Sampihan Penjor Laris Manis

KAPAL, NUSA PENIDA POST

Perayaan Hari Raya Galungan tinggal menghitung hari. Umat Hindu pun sudah mulai disibukkan dengan beragam aktivitas menyambut hari kemenangan dharma melawan adharma tersebut. Ritual upacara Galungan tergolong cukup panjang, mulai dari Sugihan Jawa, Sugihan Bali, penyajaan, ngias penjor, penampahan sampai Hari Raya Kuningan. Aneka pernak-pernik perlengkapan upakara juga sudah dipersiapkan jauh-jauh hari sebelumnya, salah satunya sampihan penjor. Warga yang didera kesibukan, biasanya lebih memilih membeli perlengkapan daripada membuat sendiri karena dinilai lebih efisien dan simple.

Tiang nak sibuk mekarya niki Pak, yen ngaryanin pedidi keweh nike, bahan ne tiang ten meduwe,” (red; Saya sibuk kerja, kalaupun membuat sendiri cukup sulit, lagipula saya tidak punya bahan), tutur Ni Luh Widari (36) yang diwawancarai ketika sedang memilih sampihan penjor di daerah Kapal, Mengwi, Kabupaten Badung, Minggu, 13 Oktober 2013.

Hasil pantauan Tim Nusa Penida Post, ribuan sampihan penjor tampak berjejer di sepanjang jalan Raya Kapal terutama di depan Pasar Balianan. Daerah Kapal yang terkenal sebagai pusat penjualan pelinggih (red; bangunan suci) seketika berhias sampihan penjor dengan berbagai bentuk dan motif. Sampian yang terbuat dari daun lontar tersebut tentunya bukan pajangan semata melainkan barang dagangan yang sengaja dijual. Menurut pengakuan pedagang, Ni Made Sari (42) warga Banjar Balianan, Mengwi, Badung, penjulan sampihan penjor sudah mulai diburu warga jelang H-10 karena bahan yang dipergunakan cukup awet dan mudah disimpan.

Sampihan penjor tampak berjejer di sepanjang jalan Raya kapal jelang Galungan

Sampihan penjor tampak berjejer di sepanjang jalan Raya kapal jelang Galungan

“Penjualan sampihan sudah sejak H-10 dan paling ramai biasanya nyambat puan (red; H-2) karena sehari jelang Galungan, penjor sudah harus terpasang,” terang Sari.

Harga sampihan yang ditawarkan pun bervariasi mulai Rp 30.000 hingga Rp 80.000 per sampihan tergantung dari ukuran dan hiasannya. Sari juga menandaskan bahwa ia mulai membuat sampihan ental (red; daun lontar) sejak sebulan sebelum Galungan dengan mendatangkan bahan dari luar Bali. Daun lontar dianggap lebih praktis, mudah dibentuk dan tahan lama sehingga konsekuensi rugi bisa dikurangi. Made yang dibantu keluarganya dalam membuat sampihan mengakui 1 pucuk bisa menghasilkan 2 buah hiasan kecil yang dihargai Rp 30.000 per buah.

“Untuk daun lontarnya, tiang datangkan dari Sumba, Nusa Tenggara Timur. Kadang saya pesan 1 truk fuso dan dijual eceran Rp 20.000 setiap pucuknya,” timpal Made sembari menunjuk pucuk lontar.

Harus diakuinya memang, penjor yang dulunya dibuat sendiri, sekarang bisa didapatkan dengan mudah. Saat ini, penjor bisa dibeli 1 paket lengkap termasuk pernak-pernik pelengkap. Namun dibalik kemudahan itu ada sisi kreativitas masyarakat yang cenderung tergerus termasuk nilai yadnya karena mudahnya perlengkapan itu dibeli tanpa harus membuat sendiri.

Reporter: I Komang Budiarta

Editor: I Gede Sumadi