Warning: Use of undefined constant DISALLOW_FILE_EDIT - assumed 'DISALLOW_FILE_EDIT' (this will throw an Error in a future version of PHP) in /home/npm2017/public_html/wp-config.php on line 36
Nusa Penida Media | Nyepi Segara, Penyeberangan Ditutup Satu Hari
 

Nyepi Segara, Penyeberangan Ditutup Satu Hari

SUANA, NUSA PENIDA POST

Tepat pada purnamaning kapat, Rabu 8 Oktober kemarin dilaksanakan upacara Ngusaba Alit Jagat Nusa di Pura Batu Medawu, Desa Suana. Upacara di-puput oleh dua orang sulinggih Siwa Budha. Ngusaba kali ini dilakukan dengan mulang pakelem (red; menenggelamkan sesajen) berupa kambing dan itik. Sesajen ini berbeda dengan pelaksanaan Ngusaba Agung dengan persembahan pakelem berupa kebo yang biasanya dilaksanakan pada giliran tahun kelima. Upacara Ngusaba dilaksanakan secara bergantian dengan pelaksanaan di Pura Dalem Ped.

Tradisi pakelem sudah dilaksanakan sejak ratusan tahun. Jejak pelaksanaan warisan leluhur ini masih terekam pada sejumlah prasasti-prasasti dan lontar-lontar yang menyebutkan makna dan nilai filosofis dari upacara tersebut. Prasasti Batur Sakti yang berangka tahun Saka 833, keturunan Raja Sri Ugrasena Warmadewa menyampaikan ada perintah untuk melaksanakan pekelem. Upacara ini biasanya dilakukan pada sumber air yang diyakini sebagai sumber kehidupan umat manusia dan lambang kemakmuran.

Pelaksanaan melasti pada rangkaian Ngusaba Alit Jagat Nusa di Pura Batu Medawu

Pelaksanaan melasti pada rangkaian Ngusaba Alit Jagat Nusa di Pura Batu Medawu

Sementara Ngusaba di Pura Batu Medawu juga dirangkai dengan pelaksanaan Nyepi Segara pada Kamis, 9 Oktober. Semua jenis aktivitas yang berhubungan dengan laut akan ditutup total selama satu hari. Secara ilmiah, Ngusaba dan Nyepi Segara adalah bentuk nyata terhadap konservasi alam. Ada sebuah nilai luhur yang sudah ajeg sejak ratusan tahun sebagai ritual nyata untuk menjaga lingkungan dengan tradisi. Menurut keterangan panitia, I Gede Suladra, upacara Ngusaba Alit Jagat Nusa bertujuan untuk memohon dan menjaga keharmonisan alam semesta.

“Tujuannya jelas sebagai bentuk syukur sekaligus memohon kerahayuan jagat. Ngusaba Alit Jagat Nusa kali ini kita mulang pakelem berupa kambing dan itik. Pelaksanaannya bergantian dengan Ngusaba di Pura Dalem Ped. Khusus pada giliran tahun kelima, dilaksanakan upacara yang disebut Ngusaba Agung, pada saat itu sesajennya berupa kebo,” terangnya pagi tadi (9/10).

Sehari setelah puncak karya, kita melaksanakan Nyepi Segara satu hari penuh. Sama sekali tidak ada aktivitas di laut baik penyeberangan, wisata air, kegiatan nelayan termasuk petani rumput laut,” imbuh Suladra.

Ketika dikonfirmasi terkait teknik pelaksanaan Nyepi Segara di lapangan, pihaknya mengakui sudah bersurat langsung ke pihak kecamatan, Dinas Perhubungan dan Desa Pekraman. Suladra memastikan bahwa seluruh masyarakat paham akan hal ini dan pihak terkait bisa meneruskan informasi sehingga pelaksanaanya bisa berjalan lancar

Reporter: I Gede Sumadi

Editor: I Komang Budiarta