Pelepasan Curik, Upaya Konservasi dan Memperkaya Potensi Wisata

PENIDA, NUSA PENIDA POST

Burung Jalak Bali (Leucopsar rothschildi) merupakan mascot Provinsi Bali, namun sayang keberaannya semakin langka dan terancam punah. Burung cantik ini hanya tersisa beberapa ekor di alam liar dan hanya bisa ditemukan di Taman Nasional Bali Barat (TNBB) dan Pulau Nusa Penida. Menurut data yang dirilis oleh IUCN (International Union for Conservation of Nature and Natural Resources) Red List of Threatened Species, yaitu lembaga yang fokus mengenai status keanekaragaman hayati, Jalak Bali masuk kategori kritis, dimana populasi satwa ini mengalami penurunan drasti pada tahun 2005 akibat perburuan, perdagangan gelap dan berkurangnya habitat aslinya.

Beberapa lembaga yang peduli dengan keberlangsungan dan kelestarian Jalak Bali melakukan berbagai upaya pelestarian, salah satunya adalah FNPF atau yang lebih dikenal Yayasana Burung. Sejak tahun 2004, FNPF bergerak untuk menyelamatkan ‘curik’ (red; jalak Bali) dengan menjadikan Nusa Penida sebagai pulau konservasi. Pulau ini sengaja dipilih karena adanya dukungan dari 46 desa adat dalam bentuk awig-awig (red; aturan) yang melarang segala bentuk perburuan terhadap curik.

Pada Selasa, 31 Desemeber 2013, Menteri Kehutanan Republik Indonesia, Zulkifli Hasan berkesempatan melepaskan burung Jalak Bali di daerah Crystal Bay, Desa Sakti, Nusa Penida yang disaksikan langsung oleh BKSDA Bali.

“Ada kebanggan tersendiri bisa melepaskan burung luar biasa ini. Saya minta FNPF dan masyarakat Nusa Penida mendukung upaya Kementrian kehutanan untuk menjaga burung langka ini agar tidak punah karena ini adalah sumber daya alam yang harus dilestarikan,” pungkasnya.

Zulkifli Hasan juga mengungkapkan bahwa keberhasilan FNPF untuk meningkatkan populasi Jalak Bali menjadi leiih dari 100 ekor di alam liar menunjukkan bahwa Nusa Penida layak menjadi habitat alternatif selain di Taman Nasiona Bali Barat. Sebelumnya, pada tahun 2009, Menteri Kehutanan, Ms Ka’ban juga sempat mengunjungi Nusa Penida dan melepaskan dua ekor burung di area pusat penangkaran FNPF.

Menteri Kehutanan, Zulkifli Hasan melepaskan burung Jalak Bali di Nusa Penida

Menteri Kehutanan, Zulkifli Hasan melepaskan burung Jalak Bali di Nusa Penida

Direktur FNPF, Bayu Wirayuda menyatakan perlu dukungan semua pihak dalam upaya melakukan konservasi. Tidak hanya masyarakat sebagai ujung tombak, lembaga pemerintah seperti BKSDA dan pihak Kementrian Kehutanan juga harus bekerja sama.

“Akhirnya semua pihak harus saling mendukung untuk memaksimalkan upaya konservasi, baik itu Departemen Kehutanan, TNBB, BKSDA dan Kementrian melalui kewenangan yang dimiliki. Sangat sulit kalau kita berjalan sendiri-sendir. Saya berharap burung yang dilepas ini bisa menambah kekayaan potensi wisata yang sejalan dengan upaya konservasi,” harapnya.

Proyek konservasi yang digagas FNPF dirancang secara holistic dengan mengedepankan kearifan lokal, pelestarian lingkungan serta keberlangsungan dan peran masyarakat. FNPF juga menjalin kerjasama dari beberapa lembaga internasional seperti Whitley Fund for Nature dan rainforest Action Network. Sejumlah relawan juga turut andil termasuk lembaga donor antara lain, Humane Society International Network dari Australia.

Editor: I Gede Sumadi