jam melewati jalur utama. Ketika sampai di pusat desa, perjalanan pun berlanjut ke Dusun Sebuluh, menuju sumber air.

Dari sinilah, petualangan sebenarnya baru dimulai. Semua persiapan harus dimatangkan, termasuk nyali dan keberanian mengingat jalur yang akan dilewati terbilang ekstrim. Sangat mudah menemukan rute yang membawa kita ke lokasi, warga sekitar pun pasti dengan sukarela memberi petunjuk jalan. Begitu jalur beraspal habis dilalui, berikutnya pengunjung melewati jalur setapak untuk sampai di bibir tebing. Selang 15 menit perjalanan, wisatawan pun disapa dengan hembusan angin dan hamparan laut biru dengan gugusan tebing karang yang tinggi menjulang. Berdiri kokoh dan menjadi benteng dari gempuran gelombang samudra. Namun air terjun yang akan dituju masih jauh di bawah tebing. Bayangkan anda harus merangkak di sisi tebing sepanjang lebih dari 300 meter dengan irama getar terjangan gelombang yang menghantam tebing.

“Pada tahap perjalanan selanjutnya sangat tidak disarankan bagi pengunjung yang menderita phobia atau takut ketinggian.”

Banyak pengunjung yang langkahnya terhenti di awal jalur begitu menatap ke bawah. Birunya laut ditambah ganasnya terjangan ombak terkadang membuat nyali ciut dan mengkerut. Ditambah medan terjal yang dilewati sebagian miring dengan anak tangga darurat dari batang pohon ala kadarnya.Strategi mundur pelan-pelan pun berlaku dan memilih menepi. Bagi traveller sejati, tantangan ini justru membuat membuat mereka semakin bernyali untuk menjajal. Menurut warga sekitar, jalur ini jauh lebih berbahaya ketika musim hujan karena track menjadi licin.

“Kalau musim hujan jauh lebih berbahaya karena bebatuannya jadi lebih licin,” ujar seorang warga, Sabtu (23/5).

Dulunya air terjun in menjadi sumber air utama namun kini hanya menjadi lokasi memancing dan dalam beberapa kesempatan, warga lokal mendak tirta untuk keperluan upacara atau ritual. Pemeliharaan jalur pun dilakukan secara swadaya oleh masyarakat maupun para pemancing yang sering menggunakan jalur ini.

Begitu mulai menginjak jalur pertama, darah terasa berdesir, jantung pun seolah terpompa lebih kencang. Bagaimana tidak, jalur yang mesti dilewati berupa tebing curam dengan kemirangan rata-rata diatas 80 derajat bahkan di beberapa bagian nyaris 90 derajat. 5 menit berjalan, keringat mulai mengucur mungkin karena capek tetapi lebih pantas gugup dan takut membayangi. Kaki mulai lemas tetapi kepalang tanggung untuk berbalik. Pada beberapa sisi, pengunjung harus melewati bagian tebing terjal bahkan terlihat menggantung di atas anak tangga yang dibuat menancap ke sisi tebing. Bagi masyarakat lokal, tangga darurat ini disebut ancong. Di jalur lain, pengunjung juga mesti merayap dengan berpegangan erat pada tebing dan semak belukar. Terperosok sedikit saja maka tak pelak hempasan gelombang siap menggulung tubuh pengunjung. Sedikit pertanyaan pun terbersit, bagaimana awalnya masyarakat membuat jalur ini? Entahlah.

Setelah 30 menit berjuang, sampailah di Air Terjun Seganing yang airnya jatuh ke laut, luar biasa. Impas sudah kepenatan yang kami rasa sepanjang perjalanan. Berada di tepian mata air seolah dipayungi tebing raksasa yang berdiri menantang. Airnya yang jernih dan segar begitu menggoda. Semuanya masih alami, jauh dari hiruk pikuk peradaban modern. Ibarat lukisan alam, selain menikmati air terjunnya, pengunjung juga bisa memanjakan diri dengan panorama indah gugusan karang dan atol-atol kecil di depannya berikut melepas pandangan ke luasnya hamparan laut tak bertepi. Khusus pengunjung yang gemar memancing bisa menyalurkan hobinya melepaskan joran di sisi tebing. Lokasi ini juga kerap menjadi spot memancing bagi warga lokal dengan target ikan-ikan besar.

“Luar biasa, aksesnya, debit airnya, airnya bening, salut buat masyarakat yang mampu membuatkan akses, mereka masih memeliharanya,” tutur I Wayan Oka, salah satu pengunjung, Sabtu, (23/5)

Pertanyaan konyol pun kembali membayangi, kenapa mata air ini tidak mucul di dataran lainnya sehingga air yang melimpah ini bisa dinikmati masyarakat Nusa Penida? Benarkah ini kutukan seperti yang ditulis di lontar?

Jika ditelisik lebih jauh, ada benang merahnya. Keindahan itu adalah proses. Nikmatnya itu di situ karena setiap keindahan yang didapat pasti diawali dengan proses perjuangan. Apakah anda siap mengeksplorasi berpetualang?

Citizen Journalist: I Gede Suladra

Editor: I Gede Sumadi