Sapi Melonjak jelang Idul Adha

MANGUPURA, NUSA PENIDA POST

Jelang perayaan hari Idul Adha 1434 Hijriyah, permintaan sapi potong dari Pasar Hewan Bringkit, Mengwi, Kabupaten Badung ke Pulau Jawa mengalami lonjakan drastis. Hasil pantuan Tim Nusa Penida Post, Minggu, 13 Oktober 2013, ratusan ekor sapi dengan bobot rata-rata diatas 500 kilogram siap dikirim terutama sapi jagiran (red; pejantan besar) dengan tujuan kota-kota besar seperti Surabaya, Semarang, dan Jakarta. Para saudagar mengakui bahwa peningkatan jumlah pengiriman sapi sudah terjadi sejak H-7 hingga H-1.

“Permintaan mengalami kenaikan hampir 30% dan biasanya berlangsung dalam rentang satu minggu sampai Hari Raya Qurban. Mungkin ini salah satu keuntungan dari pemberlakuan kuota impor daging sapi, jadinya sapi lokal bisa laku,” jelas I Wayan Suta (64), saudagar sapi dari Tegal, Darmasaba. Meningkatnya permintaan kuantitas sapi potong juga diakui turut mendorong kenaikan harga sapi.

“Harga juga naik sedikit, kurang lebih mulai dari Rp 200.000 sampai Rp 300. 000 per ekor untuk sapi borongan (tanpa ditimbang),” imbuhnya.

Permintaan sapi potong di Pasar Bringkit melonjak jelang Hari Raya Idul Adha

Permintaan sapi potong di Pasar Bringkit melonjak jelang Hari Raya Idul Adha

Pasar Bringkit merupakan pasar hewan terbesar di Bali dengan nilai transaksi lebih dari 1 miliar dalam satu hari. Tidak hanya menjadi sentra penjualan sapi, aneka hewan lain juga turut diperjual-belikan, mulai dari anjing, ayam, burung, bunga hias, sampai kebutuhan sehari-hari lainnya. Secara khusus, transaksi jual beli sapi dilakukan dua kali dalam seminggu yaitu Rabu dan Minggu. Proses transaksi dilakukan dari pukul 02.00 dini hari sampai 11.00 wita yang juga tergantung dari permintaan pasar. Pembeli sapi tidak hanya saudagar lokal tetapi sejumlah saudagar dari Jawa dan Lombok biasanya datang langsung terutama pembelian godel (red; anak sapi) untuk bibit dan penggemukan.

“Tadi saya bawa tiga godel dan sudah laku semua karena banyak yang cari bibit,” terang Arif (42), saudagar sapi dari Singaraja. Arif juga menambahkan bahwa bibit sapi tidak ditimbang layaknya sapi-sapi potong yang akan dikirim ke pulau Jawa tetapi hanya melalui harga cawangan (red; harga taksir) tergantung pada kualitas bibitnya.

“Aturan juga melarang menjual anak sapi untuk konsumsi termasuk larangan menjual sapi betina produktif, kecuali kalau sudah baki,” (red; tidak beranak lagi), tambahnya sambil menunjuk puluhan bibit anak sapi yang berjejer rapi. Meski hari sudah menunjukkan pukul 10.00 wita, puluhan truk masih terlihat melakukan penaikan bibit untuk pengiriman tujuan Jawa. Areal parkir yang tersedia pun penuh sesak oleh ratusan pengunjung. “Hari ini cukup crowded karena melonjaknya pengiriman sapi menjelang lebaran dan juga menjelang Galungan,” papar salah satu petugas di pintu parkir.

Reporter: I Komang Budiarta

Editor: I Kadek Ludra