Pembangkit Listrik Tenaga Angin yang Angin-Anginan

Untuk membaca detail Nusa Penida Post Vol 21 klik Gambar diatas!

Untuk membaca detail Nusa Penida Post Vol 21 klik Gambar diatas!

KLUMPU
Bak menyiram air di padang pasir. Demikian perumpamaan yang tepat untuk menggambarkan proyek pembangkit listrik tenaga angin dan sel surya di Nusa Penida yang sia-sia dan terkesan buang-buang uang. Kincir angin yang keberadaannya tersebar di Banjar Rata dan Puncak, serta seputaran bukit Mundi ini, sedianya sebagai energi listrik terbarukan namun tidak berfungsi.

Dari pantauan Nusa Penida Post (12/4) beserta warga Negara Australia, Kurt Ringer, dari sembilan kincir angin yang ada hanya tiga yang berfungsi. Bahkan tampak baling-balingnya ada yang patah. Keadaan ini pun diperparah lingkungan yang tidak terawat dengan tumbuhan liar semak belukar di area rumah panel. Pintu pagarnya pun terlihat berkarat, demikian pula panel listriknya ketika diterawang dari jendela kaca yang ada, panel itu tampak terbengkalai dan mati. Sungguh pemandangan yang menghenyak. Betapa tidak, proyek yang digadang-gadang sebagai energi listrik terbarukan dan ramah lingkungan ini justru saru gremeng padahal menggunakan dana miliaran.

Dana Miliaran Rupiah Habis
Proyek ini sejatinya dijadikan model unggulan sebagai salah satu bentuk pengembangan pembangunan pulau terluar dan kemandirian dibidang energi. Bayangkan tiga unit kincir angin ini menghabiskan dana 3,5 miliar rupiah, sedangkan jumlah seluruh kincir ada 9 unit, maka dapat dihitung secara rata-rata proyek ini menghabiskan dana 10,5 miliar rupiah. Listrik yang bertenaga bayu ini merupakan hasil tindak lanjut konferensi ICCC (International Climate Change Conference) PBB di Nusa Dua, tahun 2007 tentang perubahan iklim global. Nusa Penida rencananya dijadikan percontohan pulau dengan energi yang terbarukan sehingga “Go Green Go Clean” bisa terwujud. Pembangunan ini juga digadang-gadang menjadi destinasi desa wisata energi. Alhasil, fakta di lapangan menunjukkan bahwa proyek pembangkit listrik tenaga bayu dipastikan mubazir tanpa hasil.

Kincir angin pada proyek pembangkit listrik tenaga bayu dan panel solar cell yang diharapkan menjadi energi alternatif terbarukan

Kincir angin pada proyek pembangkit listrik tenaga bayu dan panel solar cell yang diharapkan menjadi energi alternatif terbarukan

Tanpa Kejelasan, Proyek Gagal Total
Kurt Ringer memperkirakan banyak kerusakan baik instalasi, baling-baling, rotor, motor maupun gear box kincir sehingga tidak bisa berfungsi. Bule inilah yang mengajak kami untuk melihat masalah-masalah prinsip di Nusa Penida. Kurt yang pensiunan mechanical electrical ini menyatakan sayang sekali peralatan yang berbiaya mahal ini harus sia-sia terlantar. Sambil mengamati pembangkit listrik itu dengan seksama ia berkata “If  I take care on this, it’s going to be better” (red; coba ini saya yang mengelola pasti akan lebih baik). Ketika kami perhatikan lebih seksama, ada spesifikasi yang terpasang di setiap rumah panel listrik, di mana sebanyak tiga unit pembangkit listrik tenaga bayu berkekuatan masing-masing 85 Kilowatt (KW). Sementara enam unit lainnya berkekuatan 80 KW dan pembangkit tenaga surya hanya 30 KW. Kalau ditotal tenaga listrik yang bisa dihasilkan dari kedua jenis pembangkit ini adalah 765 Kilowatt atau 765.000 watt.

Bila daya ini disalurkan ke masyarakat dengan rata-rata setiap rumah tangga menggunakan paket listrik 900 watt, maka dapat menjadi sumber tenaga listrik 850 unit rumah. Lucunya, semua itu hanya hitungan-hitungan kosong seperti cerita wayang ceng blonk “Ase, duang ase, telung ase….sing ade ape.” Perbukitan Puncak Mundi yang indah terlihat menawan dengan adanya kincir angin ini tetapi setelah diteliti lebih jauh, ternyata keunikan Nusa Penida hanya dijadikan tempat proyek mubazir yang tidak dibuat secara matang dan hanya mengejar dana proyek semata.

Ketika kami mencoba konfirmasi ke pihak PLN, petugas PLN yang tidak mau disebutkan namanya menyatakan bahwa pembangkit listrik tenaga angin ini malah merugikan daya PLN. “Ketika tiga kincir angin yang masih berfungsi tidak ada angin yang cukup malah akan membebani daya PLN kami karena rumah instalasi kincir angin menggunakan peralatan listrik yang mesti hidup semisal AC, pompa dan peralatan lainnya seperti lampu,” ungkapnya. Proyek energi terbaru yang ramah lingkungan ini diresmikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, ini terlihat dari prasasti yang terpasang di salah satu kincir angin yang paling besar. Harapan tinggallah harapan, PLN yang berharap bisa menghemat biaya 300 juta rupiah per hari karena menghabiskan 6300 liter minyak solar justru harus merugi. Memang sekarang sudah ada sumber listrik dengan memanfaatkan kabel bawah laut, namun tidak berarti proyek ini ditelantarkan begitu saja. Bukannya untung, malah sekarang buntung. Maka tidak berlebihan jika dikatakan pembangkit listrik tenaga angin yang angin-anginan. (Dana)