Nyungkrak Kedeng: Membajak Dengan Tenaga Manusia

 NUSA PENIDA, NUSA PENDA POST

Musim hujan tiba,  Petani di Nusa Penida mulai melakukan Penanaman bibit jagung, kacang-kacangan, ketela pohon dan jenis tanaman lainnya.

Diawal musim  hujan para petani memulai dengan membersihkan lahan pertanian, kemudian dilanjutkan  petani mulai metajuk (red : menabur benih).  Sekitar empat sampai dengan tujuh hari bibit yang ditabur  mulai muncul di permukaan tanah. Jagung tampak berdaun  dan berbatang.

Setelah jagung berdaun tiga sampai dengan lima, para petani disibukkan dengan membersihkan dan menggemburkan lahan di sekitar tanaman. Salah satu cara yang unik dan jarang di temukan adalah nyungkrak kedeng (red : membajak dengan menggunakan tenaga manusia).

Tidak seperti petani pada umumnya membajak menggunakan tenaga sapi ataupun kerbau, nyungkrak kedeng menggunakan tenaga manusia menarik bajak untuk menggemburkan tanah. Ini dilakukan mengingat  lokasi lahan pertanian di Nusa Penida berbatu. Selain itu dikarenakan lahan pertanian di Nusa Penida kondisinya terjal.

Selain hal tersebut,  faktor lain yang mempengaruhi adanya  nyungkrak kedeng dikarenakan jarangnya masyarakat petani Nusa Penida yang masih memelihara sapi terlatih.  Hal ini di karenakan  tidak semua  sapi bisa digunakan untuk membajak. Sapi yang bisa digunakan untuk membajak hanya sapi yang sudah mendapat pelatihan khusus.

Jani sobe endok ade ngelah Sampi ane bise nyungkrak, sampi sobe pade adope. Jani ade entikan jagung yen nganggo sampi bise entik jagung jak kacang jejek jak sampi. Yen ebe langsung megae re aluh baan nyidang ngatur, yen meurukan nyidang langsung bangunang,” (red : sekarang sudah jarang yang punya sapi terlatih bisa membajak, sebagian besar sudah dijual. Sekarang ada bibit jagung dan kacang-kacangan kalau memakai sapi kemungkinan besar bibit akan diinjak oleh sapi. Kalau kita langsung menarik bajak bisa disesuaikan, kalau bibit tertimbun tanah bisa langsung dikembalikan dan diatur porsi tanah disekitar bibit). tuturnya I Ketut Selat (38 th) sambil menghela napas, disela waktu istirahat nyungkrak bersama istrinya.

Ni Made Nuari (35 Th) istri I Ketut Selat menambahkan sengaja tidak memakai tenaga sapai karena sejumlah sisi lahan mudah tergerus. “Abiante bataranne raye, yen nganggo sampi malahan empoh batarante, nambah gae dwang,(red : Lahan pertanian senderannya sudah rapuh, kalau memakai sapi kemungkinan besar nambah hancur, bikin repot sendiri), tambahnya Ni Made dengan ketus.

nyungkrak

I Ketut Selat dan Ni Made Nuari Nyungkrak Kedeng di Tegalan

Situasi dan kondisi ini memberikan pelajaran pada masyarakat untuk membuat ide dengan nyungkrak yakni membajak dengan tenaga manusia.  Tradisi nyungkrak atau mebajak bertenagakan manusia menjadi pemandangan yang unik ditengah jaman yang serba modern bertenagakan mesin. Ini menjadi budaya tradisi tersendiri di Nusa Penida yang jauh dari hiruk pikuk dan bising suara mesin yang mengeluarkan polusi.

Reporter :  I Komang Oka Sanjaya

Editor       : I Wayan Sukadana