Nimpung , Tradisi Perang Makanan di Nusa Penida

NUSA PENIDA, NUSA PENIDA POST

Seperti Perang makanan, demikian suasana tradisi unik nimpung di Nusa Penida. Saling lempar makanan  sesama warga yang berasal dari sesaji ( red : persembahan ) yang telah haturkan. Sorak sorai sambil melemparkan Jajan, buah-buahan, ikan bakar dan tidak terkecuali ayam panggang ke warga desa yang lain.

Saling tantang pun terjadi, tawar menawar untuk melempar dan dilempari makanan. Ada senang dilempar ketika makanan yang dilemparkan lezat , mengenai  tubuh tidak terlalu sakit seperti ayam bakar.  Tidak sedikit pula ada mengaduh kesakitan saat yang dilempar dengan kencang, terlebih yang dilempar apel dan  salak.

Suara tawa pun membuncah ditengah keramaian nimpung yang unik. Apabila tradisi  nimpung dilestarikan,  tentunya  menjadi atraksi wisata unik di Nusa Penida, seperti  siat sampaian   di Kintamani atau perang tomat di Perancis.

"Suasana nimpung di Nusa Penida "

“Suasana nimpung di Nusa Penida “

Suasana nimpung  tersebut juga terjadi Selasa, 21 Mei 2013 di Desa Pekraman Semaya Nusa Penida. Tepat pada  Anggar Kasih Tambir, Buda Kliwon Enyitan nimpung diadakan di sebelah timur Bale Banjar Semaya. Masyarakat Desa Pekraman Semaya berkumpul di bawah pohon asem tempat nimpung berlangsung. Mereka duduk rapi melingkar  menghadap ke padmasana perempatan Desa.

Banten dan sesajen dihaturkan ke Ide Bhatara-bhatari ( red : dewa-dewi )dipimpin seorang pemangku. Mantra teruncar, suara genta memecah pagi yang cerah itu. Setiap Keluarga telah menyiapkan pajegan berisi  buah-buahan, berbagai  ikan dan ayam bakar  yang dipajang berjejer.

Setelah pemangku nyakap banten, dilanjutkan persembahyangan bersama. Panca sembah pun dilaksanakan, dilengkapi dengan nunas tirta sekaligus bija sebagai simbol anugerah dari Hyang Widhi. Setelah dirasa semua siap, bendesa adat ( red : kepala adat ) dengan menggunakan pengeras suara, mengajak masyarakat mengambil pajegannya masing-masing  untuk dipangku. Sejurus kemudian bendesa adat kembali mengumumkan dengan bahasa Nusa Penida “yen tiang maang aba-aba mare nimpung jalanang” ( red : kalau saya memberi aba-aba baru dimulai ).

Setelah semua siap, Bendesa Adat memberi aba-aba , “jani ( red : sekarang ) “.  Masyarakat mulai saling lempar dengan makanan yang dicabut  dari pajegan yang dipangku. Perang makanan  itu berlangsung satu jam,  diiringi canda tawa. Diakhir acara semua mendapatkan makanan dari milik peserta nimpung lainnya,   seperti barter ( red :saling tukar ).

Ketika Dikonfirmasi ke bendesa adat Semaya I Ketut Suarna (44 tahun ), seusai acara mengatakan  “nimpung merupakan upacara bentuk perwujudan pelaksanaan Tri Hita karana”. Lebih lanjut Suarna menjelaskan “ dikatakan perwujudan pelaksanaan Tri Hita Karana karena dengan  paryangan : untuk menyelaraskan hubungan manusia dengan Ide Sang Hyang Widhi melalui persembahyangan bersama sebagai wujud syukur, Pawongan hubungan dengan manusia dengan manusia dengan saling akrab bergembira diacara ini dan palemahan : hubungan dengan alam melalui penggunaan sebagai persembahan sarwa prana prani ( red semua tumbuh-tubuhan dan binatang ) hasil pertanian dan peternakan warga sendiri”.

Ditempat terpisah Jero Mangku Wayan Katon (65 th ) Rabu, 22 Mei 2013  mengatakan nimpung berasal dari kata nimpug ( red : menghantam ) yang berarti menghantam dengan saling lempar makanan. Upacara ini lanjutan  acara “Don Kayu Samah yang bermakna syukur terhadap tumbuh-tumbuhan berbuah dengan baik. “Nimpung tidak tentu waktunya, biasanya setelah musim panen tiba, walaupun belakangan tidak rutin tiap tahun dilaksanakan”, papar Mangku Katon dengan tenang.

 

Penulis & Editor : I Wayan Sukadana