Nikmati Gurihnya Jajan Sengait, Oleh-oleh Khas Tabanan

TABANAN, NUSA PENIDA POST

Bali tidak hanya terkenal dengan destinasi wisata dan budaya namun juga kaya akan kuliner dengan aneka makanan khas, salah satunya jajanan sengait. Awalnya, panganan berbahan dasar singkong ini hanya dijadikan camilan atau sekedar makanan ringan teman minum kopi dan kini sudah menjadi oleh-oleh khas yang sangat diminati. Potensi besar ini bisa dikembangkan dengan pendampingan intensif dari berbagai sisi. Program kemitraan masyarakat yang dilakukan tim dosen yang diketuai Ni Made Dwijayani,M.Pd dari STMIK Stikom Bali memberi pendampingan dan pelatihan bidang pemasaran dengan memanfaatkan media sosial, pelatihan bidang manajemen produksi dan pemasaran termasuk pembuatan merek dagang.

Tim PKM dosen STMIK Stikom Bali yang melakukan pendampingan

“Kita mendampingi usaha kreatif yang dilakukan masyarakat. Jajanan sengait itu memiliki potensi besar, kalau dikembangkan dengan baik bisa jadi ikon oleh-oleh khas daerah. Media sosial saat ini bisa dimanfaatkna menjadi pintu masuk khususnya membuka jangkauan pemasaran yang lebih luas disamping dari hulu atau proses produksi dan produknya tetap dijaga kualitasnya,” jelas Dwijayani.

Produk jajan sengait sangat familiar bagi masyarakat Bali. Rasanya gurih dan manis cocok digunakan sebagai camilan. Proses pembuatannya juga mudah dengan bahan utama ketela singkong. Jajanan Sengait diolah sederhana dari singkong yang diparut atau diiris, lalu digoreng dan dibentuk menjadi lempengan bundar selanjutnya dicampur gula merah. Selain camilan, jajan sengait juga digunakan sebagai sarana sesajen dalam berbagai kegiatan upakara. Jika diproduksi dengan standar dan kualitas yang baik, jajanan sengait mampu bertahan selama satu bulan sehingga tepat sekali dijadikan makanan oleh-oleh.

Pengrajin jajajan sengait, Made Ariani asal Banjar Curah Desa Gubug, Kecamatan Tabanan mengakui permintaan pasar semakin meningkat dan cukup menjanjikan tetapi terbentur ketersedian bahan baku singkong. Pihaknya terkadang tidak bisa berproduksi maksimal akibat seretnya pasokan bahan di luar musim panen.

“Permintaan selalu ada bahkan cenderung meningkat, tidak hanya masyarakat lokal saja yang menyukai, beberapa pasar oleh-oleh juga sudah melirik. Cuma itu, kami kadang tidak bisa buat jajanan maksimal sesuai pesanan karena kurangnya bahan baku singkong,” ujar Ariani, Kamis, (23/8) lalu.

Kondisi berbeda justru dialami pengrajin lain, Sriani yang memproduksi jajanan sengait di Dauh Peken, Kecamatan Tabanan terkendala sarana pengolahan berupa parutan. Situasi ini praktis membuat proses produksi juga terhambat.

“Kami tidak punya alat bantu yang bisa mempercepat proses pemarutan, masih manual jadi prosesnya agak lama,” ungkap Sriani.

Dalam sehari, kedua rumah tangga ini bisa menghasilkan rata-rata 600 keping jajan sengait yang selanjutnya dijual per kemasan seharga Rp 10.000 dengan isian 12 keping per paket. Secara sederhana bisa dikalkulasikan omzet keduanya mencapai Rp 500.00 per hari. Nilai yang yang luar biasa untuk menopang ekonomi keluarga disamping menciptakan kesempatan kerja. Hasil produksi saat ini hanya dikirim ke pasar dan warung-warung,  pihanya pun berharap kedepan ada terobosan agar jajanan sengait bisa menjadi ikon oleh-oleh khas daerah.

“Kami berharap agar jajan sengait yang diproduksi bisa dipadukan dengan berbagai cita rasa berbeda dan dapat dijadikan sebagai ikon oleh-oleh khas Tabanan pada khususnya dan Bali pada umumnya,” tambah Sriani.

Penulis: Made Dwijayani

Editor: I Gede Sumadi