Proyek Reverse Osmosis Terkesan Asal-asalan dan Mati di Tengah Jalan

DESA SUANA, NUSA PENIDA POST

Nusa Penida Post Vol. 33

Untuk Download Nusa Penida Post Vol 33 klik gambar di atas!

Upaya pemerintah maupun swasta untuk menyelesaikan berbagai masalah di Nusa Penida sudah cukup banyak. Hasilnya, tidak sedikit program-program tersebut hanya sebagai proyek belaka yang numpang lewat dan terkesan menghabiskan anggaran tanpa merencanakan jangka panjang  dan memperhitungkan keberlanjutannya.

Hal semacam ini dapat kita jumpai pada bantuan alat pengubah air laut menjadi air minum dengan standar yang cukup baik. Bantuan ini diberikan di Banjar Semaya dan Banjar Angkal, Desa Suana. Alat yang bertenaga sel surya merupakan bantuan dari Kementerian ESDM saat acara konferensi dunia perubahan iklim tahun 2007, di Nusa Dua. Kualitas hasil olahan alat ini sangat bagus ditandai hasil cek laboratorium dan diperkuat pengakuan masyarakat yang mengkonsumsi air tersebut.

Mula-mula air hasil produksi reverse osmosis (RO) yang bertenaga matahari ini berjalan dengan lancar dan dikelola oleh desa adat untuk dijual ke masyarakat. “Setiap hari produksinya rata-rata 50 galon dan habis terjual dengan cara menaruh ditoko-toko pelanggan. Namun hal itu hanya berlangsung 8 bulan saja setelah itu alat mulai rusak,” terang I Wayan Murka (40) pengelola air minum asal Dusun Angkal (18/8/2013). Masyarakat di Banjar Semaya juga mengeluhkan hal yang sama. “Alat yang ada di Dusun Semaya mulai sering rusak dalam selang waktu satu tahun dan sekarang sudah mangkrak total,” tutur I Ketut Suarna Bendesa Adat Semaya (18/8). Padahal menurut konsultan yang memberikan penjelasan saat serah terima harga alat tersebut mencapai miliaran belum termasuk harga sel surya plus instalasinya. Sehingga sangat mungkin nilai satu instalasi 1 alat reverse osmosis  mencapai 1,5 miliar rupiah.

Proyek Reverse Osmosis untuk mengubah air laut menjadi air minum terancam mubazir dan asal-asalan

Proyek Reverse Osmosis untuk mengubah air laut menjadi air minum terancam mubazir dan asal-asalan

Kedua program pengolahan air laut menggunakan alat reverse osmosis ini disinyalir proyek mercusuar sebagai bentuk kampanye energi ramah lingkungan yang tidak berkelanjutan. Malah proyek alat yang berbiaya besar ini terkesan menghambur-hamburkan uang negara yang mencapai miliaran tiap unitnya. Ini sangat disayangkan oleh masyarakat ditengah kebutuhan air bersih sebagai kebutuan vital, harusnya programa yang dibuat harus terencana dan berkelanjutan dengan mempertimbangkan pelatihan perawatan dengan analisa yang matang. Tidak seperti yang kita saksikan sekarang pada proyek alat RO pengubah air laut menjadi air minum ini.

“Masalah utamanya adalah spare part dari komponen-kompenen peralatan RO yang sulit dicari di Bali. Ini sudah pernah diupayakan oleh pengeloala air minum dari Banjar Angkal sampai mencari ke Denpasar, tetapi nyata ada beberapa alat tidak tersedia sehingga alatnya tidak berfungsi,” ujar Wayan Murka dengan lantang. RO yang ada Dusun Semaya pun nasibnya serupa, akibat kelangkaan spare part, alat ini pun tidak aktif lagi. Alhasil kedua RO ini tidak berfungsi sama sekali, hanya peralatan yang masih terpancang namun tak berfungsi. Kalau kita berandai-andai, kedua alat RO yang bernilai miliaran ini dijadikan cubang (red; sumur) atau dikonversi ke peralatan untuk menaikkan mata Peguyangan, mata air Dlundungan, Seganing dan Temeling mungkin akan lebih berguna dan berkelanjutan. Sangat disayangkan, pemegang kebijakan dengan berbagai dalih dan alasan selalu membuat program ataupun proyek hanya untuk mengejar keluarnya anggaran tetapi bersifat seumur jagung dan bisa dikatakan hangat-hangat tahi ayam.

Reporter: Yan Su