Putu Bonuz: A Land To Rembember, Visualisasi Kemajuan dan Kekhawatiran Dalam Karya Seni

SANUR, NUSA PENIDA POST

Seniman Putu Sudiana yang lebih dikenal Putu Bonuz kembali menggelar pameran tunggal dengan tema ‘A Land To Remember’ pada Jumat, (2/3) lalu di Griya Santrian Gallery Sanur. A Land To Remember mengacu pada tanah kelahiran sang seniman, Pulau Nusa Penida yang kini tengah melaju menuju kemajuan. Menurut Putu Bonuz, kemajuan adalah sesuatu yang mutlak terjadi tetapi harus bisa disikapi dengan bijaksana. Perubahan dalam bentuk kemajuan dengan exploitasi berlebihan akan menghilangkan identitas keunikan yang melekat hingga berujung menjadi kekhawatiran.

Putu Sudiana (tengah) menggelar pameran tunggal seni lukis ‘ A Land To Remember’, Sanur, (2/3)

“Saya punya sudut pandang tersendiri, kemajuan itu sebuah kemutlakan dan tidak bisa distop oleh siapapun, tetapi saya pribadi berusaha menyikapi kemajuan dengan bijaksana,” ucap Bonuz

“Dari perubahan yang terjadi, ada rasa senang dan bangga karena kemajuan, tetapi sebagai manusia biasa ada juga rasa ‘kekhawatiran. Jujur saja kalau melihat bataran (red; sempadan) dikeruk, pohon ditebang habis, saya tidak mengkritik tetapi saya sedih. Sekali lagi saya tidak mengatak itu sesuatu yang buruk dan saya bukan orang yang anti perubahan,” imbuhnya.

Ada perubahan yang cukup drastis dan cenderung kebablasan yang dilakukan untuk menyambut pariwisata dan pembangunan yang mengabaikan alam. Melalui karya seni lukis, Putu Bonuz menampilkan kegelisahan bathinnya sekaligus mengingatkan jika pembangunan terus menghancurkan alam, nilai keistimewaannya akan memudar dan Nusa Penida tidak lagi memiliki keunikan. Rumah khas Nusa Penida dan bataran  yang tidak bisa ditemukan daerah lain nyaris hanya menyisakan kenangan dalam bentuk bingkai foto semata, sama persis seperti riwayat rumput laut

Ini bentuk apresiasi saya terhadap kampung halaman dalam bentuk karya seni. Warna-warna gelap adalah ungkapan pemberontakan alam bawah sadar saya menyaksikan berbagai hal yang bertentangan dengan hati kecil. Ketika kesal dan kecewa tidak bisa disampaikan lewat kata-kata, maka garis dan warna menjadi pilihan saya. Ya seharusnya pembangunan ramah lingkungan atau mampu menciptakan suatu keharmonisan dengan alam,” ujar Bonuz.

Putu Bonuz mengaku bukan anti terhadap perubahan tetapi harus cerdas merespon pembangunan. Ia berharap pembangunan dilakukan tidak harus menghancurkan yang lama dan mengganti dengan yang baru. Kehidupan Bonuz yang unik dan eksentrik juga menarik minat Ida Bagus Hari Kayana Putra. Sutradara muda itu membuat film yang berkisah tentang sekelumit kehidupan Bonuz dan jejak langkahnya menapaki jalan kesenian. Film semi biografi berjudul “Napak Pertiwi” itu hampir selesai digarap.

Reporter: Santana Ja Dewa & I Gede Sumadi

Editor: I Gede Sumadi