Pudarnya Tari Joged Bumbung di Nusa Penida

NUSAPENIDA, NUSA PENIDA POST
Budaya Bali erat kaitannya dengan seni, termasuk seni tari. Seni tari dipentaskan saat ritual, malam apresiasi  dan pementasan hiburan. Tari-tarian  berdasarkan kegunaannya terbagi atas Tari Wali, Tari Bebali, dan Tari Balih-balihan. Tari wali berfungsi dipentaskan saat upacara keagamaan yang sakral, Tari Bebali pengiring  jalannya upacara, dan Tari Bali-balihan sebagai seni pertunjukan hiburan. Tari Joged salah satu tarian  hiburan yang ada di Nusa Penida, kabupaten Klungkung, Bali. Tari joged merupakan gabungan Gandrung dan Oleg. Tari ini memiliki pola gerak yang bebas, lincah, dinamis, dan komunikatif dengan penonton karena antara penonton dan penari ada acara ngibing atau nyawer ( semacam dansa tetapi tidak sama persis ). Pengibingnya biasanya pria dan penari jogednya adalah seorang perempuan.

Penari Joged Bumbung dan pengibingnya ( Foto : Omang Surya )

Penari Joged Bumbung dan pengibingnya ( Foto : Omang Surya )

Tari Joged diiringi gamelan bamboo karenanya sering disebut joged bumbung, bumbung berarti bambu. Penari joged biasanya berpenampilan berhiaskan mahkota melengkung,. Mahkotanya ditutup bunga cempaka atau kamboja berlapis-lapis. Diyakini Tari Joged sebagai tari  pergaulan berkembang di daerah agraris. Di Nusa Penida kelompok kesenian tari Joged salah satunya pernah ada di Desa Batumadeg. Joged Bumbung Batumadeg sempat popular di Nusa Penida.  Diminta pentas hampir diseluruh desa Nusa Penida pada masa jayanya yaitu berkisar tahun 1990-an.   Pementasannya dilakukan ketika ada pembayaran sesangi ( red : Kaul ) , Upacara manusa Yadnya, pascapanen dan hari raya keagamaan lainnya. Hal itu dikemukakan I Kadek Hendra (24 th) pada Nusa Penida Post 2 Oktober 2013.  Pemuda dari Desa Batumadeg Nusa Penida ini lebih lanjut mengatakan “sekarang sekehe joged sudah kurang diminati, lagi pula sekehe joged kekurangan penari” . Kekurangan penari karena penari yang semula berasal gadis dari desa Batumadeg sekarang para gadis malu dan enggan menari Joged  bumbung, sehingga joged Batumadeg sekarang mati suri”. Penari Joged di Batumadeg sekarang  penarinya anak-anak, itupun dipentaskan kalau ada yang memadik ( red : menyewa ), terang Kadek Hendra yang berprofesi Guru disebuah SD Negeri di Nusa Penida ini dengan getir.

Pernyataan I Kadek Hendra tentang pudarnya pementasan tari Joged bumbung di Nusa Penida itu diamini I Wayan Gina (36 th) warga Dusun Semaya pada 2 Oktober 2013 pada Nusa Penida Post. Gina menjelaskan dengan bahsa khas Nusa Penida. “Pidan te haje he ade igel-igelan joged, byase rame ibe mebalih ajak ngibing”. “Jani trade babar, hean band lagu-lagu bali duang” ( red  : dulu banyak pementasan tari joged di Nusa Penida,  ramai yang menonton dan nyawer. Sekarang kebanyakan digantikan pementasan band dan lagu-lagu  Bali ). Ketika hal pudarnya pementasan Joged dikonfirmasi pada I Ketut Pasek Sujana selaku pemerhati kesenian di Nusa Penida yang menjabat sebagai Ketua Yayasan Nusa Wisata ini menyebutkan selain karena Sekehe Joged yang mulai tidak ada regenerasi penari dan penabuh, kurangnya minat masyarakat untuk mementaskan Joged sebagai kesenian yang cukup merakyat ini karena hiburan televise dan film yang sekarang mudah diakses melalui siaran TV dan video yang menjamur dihandphone maupun Video CD”.  “Sehingga hal inilah menjadi penyebab seni tari Joged Bumbung menjadi pudar dan terkesan mati suri.  Mestinya ada upaya yang dilakukan dengan menghidupkan kelompok Joged melalui sanggar maupun acara-acara kesenian yang dipentaskan saat acara Ulang Tahun STT ataupun Pesta Kesenian Bali”, terang Pasek dengan mimik serius.

Reporter : I Kadek Sumawa