Penambang Batu Kapur Meninggal Tertimpa Runtuhan

BATUKANDIK, NUSA PENIDA POST

Pemanfaatan pasir laut untuk keperluan material pembangunan sudah dilarang sejak hampir 10 tahun lalu. Pelarangan itu dilakukan mengingat wilayah pesisir Nusa Penida rentan dengan abrasi. Untuk memenuhi kebutuhan material bangunan, warga memilih jalur alternatif dengan menambang batu kapur. Praktek penambangan marak terjadi di kawasan Pegunungan Mundi karena jenis batunya tidak begitu keras sehingga lebih mudah untuk ditambang. Beberapa tahun lalu, aktivitas penambangan sempat terhenti akibat ada korban akibat tertimpa batu namun tinggi permintaan bahan membuat warga rela bersabung nyawa menambang batu kapur demi dapur agar tetap mengepul.

Proses evakuasi korban tertimpa runtuhan tambang batu kapur cukup sulit dengan alat seadanya

Proses evakuasi korban tertimpa runtuhan tambang batu kapur cukup sulit dengan alat seadanya

Penambangan sendiri dilakukan secara tradisional dengan peralatan seadanya dan minim  alat keselamatan. Bahaya pun bisa mengancam sewaktu-waktu. Nasib naas dialami tiga penambang yang meninggal tertimpa runtuhan bongkahan batu. Penambangan dilakukan di wilayah Banjar Tulad, Desa Batukandik. Informasi di lokasi penambangan di Banjar Tulad menyebutkan ketiga penambang batu kapur yang meninggal adalah Kadek Sunanti (51), Ketut Candri (60) serta Nyoman Suparta (37). Menurut sejumlah sumber, kejadian berlangsung sangat cepat tepatnya sekitar pukul 12.30 Wita ketika para pekerja sedang istirahat di sisi tebing. Tebing yang labil tiba-tiba ambrol dan menimpa para penambang.

“Mereka sedang istirahat, tiba-tiba suara gemuruh disusul bongkahan batu menerjang mereka,” tutur Perbekel Desa Batukandik, I Wayan Katon saat ditanya di TKP, Kamis (4/6). Katon juga meminta penambangan dihentikan menuggu koordinasi dengan pihak terkait.

Hingga tadi siang proses evakuasi jenasah salah satu korban masih tetap dilakukan mengingat tebalnya runtuhan bebatuan yang menimpa korban. Dua jenasah korban sebelumnya sudah ditemukan meski warga dan tim evakuasi bekerja hingga pukul 21.00. minimnya peralatan membuat tim melanjutkan pencarian hingga siang tadi. Jenazah terakhir yang ditemukan adalah Nyoman Suparta dengan kondisi tubuh korban remuk akibat tertimpa runtuhan bebatuan. Sejumlah keluarga korban tampak syok menyaksikan proses evakuasi.

Kapolsek Nusa Penida AKP I Gede Arianta saat berada di TKP mengakui lokasi penambangan sangat berbahaya dengan tebing tinggi hampir 15 meter. Ia pun berterimakasih berkat kesigapan masyarakat, proses evakuasi berjalan cukup lancar.

“Kami sangat berterima kasih kepada warga ikut proses evakuasi serta unsur muspika Kecamatan Nusa Penida, Koramil, TNI AL dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah Klungkung (BPBD). Selanjutkan harus ada kordinasi dengan unsur terkait tentang penambangan ini apakah perlu ijin atau tidak,” ucap Arianta

Reporter : Santana Ja Dewa

Editor: I Gede Sumadi