Pura Puser Sahab, Pancering Jagat Nusa

BATUMADEG, NUSA PENIDA POST

Satu lagi yang Pura Sad Kahyangan yang memancarkan vibrasi spiritual luar biasa adalah Pura Puser Sahab. Berdasarkan hasil kajian terhadap sejumlah arca yang ada, diperkiran pura ini dibangun pada pertengahan jaman megalitik, sekitar tahun 300 hingga 800 masehi, tepatnya awal periode Hindu kuno. Periode ini sama dengan masa tahta emas di Pura Puncak Mundi dan Manusia Kangkang di Pura Meranting, Batukandik. Meski belum dibuktikan berdasarkan radiokarbon, sejumlah ahli mengakui bahwa pura ini adalah satu dari sekian pura klasik yang ada di Nusa Penida.

Berdasarkan sejumlah literatur seperti dikutip dari Shadeg (2007; 420) and Sutjaja (2006: 793), kata Sa (h) ab berarti penutup atau saeb sehingga kombinasi kata ‘puser’ (red; inti atau pusat) menjadi pusat atau inti yang menjadi penjaga alam. Kondisi ini bisa dicermati secara hierarki karena pura ini bersinggungan langsung dengan Pura Puncak Mundi dan Pura Dalem Ped. Pura yang berada di Banjar Dehan, Desa Batumadeg berjarak tempuh 14 kilometer dari pusat kota kecamatan terbagi dalam 3 kompleks utama. Pertama adalah Pura Batu Paras. Kedua Pura Ratu Gede (Dalem) Slimpet yang didedikasikan sebagai pemujaan Ratu Gede Mas Macuet, yang merupakan keluarga Ratu Gede (Mas) Mecaling di Pura Ped.

Dalam hitungan kalender Bali atau pawukon, Pujawali Pura Puser Sahab jatuh pada Buda Umanis,Wuku Medangsia. Tepat Rabu, (5/8), Pura yang diempon oleh 290 KK dari tiga desa pekraman ini menggelar upacara pujawali. Ketua Panitia, I Ketut Sutama, mengakui ada tiga desa pekraman yang menjadi pengempon tetap.

“Piodalan yang jatuh pada hari ini. Untuk pengempon sebanyak 290 KK dari tiga Desa Pakraman yakni Mujaning Temeling ( Batumadeg ), Tri Wahana Dharma (Batukandik), dan Panca Mekar Sari (Klumpu),”terang Sutama.
Menilisik lebih jauh, Tim Nusa Penida Post meminta penjelasan terkait sejarah pura dan pembangunan kepada seorang pendeta, Jro Mangku Oka. Menurut Mangku Oka, pujawali kali ini diawali dengan melaspas sejumlah pelinggih.
“Rangkaian upacara pujawali diawali dengan upacara melaspas pelinggih yang baru dibugar yakni Meru Tumpang sia dan Bale Ringgitan. Puncak piodalan berlangsung Rabu kemarin hingga nyejer 5 hari sementara nyinep-nya Senin depan,” tutur Jro.

“Pura Puser Sahab didirikan sejak zaman Prabu Renggan yang sebelumnya mendirikan Pura Puncak Mundi. Pada tahap awal Prabu Renggan mendirikan padma yoni menghadap ke timur. Setelah selesai pelinggih antara Pura Puser Saab dan Pura Puncak Mundi, beliau melanjutkan mendirikan beberapa pelinggih di Pura Puser Saab yaitu linggih Bhatara Arca yang bentuk bangunannya sama persis seperti bangunan kuil di Negara Nepal. Berikutnya, beliau juga mendirikan beberapa Pura diantaranya Pura Batu Medau (Desa Suana), Pura Penida (Penida, Sakti), Pura Dukuh Jumpungan (Sukun, Batukandik).

Ketiga kompleks pura yang ada memiliki fungsi masing-masing. Pura Batu Paras berstana Siwa Astawa yang berfungsi sebagai pembersihan (penglukatan). Pura Ratu Gede Selimpet uniknya setiap pujawali terlebih dahulu harus menghaturkan sesaji (mepiuning) dengan sarana banten dan isinya jeroan daging babi mentah yang lengkap. Sementara warga sekitar apabila melakukan upacara yadnya harus terlebih dahulu menghaturkan sesaji dengan sarana yang sama. Apabila lambat matur piuning maka sarana upacara secara otomatis menjadi berkurang atau timbul sesuatu yang tidak diinginkan. Sebaliknya setelah mapiuning di pelinggih tersebut maka otomatis sarana upacara menjadi utuh dan lengkap kembali dan bau yang tidak sedap menjadi hilang. Berbagai keanehan yang tidak bisa dijelaskan tersebut sering dialami panitia dan warga.

Pura Ratu Gede Selimpet didirkan setelah pelebon Ratu Mas Mecuet. Melalui pewisik, beliau ingin dibuatkan pelinggih (Pura Dalem) yang mana tempatnya di Selimpet. Selanjtunya lebih dikenal Pura Ratu Gede Selimpet (linggih Ida Ratu Gede Mas Macuet) yang berstana di Pelinggih bebaturan Selimpet (Mrajapati) dan menjadi rencang-rencang Ida Bhatara Puser Saab.

Sementara Pura Puser Sahab ditandai dengan adanya sebuah pancer batu besar berada tepat ditengah utama mandala. Perubahan nama puseh menjadi puser terjadi ketika renovasi gedong arca dan adanya pewisik yang diterima para pamangku. Anehnya, areal utama mandala tidak merasakan getaran ketika terjadi gempa. Sehingga mulai saat itu masyarakat menyebutnya Pura Puser Sahab. Satu-satu Pura Sad Kahyangan yang ada di Nusa Penida yang menyimpan puluhan arca kun dan konon jumlahnya bisa berubah-ubah.
“Arca tersebut jumlahnya bisa sedikit bisa banyak terbukti pada saat piodalan. Ketika pembuatan karawista sudah terhitung sesuai prelingganya tapi setelah dipasang karawista akhirnya berkurang. Kejadian ini terlihat setelah pada sasih kawulu jumlahnya arca banyak sedangkan sasih ketiga justru berkurang. Setiap upacara yadnya yang diselenggarakan warga Nusa Penida terlebih dahulu nunas tirta di Pura Puser Sahab untuk memohon kelancaran upacara yang dilaksanakan,” jelas Jro Oka.

Reporter: Santana Ja Dewa

Editor: I Gede Sumadi