Produksi Melimpah, Garam Petani Justru Sepi Pembeli

DAWAN, NUSA PENIDA POST

Kehidupan petani garam di wilayah Kusamba, Kecamatan Dawan semakin memprihatikan. Tidak hanya masalah regenerasi petani tetapi sepinya pembeli membuat sejumlah pengrajin beralih profesi. Hasil penelusuran pada Minggu pagi, (13/12) lalu hanya segelintir petani yang masih bertahan. Menanggapi keluhahan petani, sejumlah SKPD menggelar pertemuan di Kantor Desa Kusamba pada Selasa pagi, (15/12) untuk mencari solusi. Pertemuan dihadiri perwakilan Dinas Perindustrian dan Perdagangan, BPMPD, Diskes, Ketahanan Pangan, Dinas PPK, Tim Ahli, Kepala Desa Kusamba, PDNKK, PT. Bening dan Bappeda Klungkung termasuk kelompok petani garam.

Sepinya pembeli garam membuat kehidupan petani garam di Kusamba semakin terpuruk

Sepinya pembeli garam membuat kehidupan petani garam di Kusamba semakin memprihatinkan

I Ketut Winastra yang juga Perbekel Desa Kusamba mengakui nasib petani garam di wilayahnya semakin terpuruk akibat sepinya pembeli. Ia juga menyampaikan bahwa banyak petani garam yang terpaksa pindah profesi demi menyambung hidup.

“Tidak ada yang membeli garam petani kami di sini. Karena itu stok garamnya berton-ton. Akhirnya banyak petani garam yang beralih profesi. Anak-anak muda tidak mau menjadi petani garam, yang masih bertahan mereka yang usianya diatas 50 tahun keatas, dikhawatirkan petani garam akan punah,” papar Winastra di sela-sela pertemuan.

Hal yang sama juga dipertegas oleh Ketua Kelompok Merta Segara, I Wayan Rena. Menurutnya, jumlah produksi garam sebesar 10 hingga 20 kilogram per hari bagi setiap petani masih menumpuk di gudang.

“Kami punya stok garam sampai 4 ton. Stock itu ada karena pembelinya tidak ada. Sehari kami bisa menghasilkan garam 10 sampai 20 kilo sehari pada musim panas. Biasanya harga untuk kualitas garam biasa Rp. 3.000 per kilogram dan kualitas super yang dibeli tamu Rp. 10.000,- perkilogram,” jelasnya.

Disisi lain, PT. Bening yang memiliki tempat produksi garam di Jumpai justru membeli garam di wilayah Goris, Gerokgak, Buleleng. I Made Budi yang hadir mewakili PT. Bening menjelaskan bahwa pihaknya membeli garam dengan pertimbangan kualitas. Pihaknya siap membeli garam petani di Kusamba asalkan memenuhi kualitas standar.

“Kami siap membeli hasil produksi petani di Kusamba, ketimbang kami beli ke Gerokgak jauh-jauh. Tapi kami minta kualitasnya sesuai standar yaitu produksi tidak menggunakan karet, spon atau plastik,” terang Budi

“Pembeli kami kebanyakan dari pihak hotel, restoran di Sumatera, Kalimantan dan Bali ingin garam organik yang bebas kimia. Sehingga kami minta produksi menggunakan bambu atau pohon kelapa secara tradisional,” pintanya.

Sementara Kabid Ekonomi Bappeda Klungkung, Kusmayadi berpendapat ada peluang besar untuk meningkat kesejahteraan petani garam mengingat Kementrian Kelautan dan Perikanan mengeluarkan kebijakan untuk menghentikan impor garam. Tim Ahli Pemkab Klungkung yang hadir memberi masukan dengan skema pembelian garam oleh Pemkab yang selanjutnya dikemas dan di pasarkan secara terpadu.

“Kami Bappeda Klungkung diminta untuk membuat kajian dan mencarikan solusi bagaiamana petani garam di Kusamba kesejahteraannya bisa meningkat. Apalagi ketika Bapak Bupati kemarin menerima penghargaan dari Menteri Kelautan dan Perikanan mendengar pemerintah pusat akan menstop impor garam. Ini peluang,” papar Kusmayadi

“Carikan petani garam ini solusi. Misalnya pemerintah Daerah Klungkung membeli produksi dan mengupayakan pengkemasan dan mencarikan pemasarannya. Itu bisa menjadi salah satu solusi,” imbuh Nyoman Sudipa selaku Tim Ahli Pemkab Klungkung.

Reporter: Santana Ja Dewa

Editor: I Gede Sumadi