Ruwatan, Upaya Niskala Memecah Sangkar Kutukan

KLUMPU, NUSA PENIDA POST

Cerita mengenai kekuatan mistis di Nusa Penida yang berkembang di masyarakat ternyata bukan mitos belaka. Masyarakat hingga kini masih meyakini ada kekuatan luar biasa yang membentengi wilayah ini. Sejumlah praktisi spiritual juga membenarkan besarnya aura yang terpancar. Berdasarkan informasi dalam babad Nusa Penida, disebutkan bahwa ada beberapa titik kekuatan besar, sebelah barat ada Pura Dalem Ped, bagian Timur ada Pura Batu Medawu, sisi Selatan berdiri Pura Tunjuk Pusuh serta pusernya adalah Pura Puncak Mundi. Dalam teropong gaib, semua terhubung dan masing-masing memiliki ancangan (red; pasukan) berupa wong samar untuk menjaga seluruh wilayah.

Selain ikhwal kekuatan gaib, cerita mengenai pastu (red; kutukan) Dalem Sawangan juga masih lekat di masyarakat. Dikisahkan dalam peperangan hebat antara Dalem Bungkut dengan Dalem Sawangan yang dimenangkan oleh Dalem Bungkut. Tidak terima dengan kekalahan, Dalem Sawangan pun mengeluarkan pastu, wilayah yang dulunya subur dikutuk menjadi kering. Delapan mata air yang menjadi sumber kehidupan dikutuk mengalir di sisi tebing bagian selatan dan hampir seluruhnya sulit dimanfaatkan. Air hanya tumpah ke laut, seperti mata air Peguyangan, Temeling, Seganing, Sekartaji, Tabuanan yang semuanya hanya bisa dijangkui lewat anceng (red; jalur gantung).

Upacara ruwatan digelar sebagai upaya untuk penyucian dan penyeimbangan alam

Upacara ruwatan digelar di Nusa Penida sebagai upaya untuk penyucian dan penyeimbangan alam

Entah faktor apa yang menjadi ganjalan, sejumlah proyek dan program besar dari dulu hingga saat ini cenderung gagal. Alam seolah tidak bisa diajak kompromi yang berujung kegagalan. Dengan berbagai pertimbangan dan saran dari sejumlah tokoh masyarakat, upacara ruwatan pun digelar pada Purnama Kedasa, Jumat (3/4) lalu yang dipusatkan di Pura Puncak Mundi. Upacara pun dihadiri langsung Bupati Klungkung, I Nyomn Suwirta dan pejabat terkait termasuk Camat Nusa Penida, I Ketut Sukla dan para pendeta. Menurut Mangku Buda selaku Ketua Panitia, upacara dilaksanakan untuk mengembalikan energi positif  dari hal-hal negatif yang selama ini terjadi.

“Upacara ini bertujuan mengembalikan keharmonisasi Nusa Penida. Selama pastu belum dinetralkan, tidak bisa berkembang, apapun yang dibangun baik itu perorangan atau lembaga selalu gagal total. Ini terlihat dari pembangunan yang sudah dilakukan selalu jalan ditempat bahkan kejadian aneh-aneh muncul,” tuturnya.

Rangkaian ruwetan dimulai dari kegiatan mulang pekelem, matur piuning dan ngaku agem dilakukan dengan swadaya. Upacara skala besar yang akan dilakukan di pantai selatan direncanakan tahun 2016 mendatang. Pengusaha lokal, I Putu Darmaya yang sedang getol membangun berbagai fasilitas komodasi wisata juga punya cerita tersendiri. Putu mengakui gagal membangun hotel dengan alasana yang kadang bikin geleng-geleng. Ketika pihaknya akan membangun hotel, tiba-tiba ada yang kesurupan dan diminta agar hotel tidak dibangun.

Bupati Klungkung yang hadir pada ruwatan memandang perlu adanya upacara ini sebagai bentuk permohonan ijin agar pembangunan dilancarkan. “Saya sangat berterima kasih atas kontribusi para pemangku serta tokoh masyarakat yang sudah ikut andil membangun Nusa Penida. Spirit ini terus dilakukan agar kedepanya Nusa Penida lebih baik,” ucap Suwirta.

Reporter: Santana Ja Dewa

Editor: I Gede Sumadi