Pemuda Sebunibus Minta Desa Adat Bersikap Terkait Proyek Reklamasi

SAKTI, NUSA PENIDA POST

Elemen pemuda Desa Pakraman Sebunibus pada Minggu kemarin, (17/4) menggelar pertemuan dengan jajaran pengurus desa pekraman yang bertempat di Pura Puseh setempat. Rapat yang dihadiri tokoh muda ini meminta agar Desa Pekraman Sebunibus menyatakan sikap terkait mega proyek reklamasi Teluk Benoa yang tengah menjadi polemik. Sebelumnya, puluhan desa adat di Bali yang tergabung dalam Pasubayan Desa Adat menyatakan sikap dengan tegas menolak dengan berbagai pertimbangan, salah satunya wilayah ini masuk kawasan suci yang harus dipertahankan.

Elemen Pemuda Sebunibus mendorong agar Desa Adat bersikap terkait mega proyek reklamasi Teluk Benoa

Elemen Pemuda Sebunibus mendorong agar Desa Adat bersikap terkait mega proyek reklamasi Teluk Benoa

Mirisnya sejumlah desa adat yang ada di wilayah pesisir yang rentan terkena dampak reklamasi justru masih gamang dalam bersikap. Di sisi lain, gelombang penolakan kini semakin membesar ibarat bola salju. Tidak hanya di Bali daratan, warga di Pulau Lembongan juga menyuarakan penolakan bahkan beberapa kali ikut aksi  turun ke lapangan. Kini sikap kritis kaum muda juga mulai bergema di wilayah Desa Pekraman Sebunibus.

“Kami mendorong desa pekraman untuk bersikap dengan rencana reklamasi, apakah itu hitam, putih atau abu-abu,” terang koordinator kegiatan, Pande Bagus Gede Guna Sesana yang diminta konfirmasi usai pertemuan.

Usai pertemuan, pihak desa adat belum berani memberi keputusan resmi mengingat usulan ini harus disampaikan pada paruman yang melibatkan 6 banjar adat yang berada di bawah naungan Desa Pekraman Sebunibus. Keputusan baru akan disampaikan setelah rapat besar yang melibatkan seluruh krama dalam kurun waktu satu bulan.

“Dari desa adat minta tempo selama 1 bulan karena harus disampaikan dulu usulan ini hingga ada keputusan resminya,” imbuh Guna

Kronologis Perusakan Baliho

Sebelumnya, sejumlah baliho tolak reklamasi yang sempat terpasang di beberapa titik dirusak orang tidak dikenal. Tidak hanya sekali, perusakan dilakukan hingga dua kali. Berdasarkan informasi yang dihimpun di lapangan, kelompok pemuda memasang satu baliho pada sabtu, (2/4). Berikutnya pemasang juga dilakukan pada Selasa, 5 April namun keesokan harinya, baliho sudah dalam kondisi rusak diduga dibakar olah oknum tidak bertanggunggjawab. Isu liar juga sempat berkembang bahwa para pemuda mendapat bantuan dana Rp 1.000.000 untuk pemasangan baliho, kontak isu ini dibantah keras.

Baliho tolak reklamasi yang dipasang Pemuda Sebunibus dirusak orang tidak dikenal

Baliho tolak reklamasi yang dipasang Pemuda Sebunibus dirusak orang tidak dikenal

“Tidak ada yang ngasi uang, logikanya darimana coba. Itu murni gerakan moral dari kami. Tidak ada yang backing kami, kita bukan investor atau cukong kok” sindir Pande Mardana yang juga getol menyuarakan aksi tolak reklamasi.

Prihatin dengan aksi perusakan, para pemuda kembali memasang baliho baliho baru pada tempat yang sama pada Kamis, (7/4). Parahnya, selang dua hari (9/4) baliho pengganti kembali dirusak. Menanggapi aksi perusakan yang berulang, pemuda langsung mengagendakan rapat dan mendorong desa adat agar bersikap tegas tentang reklamasi yang sedang bergulir.

Reporter: I Komang Budiarta

Editor: I Gede Sumadi