Warning: Use of undefined constant DISALLOW_FILE_EDIT - assumed 'DISALLOW_FILE_EDIT' (this will throw an Error in a future version of PHP) in /home/npm2017/public_html/wp-config.php on line 36
Nusa Penida Media | Pembangunan Hotel Terancam Batal Jika Pengelola Memakai ABT
 

Pembangunan Hotel Terancam Batal Jika Pengelola Memakai ABT

JUNGUT BATU, NUSA PENIDA POST

Pertumbuhan akomodasi pariwisata di kawasan Lembongan dan Jungut Batu semakin pesat. Bila sebelumnya banyak fasilitas yang dibangun tidak sesuai dengan aturan yang ada, semisal mencaplok kawasan konservasi ataupun sempadan pantai, kini masyarakat mulai kritis. Warga beralasan, pembangunan yang menyalahi aturan bisa berdampak buruk secara ekologi di pulau kecil ini. PT. Mahagiri Nusa Lembongan yang berencana membangun hotel di atas tanah seluas 4.690 meter persegi terancam batal disinyalir ada penolakan warga terkait pihak hotel yang akan memakai air bawah tanah (ABT) untuk operasionalnya. Selain itu, hotel dengan 92 kamar ini tidak memenuhi syarat sempadan pantai, yakni hanya berjarak 85 meter dari bibir pantai.

Warga Jungut Batu masih mengandalkan sumur ABT untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari

Warga Jungut Batu masih mengandalkan sumur ABT untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari

Penolakan warga tentang rencana pihak manajemen yang menggunakan ABT cukup beralasan mengingat hampir seluruh warga Jungut Batu menggunakan air bawah tanah untuk keperluan sehari-hari. Jika diizinkan, bukan tidak mungkin akan berpengaruh besar terhadap suplai air di sumur warga dan memicu terjadinya intrusi air laut. Lambat laun, air sumur pun menjadi asin akibat masuknya resapan air laut. Perbekel Jungut Batu, I Made Gede Suryawan yang hadir pada pembahasan pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup di kantor Badan Lingkungan Hidup, Jumat (29/5) kemarin memberi penjelasan terkait penolakan warganya.

“Saya harapkan tidak menggunakan air bawah tanah dengan membuat sumur bor karena 99 persen masyarakat di Jungut Batu memanfaatkan air bawah tanah untuk kebutuhan sehari-hari,” terang Suryawan sebagaimana dilansir BP (30/5).

Suryawan juga menyarankan agar pihak pengelola memanfaatkan air laut untuk suplai airnya. Cara ini dinilai tepat untuk meminimalisasi dampaknya terhadap suplai air masyarakat sekitar. Menanggapi usulan tersebut, pihak PT. Mahagiri Nusa Lembongan yang diwakili Gede Ngurah Djatmika merasa keberatan mengingat biaya pengolahan air laut sangat mahal. Pihaknya juga beralasan, ABT menjadi satu-satunya sumber untuk memenuhi kebutuhan air.

“Biaya sangat mahal sekali kalau menggunakan air laut. Sumber satu-satunya yang bisa digunakan air bawah tanah. Kami terpaksa menggunakannya,” jawab Djatmika.

Sementara, Kadis Perijinan Kabupaten Klungkung, I Made Sudiarka Jaya menegaskan tidak akan mengeluarkan izin jika pihak pengelola mencaplok sempadan pantai. Pasalnya, sisi terluar hotel hanya berjarak kurang dari 100 meter dari bibir pantai. Alternatif yang direkomendasikan oleh pihak perizinan adalah dengan membangun sempadan jalan antara pantai dan hotel yang memberi akses ke fasilitas umum.

Reporter: SJD/BP

Editor: I Gede Sumadi