Peringatan Hari Laut Dunia dan Segitiga Karang, Stop Buang Sampah ke Laut

NUSA PENIDA, NUSA PENIDA POST

Peringatan Hari Lingkungan Hidup, Laut Dunia dan Hari Segitiga Karang dilaksanakan di sejumlah titik dengan berbagai rangkaian kegiatan termasuk melahirkan deklarasi ‘Stop Buang Sampah ke Laut’. Balai Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut (BPSPL) Denpasar menggandeng Pemerintah Propinsi Bali, Kabupaten Klungkung, Kabupaten Karangasem dan stakeholders pengelolaan konservasi sumberdaya kelautan dan perikanan melakukan aksi bersih-bersih di laut. Agenda kegiatan berlangsung sejak Selasa, (6/6) dengan lomba cerdas tangkas tingkat SMP yang berlangsung di Pantai Penida atau Crystal Bay. Sementara bersih-bersih laut dilaksanakan serentak di sejumlah kawasan perairan pada Kamis, (8/6) dan ditutup dengan pemberian penghargaan oleh Bupati Klungkung I Nyoman Suwirta ke berbagai pihak yang andil dalam mendukung kegiatan konservasi di Nusa Penida dan penandatangan deklarasi yang diisi pentas Wayang Samudera pada Jumat (9/6) kemarin.

Aksi bersih laut pada peringatan Hari Laut Dunia olek Komunitas Penyelam Lembongan (KPL)

“Kami menyambut baik inisiatif yang dilakukan pemerintah, pemerintah daerah dengan dukungan mitra di Padang Bai-Bali, Nusa Penida-Bali, Mataram-Nusa Tenggara Barat dan daerah lain di Indonesia dalam berkomitmen membatasi buangan di laut dengan mengurangi sampah plastik serta melakukan konservasi sumberdaya ikan,” tulis Direktur Jenderal Pengelolaan Ruang Laut, Brahmantya Satyamurti Poerwadi dalam rilisnya di Jakarta (7/6).

Secara global, Indonesia menduduki peringkat kedua penghasil sampah plastik setelah Cina. Sampah plastik dan mikroplastik dinilai sebagai ancaman besar bagi keberlangsungan kehidupan bahari. Buruknya manajemen sampah di daratan ditengarai menjadi menjadi faktor penyebab utama. Rencana Aksi Nasional untuk mengurangi sampah plastik laut yang sudah disusun oleh Pemerintah Indonesia sudah mendesak dilaksanakan. Kelima pilar utama meliputi perubahan perilaku, mengurangi produksi sampah di darat, mengurangi produksi sampah dari aktivitas di laut, mengurangi produksi dan penggunaan sampah, serta meningkatkan mekanisme pendanaan, reformasi kebijakan dan penegakan hukum yang pelaksanaan membutuhkan perubahan perilaku yang besar.

“Ikan adalah yang paling terdampak akibat sampah mikroplastik di laut. Karena berukuran sangat kecil, mikroplastik bisa termakan oleh ikan yang akhirnya dimakan manusia,” terang Suko Wardono, Kepala Balai Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut (BPSPL) Denpasar.

Penelitian sampah plastik pada perairan Kawasan Konservasi Perairan Nusa Penida yang merupakan habitat Ikan Pari Manta SIARAN PERS 2 menunjukkan bahwa ikan pari manta memakan plankton yang mengandung sampah mikroplastik diperkirakan 40-90 potong sampah per jam. Tipe sampah plastik didominasi oleh film (59%) dan fragment (28%), sisanya monofilament (3%), foam (3%) dan bahan lain (3%). Dari sisi ukuran, sampah plastik didominasi ukuran 1-5mm (67%), < 1mm (17%), 5-10mm (8%), 20-200mm (4%), 10-20mm (3%), >200mm (1%). Data ini setidaknya memberi gamabaran akan ancaman nyata sampah plastik bagi kelestarian ekosistem secara keseluruhan.

“Ini peringatan bagi kita semua bahwa bisa jadi populasi ikan pari manta bahkan mola-mola yang menjadi ikon Nusa Penida terancam di masa yang akan datang. Pada akhirnya minat wisatawan akan menurun,” tambah Suko.

Aksi bersih laut yang dimotori BPSPL Denpasar bersama Pemerintah Propinsi Bali, Kabupaten Klungkung, Kabupaten Karangasem dan menggandeng pihak Coral Triangle Center (CTC), Perkumpulan Penyelam Profesional Bali (P3B), Gahawisri Klungkung, Gahawisri Karangasem, Lembongan Marine Association (LMA), Komunitas Penyelam Lembongan (KPL), Nusa Dua Reef Foundation (NDRF).  Bersih laut di kawasan Padang Bai dibagi pada 5 titik penyelaman di sekitar Padang Bai masing-masing Jepun 1, Jepun 2, Blue Lagoon, Baung Penyu, Tanjung Sari dan Bias Tugel sementara perairan Nusa Penida dibagi menjadi 4 kelompok yang menyisir sisi utara yakni Buyuk, Sental, Ped dan SD Point.

Hasilnya, sampah yang terkumpul didominasi tali bekas dan plastik. Ketua Komunitas Penyelam Lembongan (KPL), I Wayan Gede Lama menyebut menjaga kebersihan laut sangat penting untuk wisata bahari berkelanjutan.

“Kami dari KPL akan selalu menjaga kebersihan pantai dan laut, sehingga apa yang kita harapkan wisata bahari yang berkelanjutan bisa kita nikmati bersama. Sebelum reef clean up kami juga melakukan aksi bersih pantai yang digabung dengan kegiatan Guy’s Trust,” papar Gede.

Reporter: I Gede Sumadi & I Wayan Bagiayasa

Editor: I Gede Sumadi