Rumput Laut, Harapan yang Masih Terbenam

koran

Download Nusa Penida Media Post Vol 23 Klik gambar di atas!!!

NUSA PENIDA
Kalau ditanyakan kepada masyarakat pesisir Nusa Penida, tentang apa pekerjaan yang mereka tekuni, pastilah mereka menjawab “Memule bulung” (red: menanam rumput laut). Rumput laut sudah menjadi bagian hidup masyarakat pesisir. Menekuni budi daya rumput laut dinilai cukup mensejahterakan masyarakat karena harga rumput laut yang cukup tinggi dan sistem panen yang relatif lebih cepat. Ini adalah opini singkat masyarakat lain terhadap budi daya rumput laut di Nusa Penida. Tapi benarkah seperti apa yang dibayangkan kebanyakan orang? Kalau benar, mengapa masyarakat pembudidaya rumput laut tidak pernah mengalami kemajuan bahkan semakin merana?

Diambang Kesejahteraan, Justru Merana
“Tuyuh duang ibe maan, hasilne suale” (red: susahnya saja yang kita dapatkan sementara hasilnya sekedar), ungkapan ini seolah cermin rasa frustrasi terhadap harapan yang kian memudar. Ketika ditelusuri secara mendalam, ternyata ada banyak hal yang membuat nasib petani rumput laut semakin terjepit, baik secara sistematis, alam dan kualitas produknya. Berdasarkan informasi yang dihimpun dari beberapa instansi, salah satunya UPT Dinas Perikanan dan Kelautan (18/5), bahwa luas areal budi daya rumput laut mencapai 308 hektar. Daerah yang menjadi sentra budidaya meliputi pantai bagian utara, mulai dari Dusun Semaya Sampai Toya Pakeh, kemudian daerah Lembongan, kecuali sisi Barat Laut serta Ceningan bagian utara yang relatif landai.

Secara kuantitatif, seluruh area budi daya mampu memproduksi rumput laut rata-rata 500 ton per tahun dengan masa panen setiap 35-45 hari setelah bibit ditanam. Ada dua jenis rumput laut yang ditanam, katoni dan spinosum dengan berbagai sebutan lokal antara lain bulung barak, bulung cerik dan bulung grandong. Varian harga pun berbeda, untuk katoni dipatok Rp.6.500/kg dan untuk spinosum Rp.4.500/kg. Sementara harga yang dibandrol di pasaran nasional maupun global adalah Rp.10.000 per kilogram. Jika dikalkulasikan, dengan produksi 500.000 kg dan harga Rp.10.000/kg, maka dalam setahun produksi rumput laut mampu menghasilkan uang Rp.5.000.000.000 per tahun. Sebuah angka yang cukup fantastis dan bisa menjadi penunjang kesejahteraan masyarakat, tetapi angka ini hanya hitung-hitungan semata, berbanding terbalik dengan kenyataan yang ada.

*****
Kebijakan paling krusial yang diharapkan adalah jaminan standar harga rumput laut yang stabil dan adanya kontrol dari pemerintah seperti halnya harga minyak dan gas
*****

Ditengah besarnya biaya produksi, ada banyak hal yang mempengaruhi keberhasilan dalam budi daya rumput laut salah satunya adalah serangan hama. Beberapa hama yang dapat menjadi parasit adalah ikan pemakan rumput laut, iceice serta bulung kawat dan bulung gamet. Selain serangan hama, kondisi perairan juga banyak mempengaruhi keberhasilan dalam budi daya rumput laut. Perubahan iklim global dan suhu perairan yang tidak menentu, memberi andil besar. Rumput laut sangat rentan terhadap musim, suhu perairan, pasang surut dan pergerakan arus atau gelombang. “Jani anjlok sube ajine, limang tali duang, henan berek bin soalne sasih dista sada, lakar ketiga” (red; sekarang harganya turun, cuma Rp. 5.000 per kilogram, bahkan sebagian juga busuk karena menjelang musim kemarau), tutur I Made Raja (37) yang dihubungi via telepon (Selasa, 11/6). Made yang membudidayan rumput laut di daerah Banjar Bodong, mengungkapkan bahwa beberapa waktu lalu, petani juga merugi akibat kerasnya gelombang pasang yang membuat rumput laut tergerus dan lepas dari ikatannya.

Areal budi daya rumput laut

Areal budi daya rumput laut

Pengepul Berjaya, Petani Megap-megap
Setelah memanen rumput laut, petani melakukan proses penjemuran. Proses ini dilakukan untuk mengurangi kadar air dalam rumput laut. Ketika rumput laut kering tibalah waktu yang ditunggu oleh petani yaitu proses penjualan. Mereka berharap mendapatkan hasil dari jerih payah selama satu bulan. Lagi-lagi, momen ini juga menjadi penambah penderitaan mereka secara sistematis. Mereka kadang harus mengeluh dengar harga yang sering tidak masuk akal. Pengepul selalu berdalih dengan berbagai alasan, petani yang sudah terjepit pun harus merelakan rumput lautnya dihargai murah. I Wayan Pasek (55) salah satu petani rumput laut di Tanjungan, Jungut Batu (11/6), mengatakan bahwa harga jenis katoni sebesar Rp.6.500/kg. Berdasarkan pemantauan terakhir (Minggu, 9/6), harga rumput laut saat ini cukup bervariasi mulai dari Rp. 4.000 sampai Rp 6.500 per kilogram. Bahkan suatu waktu harga rumput laut turun drastis sampai di bawah Rp 2.000 per kilogram. Sudah dapat dipastikan nasib para petani ada di tangan pengepul. Kenyataan seperti inilah yang dialami pembudidaya rumput laut diantara desakan kebutuhan ekonomi.

Petani mengangkut hasil panen

Petani mengangkut hasil panen

Pertanyaan yang mungkin terbesit dalam pikiran kita dimanakah peran pemerintah? Kebijakan paling krusial yang diharapkan adalah jaminan standar harga rumput laut yang stabil dan adanya kontrol dari pemerintah seperti halnya harga minyak dan gas. Apabila ini dilakukan, setidaknya petani rumput laut lebih tenang, tanpa takut harga akan dipermainkan seenaknya. Janji demi janji terdengar begitu nyaring di telinga, tetapi sampai sekarang janji tersebut hanya bualan belaka. Sistem ekonomi kerakyatan dalam bentuk koperasi yang diharapkan menjadi jalan keluar, belum terealisasi dengan jelas. Lalu sampai kapan realisasi itu akan terwujud? (Meta)