Warning: Use of undefined constant ĎDISALLOW_FILE_EDITí - assumed 'ĎDISALLOW_FILE_EDITí' (this will throw an Error in a future version of PHP) in /home/npm2017/public_html/wp-config.php on line 36
Nusa Penida Media | Populasi Tak Terkendali, Kera Serbu Pemukiman Warga
 

Populasi Tak Terkendali, Kera Serbu Pemukiman Warga

NUSA PENIDA, NUSA PENIDA POST

Kera ekor panjang adalah fauna asli Asia tropis yang tersebar di daratan Kamboja, Vietnam, Thailand, Kepulauan Sumatra, Jawa, Bali sampai Pulau Timor. Satwa ini memiliki tingkat adaptasi yang tinggi terhadap kondisi lingkungan  dan sumber makanan. Kera ekor panjang (Macaca fascicularis) juga bisa ditemukan di Nusa Penida dan menjadi salah satu sumber keanekaragaman fauna. Dalam dua dasa warsa belakangan, hewan yang masuk ordo primata ini mengalami ledakan populasi yang cukup besar. Hal ini akibat ketidakseimbangan ekosistem, hewan predator kera ini juga sama sekali tidak ada disamping perburuan yang biasa dilakukan oleh masyarakat jaman dulu juga sudah dilarang.

Meningkatnya jumlah populasi bojog (red; kera) menimbulkan masalah baru, yaitu berkurangnya pasokan makanan. Berkurangnya stok makanan di alam liar membuat ribuan kera menyerbu ladang dan perkebunan warga bahkan merambah ke areal pemukiman. Tidak hanya memakan ketela pohon, kacang tanah, dan jagung bahkan nanas serta buah kelapa yang sudah tua pun ikut dijarah oleh kawanan kera yang kelaparan.

Kawasan hutan tidak mampu mensuplai makanan akibat ledakan populasi kera

Kawasan hutan tidak mampu mensuplai makanan akibat ledakan populasi kera

Di sejumlah tempat, warga mengamankan kebun mereka dengan memasang jaring bekas penangkap ikan atau sengaja membuat jaring sendiri namun upaya ini tidak maksimal karena hanya mampu bertahan beberapa bulan. I Wayan Sanggra (62), warga Banjar Celagilandan, Desa Suana memagari kebun singkong miliknya dengan jaring bekas yang dikaitkan dengan batang pohon secara vertical. Sementara tetangganya, Elop (51) terpaksa harus menunggui kebunnya karena jaring miliknya sudah rusak. Letak kebunnya memang persis di atas bukit dan dikeliling hutan, mulai dari hutan Gunung Sari yang tembus ke Karang Sari di sebelah barat dan di bagian selatan ada Tukad Merarik yang tembus ke Tukad Melangit sampi ke sisi atas yakni Banjar Jurang Batu, Kelemahan, Pejukutan, Sehang dan Gepuh.

‚ÄúTiang nunggu bojog dimel kanti peteng, yen tare menek ye, telah gayet butbute. Kayang nyuh tare hange nunu,‚ÄĚ (red; saya menjaga kebun sampai senja, kalau tidak, semua singkong akan habis dicabut dan dimakan kera. Sampai kelapa pun tidak ada yang tersisa), jelas Elop di kebunnya (1/1).

Keadaan ini membuat warga semakin resah. Kera-kera ini pun semakin berani memasuki areal pemukiman meskipun ada aktivitas warga. Menurut warga, I Gede Tanjung saat dikomfirmasi, Jumat (17/1), minimnya ketersedian makanan di sekitas hutan membuat kera masuk ke pemukiman bahkan kera ini kerap mengganas.

‚ÄúTingkat populasi kera sangat cepat, sempat kemarin ada wacana memandulkan kera tapi sayang tidak bisa terlaksana. Sekarang tidak hanya tanaman di lahan pertanian diserobot, setelah habis kera pun menyerang pemukiman warga,‚ÄĚ terang Tanjung.

Warga pun tidak bisa berbuat banyak. Jika kera langsung dibunuh dinilai kurang efektif malah menjadi sorotan dari LSM pemerhati hewan. Menurut warga, Ni Komang Riani (33), upaya menekan peningkatan populasi kera cukup sulit dilakukan. Ia berpendapat solusi yang tepat yakni menanam buah-buahan di tanah milik negara.

‚ÄúSelain menanam buah-buahan di lahan milik negara terutama areal hutan, kesadaran warga untuk menjaga hutan juga turut memberi andil. Selanjutnya ada¬† terobosan dari instansi terkait untuk mengontrol tingkat populasi kera,‚ÄĚ tegas Riani.

Reporter:  Santana Ja Dewa

Editor: I Gede Sumadi