Pasca Panen, Harga Mangga Anjlok

NUSA PENIDA, NUSA PENIDA POST

Budidaya mangga menjadi sumber pendapatan tambahan bagi sebagian warga terutama yang bermukim di kawasan pegununggan. Tanaman ini tumbuh subur dan berbuah musiman. Akhir tahun biasanya menjadi puncak musim panen mangga. Seakan menjadi rutinitas, panen mangga yang diharapkan menambah sumber penghasilan justru bernilai nihil tanpa hasil. Membludaknya hasil panen tidak seimbang dengan harga komoditas ini di pasaran. Harga buah mangga di pasaran sangat rendah bahkan tidak ada yang mau membeli. Warga pembudidaya pun mengeluhkan seretnya proses pemasaran pasca panen ditambah harga yang super murah.

Walaupun bukan sebagai komoditi utama, namun tanaman yang berbuah musiman ini dapat dijumpai hampir di tiap sudut wilayah Nusa Penida. Ketika memasuki musim panen seperti sekarang ini, harga mangga malah anjlok. Kisaran harga saat ini antara Rp 5.000 sampai Rp 10.000 per 200 buah mangga. Bisa dibayangkan buah mangga hanya dihargai Rp 25 per buah, sungguh sebuah nilai yang sangat tidak fair dan merugikan petani pembudidaya.

Pasca panen harga buah mangga anjlok bahka nyaris tanpa pembeli

Pasca panen harga buah mangga anjlok bahka nyaris tanpa pembeli


“Ajin poh te mudah jani. Satak ade aji limang tali, ade aji dase tali,” (red; harga mangga sekarang sangat murah. Berkisar antara Rp 5.000 sampai Rp 10.000 per 200 buah), ungkap Nyoman Ritis (30/12) yang ditemui di kebunnya, warga Banjar Cemulik, Desa Sakti. Lebih lanjut ibu empat anak ini menuturkan bahwa ia memilih menjual hasil buah mangganya walaupun dengan harga murah daripada dibiarkan begitu saja.

Lain halnya dengan warga di Banjar Jurang Batu, Desa Suana, mangga hasil dari kebun warga malah tidak ada yang mau membeli. Pengepul pun enggan membeli karena lokasi yang relatif jauh dari pasar dan memerlukan biaya angkut yang cukup tinggi. Menurut penuturan warga setempat, Ni Nyoman Nistri (48) buah mangga tersebut hanya dikonsumsi sendiri, disayat untuk pakan ternak dan selebihnya dibiarkan begitu saja.

“Uling pidan tare taen ngadep, soalne tare ade anak meli. Paling seset hang sampi ajak anggon campuran aman celeng,” (red; memang dari dulu kami tidak pernah menjualnya, karena memang tidak ada yang mau membeli. Kami hanya memotong kecil-kecil untuk makanan sapid an campuran dedak untuk babi), tuturnya (31/12).

Memang sangat miris apa yang dialami sebagian warga Nusa Penida saat ini. Hasil bumi yang seharusnya bisa membantu ekonomi keluarga malah tidak seperti yang diharapkan. Hanya terbentur masalah klasik yaitu minimnya pemasaran pada pasca panen dan ketidakstabilanharga. Pemerintah melalui lembaga terkait seperti UPT Dinas Pertanian diharapkan mencari solusi terkait pengolahan ataupun pemasaran pasca panen sehingga bisa memberi nilai lebih.

Reporter: I Komang Budiarta

Editor: I Gede Sumadi