Refleksi Diri: Tamak, Ku Tukar Tanah Leluhurku dengan Rupiah

NUSA PENIDA, NUSA PENIDA POST

Lapar, mungkin itu kata yang tepat untuk menggambar alasanku menyeberangi Selat Badung, kadang aku juga tak hirau dengan nyawaku, tetap menantang ganasnya gelombang. Jika dikalkulasi, sudah ratusan kali aku menyeberangi lautan menuju tanah rantau yang katanya memberi secercah harapan. Andai saja, semua proses itu didokumentasikan dan tayang dipercepat, terlihat seperti parodi yang lucu. Mirip seperti orang mabuk entah apa yang dicari. Datang pergi, datang dan pergi untuk kesekian kalinya. Entahlah, aku juga tidak tahu, mengapa?

Dalih untuk perut yang lapar dan mencarinya di rantauan tentunya terlalu klise untuk menjadi jawaban. Lagipula, jaman dulu leluhurku di Nusa Penida lebih memilih mensyukuri apa yang ada, tidak bolak balik ke rantauan tetapi tetap bisa hidup dan justru mati-matian mempertahankan tanahnya untuk tidak dijual.

Ne tanah warisan, yen adep lakar ngrarisang,” (red; Ini tanah warisan kalau dijual pasti akan menghabiskan semuanya), itu satu dari sekian petuah tetuaku.

(Illustrasi) Tergiur hidup mewah, tanah warisan telah habis dijual, kini yang ada hanya penyesalan

(Illustrasi) Tergiur hidup mewah, tanah warisan telah habis dijual, kini yang ada hanya penyesalan

Kini, aku atas nama kehidupan yang lebih baik terus bolak-balik mencari yang namanya kesejahteraan, malah sekarang tanahku Nusa Penida yang telah memberiku kehidupan banyak terjual ketimbang jaman leluhurku. Berbagai alasan akan aku kemukakan untuk membenarkan dan melegitimasi tindakanku menjual tanah leluhurku adalah benar, sedikit demi sedikit atau bila perlu semuanya saja toh itu juga bukan hasil keringatku. Tenang saja, aku juga bisa transmigrasi kelak. Itupun sekali lagi atas nama bungkusan kesejahteraan.

Setelah kurenungkan lebih dalam, ternyata bukan lapar perut penyebabnya tapi justru lapar pikiran yang biasanya disebut tamak dan lobha penyebabnya. Mengapa kini banyak tanah Nusa Penida mencair menjadi onggokan kertas yang namanya uang?

Ye dong cair jani, ngadep tanah praing, ada aji duang miliar to. Kemu mai ngabe kompek duang,” (red; Sekarang dia hidup santai, banyak dia jual tanah, sekitar 2 miliar uangnya. Kemana-mana bawa dompet besar), demikian obrolan santai di bale banjar mengomentari tetangga yang sudah menjual tanah warisan.

Memang aku juga salah mengapa dulu kujual tanah leluhurku. Coba aku tunggu dan tahan sedikit tentunya harganya akan jauh lebih mahal. Toh aku juga tidak ada keperluan mendesak, hanya sekedar ingin hidup mewah dengan harta warisan. Aku baru sadar kalau saja aku lebih pintar dan tidak dibutakan uang, tanahku dulu yang berhektar hektar yang ada di pinggir pantai kawasan wisata dan di atas bukit akan aku bangun sendiri secara bertahap tentunya aku dan anak cucuku tidak perlu mengungsi nanti. Meski tanahku hanya ditumbuhi padang ‘sehe’ dan belukar namun tidak merugikanku, bodohnya mengapa aku begitu bernafsu menjualnya.

Atau jalan tengah saja, sebagian tanah dijual untuk bangun hotel tentunya tidak salah dan sebagian masih tetap milikku. Lacur, apa daya itu hanya penyesalan yang tiada arti, nasi telah menjadi bubur dan bubur pun telah menjadi tahi dan tahi menjadi onggokan secuil tanah Nusa Penida, tidak sebanyak ketika aku jual tanah leluhurku. Aku tidak bisa membayangkan betapa perih dan sakit hati leluhurku menyaksikan tingkahku yang terlalu bodoh, hanya demi rupiah saja, aku relakan semua tegalan warisan berpindah tangan, yang tersisa hanya pekarangan rumah, itupun merupakan karang desa (red; tanah milik banjar). Bukannya menjaga, aku justru kesetanan atau lebih mirip kerasukan untuk menjual seenak mauku. Aku begitu bangga dan menikmati gelimang harta hasil jual tanah leluhurku namun dibaliknya, bathinku menjerit, panas dingin menyelimuti pikiranku terbayang akan keturunanku yang pasti menapaki hidup kelam akibat ‘karma’ dari nafsu bejatku.

Ini hanya desahan hati dan bathinku yang meracau, hanya menyindir diriku saja bukan siapa-siapa sehingga ia tidak akan menyalahkan calo yang tepuk dada menyatakan dirinya pahlawan memajukan Nusa Penida, padahal calo akan jual lagi, tahan dan jual lagi atau sekedar dapat komisi. Tidak pula menyindir penjual tanah lainnya, tetangga, kerabat atau teman yang semangat menjajakan tanah leluhurnya. Sekali lagi ini untuk diriku, diriku yang terpekur kaku penuh sesal disudut umur yang makin menua menunggu ajal. Yang pastinya jasadku akan menjadi renik tanah tetapi tidak sebanyak tanah leluhur yang kujual.

Penulis: I Wayan Sukadana

Editor: I Gede Sumadi