Nusa Penida Destar Tawarkan Produk Kreatif Berbagai Motif

PED, NUSA PENIDA POST

Tak banyak masyarakat yang jeli melihat peluang berbagai usaha baik skala mikro kecil dan menengah. Sebagian masih berorientasi untuk menjadi pegawai atau buruh semata. Kebiasaan ini coba didobrak oleh pemilik usaha Nusa Penida Destar yang biasa dipanggil Pak Dika, meski awalnya coba-coba dan sempat jatuh bangun merintis bisnis. Hampir 8 tahun usaha kreatif ini digeluti bahkan sempat vakum selama 3 tahun namun berkat kegigihan, hasil perjuangan selama sekian tahun kini bisa dinikmati. Unit usaha yang berada di komplek ruko sebelah timur Pura Ped ini kini semakin laris manis dengan mengedepankan kualitas.

Nusa Penida Destar menawarkan 'udeng' dengan berbagai bahan dan motif

Nusa Penida Destar menawarkan ‘udeng’ dengan berbagai bahan dan motif

“Hampir 8 tahun sudah berjalan. Dulunya tiang penjahit pakaian sehari-hari, tapi karena gak bisa kerja cepat dan lebih mengutamakan kualitas, jadi hasil rupaiah per hari dibawah gaji pengayah tukang bangunan, berangkat dari sana saya mencoba buat udeng (red; destar), dan saya rasakan sesuai dan disenangi terutama anak-anak muda,” tutur Dika yang juga anggota Bali Scooter Club Chapter Nusa Penida.

Pengusaha asal Banjar Biaung, Desa Ped ini mengakui prospek bisnis modifikasi perlengkapan sembahyang termasuk destar cukup bagus. Pesanan selalu ada dan terkadang kewalahan terutama menjelang hari raya meski sudah dibantu dua penjahit. Ia juga menjamin kualitas produk dengan berbagai motif terbaru dengan tidak menghilangkan pakem aslinya. Khusus untuk destar ke pura biasanya berbahan dasar kain kahatex dengan balutan tepi dari kain songket Bali, bordiran termasuk motif kain endek Klungkung. Sementara udeng untuk acara non-formal di luar biasa didesain dari bahan kain batik, endek Klungkung dan tentunya kain khas lokal yakni kain rang-rang dan cepuk

“Bagi anak-anak muda yang cari udeng dengan model trend terbaru dengan bahan kombinasi termasuk juga motif yang menarik tidak akan ditemukan di pasar karena model udeng yang seperti ini buatan saya sendiri terutama dibagian membentuk jengger dan pasti beda. Kami juga kombinasikan berbagai bahan dan motif biar lebih elegan,” imbuhnya.

Dika pun tidak mematok harga mahal untuk hasil kreativitasnya. Satu set udeng dibandrol kisaran Rp 40.000 hingga Rp 100.000 tergantung bahan yang dipilih. Untuk bahan baku, pihaknya mendatangkan langsung dari Denpasar. Tidak hanya menampilkan satu produk, berbagai kelengkapan kain sembahyang seperti saput dan kamben juga ditawarkan. Ketika disinggung omzet per bulan, Dika mengaku dalam sebulan bisa menyentuh angka Rp 30.000.000. Cukup fantastis untuk ukuran ekonomi usaha kreatif. ia pun merasa terbantu dengan adanya pinjaman UMKM dari salah lembaga perbankan. 4 teruma krna tiang berproduksi di nusapenida, jadi pengadaan bahan baku agak sulit, harus belanja bahan agak banyak baru nyembrang

“Kalau dirata-rata bisa mencapai Rp 30.000.000 per bulan karena tidak hanya satu produk yang kami tawarkan, berbagai aksesoris dan kelengkapan lain juga ada,” tutupnya yang dikonfirmasi Kamis, (1/9) kemarin.

Reporter: I Gede Sumadi

Editor: I Komang Budiarta