Pemilukada Klungkung, 23 Agustus 2013: Ayo Pulang Gunakan Hak Pilih Anda, Jangan Jadi Pocongan (Golput)

Nusa Penida, Nusa Penida Post

Jumat, 23/8/2013, masyarakat Klungkung akan menentukan pemimpin untuk 5 tahun ke depan. Tensi politik menjelang pemilihan meningkat tajam. Berbagai trik dan intrik dimainkan untuk menggaet pemilih tak terkecuali model black campaign.

Nusa Penida Post Vol. 33

Untuk download Nusa Penida Post Vol.33, klik gambar di atas!

Pemilukada kali ini diharapkan menjadi titik balik kegamangan masyarakat terhadap pemimpin terdahulu. Berdasarkan data yang diterima dari KPU Kabupaten Klungkung, ada empat pasangan ikut memperebutkan Klungkung 1 dan 2. Keempat pasang kandidat itu memperebutkan suara sebanyak 154. 860 daftar pemilih tetap (DPT). Pasangan nomor urut 1 adalah Tjokorda Bagus Oka dan Ida Bagus Adnyana (Paket Bagus). Nomor urut 2 diisi oleh pasangan Anak Agung Gede Anom dan I Wayan Regeg (Paket Anreg). Posisi urut 3, ada pasangan Tjokorda Raka Putra dan Putu Tika Gunawan (Rasa). Pasangan nomor 4 yaitu I Nyoman Suwirta dan I Made Kasta (Suwasta).

Gegap gembita pesta demokrasi di Klungkung  menyisakan masalah, yaitu prediksi tingginya angka golput (Golongan putih) atau kalau diumpamakan seperti pocongan. Istilah golput mengacu pada pemilik hak suara yang tidak mau menggunakan hak pilihnya. Berkaca dari tingginya angka golput pada pemilihan Gubernur Bali, 15/5/2013, dari jumlah DPT yang mencapai 2.925.679, tercatat pemilih golput menyentuh 26% atau sekitar 766.445 pemilih. Kekhawatiran lonjakan pemilih golput pada Pemilukada Klungkung beralasan terutama pemilih di daerah Nusa Penida yang notabena bekerja di luar daerah.

Arus mudik di sejumlah pelabuhan penyeberangan mengalami peningkatan jelang Pemilukada Klungkung

Arus mudik di sejumlah pelabuhan penyeberangan mengalami peningkatan jelang Pemilukada Klungkung

“Penyumbang angka golput terbesar pastilah masyarakat Nusa yang tinggal di perantauan yang masih pegang KTP dan punya hak nyoblos di kampungnya, ada sekitar 10.000-an warga perantauan, karena kesibukan, mungkin hanya 5.000 saja yang bisa pulang nyoblos” terang I Ketut Pesta yang dikonfirmasi, Selasa 20/8/2013. Ketut yang juga mencalonkan diri sebagai anggota DPD daerah Bali juga menjelaskan bahwa untuk masyarakat yang tinggal di Nusa, tingkat golput pasti kecil karena mereka umumnya patuh dengan aturan desa atau adat. “Saya rasa tingkat partisipasi mereka bisa mencapai 90%,” tambahnya.

Data analisis Litbang Nusa Penida Media menunjukkan ada beberapa penyebab yang mendorong munculnya kelompok golput. “Ada sejumlah faktor yang membuat masyarakat enggan mengurusi politik, termasuk pemilukada. Golput menjadi bentuk luapan kekecewaan masyarakat terhadap politikus dan juga pemerintah’’ papar I Komang Oka Sanjaya selaku Kepala Litbang Nusa Penida Media, Senin, 19/8/2013. Ia pun merinci alasan yang memunculkan kelompok yang menamai diri golput, pertama adanya rasa kecewa yang teramat sangat terhadap kinerja pemerintah yang dinilai lembek dan buruk serta partai yang juga tak lepas dari skandal korupsi. Kedua, masyarakat berpandangan bahwa tidak ada calon pemimpin yang baik sehingga berpikiran tidak memilih siapapun. Alasan berikutnya, golput dianggap sebagai protes atau silent complaint terhadap pemerintah. Disisi lain, masyarakat cenderung skeptis dan apatis terhadap urusan pemerintah termasuk pemilukada dan menganggap tidak ada gunanya. Pemicu lain adalah kesibukan masyarakat yang terhalang ruang dan waktu.

Masyarakat sekarang harus cerdas dan melek informasi, golput bukanlah sebuah kebanggaan tetapi justru bentuk ketidakpedulian. Apakah kondisi daerah menjadi lebih baik ketika tingkat golput tinggi? Jawabannya pasti tidak. Jika masyarakat berpandangan semua kandidat tidak sesuai harapan dan jelek, itu semata-mata isu yang sengaja digulirkan pihak lawan. Meskipun kita belum kenal semua calon, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi bisa dimanfaatkan sebagai referensi untuk menentukan pilihan. Dari semua paket yang ada, salah satunya pasti akan menjadi pemimpin yang terpilih.  Browsing internet, koran, rekam jejak, visi misi dan debat harus dijadikan acuan untuk memilih. Jika pemilih menolak karena alasan partai sebenarnya bukan bukan partai yang bermasalah, tetapi orang yang mengisi dan tidak semuanya, masyarakat cerdaslah dalam memilih, jangan mau memilih hanya karena uang Rp 100.000 atau Rp 150.000. Kesalahan memilih pemimpin Klungkung berakibatkan fatal yaitu maju mundurnya suatu daerah karena bupatinya terlebih di era otonomi daerah.

Pasangan kandidat cabup dan cawabup Pemilukada Klungkung 2013

Pasangan kandidat cabup dan cawabup Pemilukada Klungkung 2013

“Pertanyaan yang muncul adalah bagaimana kalau semua masyarakat pada pemilukada Klungkung golput?”

Golput atau tidaknya masyarakat dalam pemilukada Klungkung tidak akan menurunkan anggaran biaya yang dikeluarkan dalam sebuah pemilihan. Bahkan anggaran yang digelontorkan terancam mubazir dan sia-sia. Besarnya angka golput juga membuat pemilihan semakin tidak akurat dan memperbesar peluang diadakannya pemilihan ulang dengan konsekuensi anggaran yang membengkak. Golput juga membuat jumlah suara yang diperhitungkan untuk menentukan pemimpin daerah menjadi berkurang sehingga tingkat objektivitas hasil pemilihan diragukan. Jika saja jumlah golput sedikit dan terpilih pemimpin yang tidak cakap maka semua akan merasakan dampaknya, termasuk kelompok yang diidentifikasi golput, kecuali mereka pindah ke daerah lain.

Tak bisa dimungkiri, jika semua golput maka tidak ada peradaban, keamanan apalagi kesejahteraan. Singkatnya kita tidak bisa menuntut kepala daerah terpilih untuk tidak korupsi ataupun mengutamakan kesejahteraan masyarakat tetapi kita punya kesempatan untuk memilih pemimpin yang baik dan cerdas, untuk itu pergunakan hak pilih sesuai hati nurani. Jangan hanya karena jarak dan ongkos, masyarakat harus menelan pil pahit daerah selama 5 tahun. Untuk itu, memilihlah di Pemilukada Klungkung 2013, termasuk yang merantau di Denpasar dan sekitarnya, ayo pulang jangan golput! Ini menentukan nasib Nusa Penida dan Klungkung secara lebih umum, jangan sia-siakan suara dan hak pilih anda.

Reporter: I Gede Sumadi