Ngusaba Jagat, Besok Penyeberangan Ditutup Total

PED, NUSA PENIDA POST

Puncak upacara ‘Ngusaba Jagat’ jatuh pada purnama kapat, Senin (28/9). Secara rutin, upacara yang digelar setiap tahun ini dilakukan bergantian antara di Pura Batu Medahu dan Pura Ped. Khusus kali ini, Ngusaba Jagat digelar di Pura Ped dengan berbagai rangkaian upakara. Sejumlah persiapan sudah dilakukan panitia termasuk sarana upakara.

Rangkaian prosesi upacara Ngusaba Jagat di Nusa Penida

Rangkaian prosesi upacara Ngusaba Jagat di Nusa Penida

Piranti (red; persiapan arana) sudah kami lakukan jauh sebelumnya. Secara bergilir para pengempon melaksanakan ngayah. Upacara diawali Ida Bhatara turun kabeh Pura Sad Kahyangan dan Pura Kahyangan Tiga bagi pengempon Pura Penataran Ped. Dilanjutkan dengan melasti, memasar, pekelem, dan Ida Bhatara distanakan di Bale Agung,” terang Ketua Panitia Si Nyoman Sukarta, Minggu (27/9).

Kegiatan nyejer berlangsung dari Senin, (28/9) hingga Jumat (2/10). Sehari setelah puncak karya, akan dilaksanakan Nyepi Segara (red; Nyepi di laut). Seluruh aktivitas perairan baik layanan penyeberangan dan kegiatan tangkap nelayan berhenti total selama 24 jam yakni pada Selasa (29/9).

Informasi dari Dishubkominfo menyebutkan, surat edaran terkait kegiatan Nyepi Segara sudah dikirimkan ke sejumlah pemangku kepentingan. “Dishubkominfo Klungkung sudah melayangkan surat ke semua pelabuhan baik di Nusa Penida maupun yang lainnya. Selama 24 jam, dari dan ke Nusa Penida atau sebaliknya terhenti. Besoknya, aktifitas penyeberangan kembali normal kembali,” ujar Kabid Angkutan Dishubkominfo Klungkung, I Dewa Made Sutarta.

Upcara Ngusaba Jagat bertujuan untuk menjaga keharmonisan alam dan sebagai wujud kepada Tuhan Yang Maha Esa. Secara kasar, memelihara kelestarian alam dan mengembalikan unsur-unsurnya.

“Tujuan upacara ini tiada lain keharmonisan antara bhuwana alit dan bhuwana agung dan juga sebagai ungkapan terima kasih kepada Ida Sang Hyang Widi Wasa atas keberlimpahan alam yang sudah diberikan,” imbuh Sukarta.

Upacara Ngusaba Jagat dipuput oleh dua sulinggih, Ida Pinandita Rsi Agung Dwijaksara dari Gria Ashram Kutampi dan Ida Pinandita Mpu Daksa Jaya Dhayana Gria Baledan.

Reporter: Santana Ja Dewa

Editor: I Gede Sumadi