Nelayan Luar Kembali Curi Ikan di Kawasan Konservasi

NUSA PENIDA, NUSA PENIDA POST

Kekayaan bahari Nusa Penida dengan beragam jenis satwa yang bernilai ekonomis tinggi ternyata menjadi incaran nelayan dari luar daerah. Meski sudah ditetapkan sebagai kawasan konservasi perairan pada pertengahan tahun 2014 lalu, nyatanya masih banyak nelayan yang nekat mencuri ikan di kawasan terlarang. Parahnya, proses penangkapan diduga menggunakan bahan terlarang termasuk penggunaan kompresor.

Patroli rutin yang dilaksanakan Rabu, (27/1) lalu kembali mendapati nelayan yang lego jangkar dan menangkap ikan di area Manta Point II. Hasil penggeledahan di kapal nelayan, tim patroli gabungan menemukan penggunaan kompresor  untuk menangkap ikan dan lobster. Patroli Tim Kerja Kawasan Konservasi Perairan kali ini melibatkan TNI-AL Nusa Penida dimana Danposal, Yonas Rondonuwu langsung turun tangan, Polair Nusa Penida, I Nengah Sukarena. Tim pengawas juga didampingi Kepala Kantor Perijinan Klungkung, I Made Sudiarkajaya, Camat Nusa Penida I Ketut Sukla serta dari Forum Krama Muda Nusa Penida (FKMNP), yang diwakili I Gede Sukara dan I Kadek Sugiarta alias Kokot.

Patroli Tim Kerja KKP masih mendapati nelayan luar yang menangkap ikan di kawasan konservasi (27/1)

Patroli Tim Kerja KKP masih mendapati nelayan luar yang menangkap ikan di kawasan konservasi (27/1)

Ketua FKMNP, I Komang Budiarta yang dikonfirmasi mengenai keterlibatan organisasi yang dipimpinnya dalam patroli pengawasan kawasan mengaku ini sebuah gebrakan baru. Menurutnya, pelibatan ini membuat generasi muda mengenal fakta di lapangan sekaligus sebagai media sosialisasi mengenai eksistensi KKP.

“Saya rasa langkah pelibatan unsur pemuda sangat tepat karena semua stakeholeder harus dilibatkan untuk menjaga kawasan karena ini tidak semata tanggung jawab satu pihak saja. Kami juga menjadi lebih mengenal wilayah dengan berbagai zonasi yang telah disepakati termasuk tantangan ke depan untuk turut serta menjaga kelestariannya minimal menumbuhkan sense of belonging (red; rasa memiliki),” ungkapnya (27/1).

Besarnya gelombang perairan di sisi selatan sempat membuat tim patroli kesulitan untuk menggiring perahu ke teluk Crystal Bay. Dari keterangan yang diperoleh, nelayan ini berasal dari Dusun Rumbuk, Desa Baru, Kecamatan Alas, Sumbawa, Nusa Tenggara Barat dan sudah berlayar lebih dari tiga hari berlayar. Nelayan menggunakan perahu dengan nama lambung Akbar JR membawa 6 ABK dengan kapten kapal, Syamsul Bahari.

Ketua Tim Patroli, I Nyoman Sangging mengatakan akan memberikan sanksi sekaligus pendekatan persuasif dengan menjelaskan keberadaan KKP dan larangan menangkap ikan di zona yang disepakati.

“Kami beserta CTC memberikan penjelasan dan pengertian  tentang pelarangan menggunakan kompresor. Kami memberikan peringatan kepada nelayan agar tidak menangkap ikan di kawasan koservasi. Nantinya kami berkoordinasi dengan pihak dinas terkait tentang perijinan penangkapan ikan,” terang Sangging.

“Bagaimana cara nangkap ikan,” tanya petugas patroli.

“Pake alat tembak komandan,” jawab kapten kapal dengan suara gugup.

“Ah masak sebanyak ini dan kedalaman segini mustahil bisa menangkap ikan,” petugas bertanya balik.

Hasil tangkapan berupa lobster yang masih hidup dilepaskan petugas di kawasan Crytal Bay. Perwakilan Coral Triangle Center (CTC), I Wayan Suarbawa mengungkap bawah kapal yang ditemukan petugas menggunakan peralatan yang dilarang termasuk zona tangkapnya karena masuk kawasan konservasi.

Penggunaan kompresor itu dilarang, termasuk area penangkapannya juga sudah menyalahi aturan sesuai dengan peruntukan zonasi. Semestinya tidak boleh ada aktifitas penangkapan ikan di kawasan ini. Tim memberi peringatan keras kepada nelayan yang menggunakan alat bantu serta bahan yang berbahaya. Sebagai pembinaan, nelayan tersebut dilayangkan surat peringatan dan kami pinjam dulu selang kompresor sampai pemilik meminta kembali,” papar Suarbawa ketika dikonfirmasi sesuai penggeledahan.

Kepala Kantor Perijinan Klungkung, I Made Sudiarkajaya lebih menekan pada code of conduct atau aturan main dalam penangkapan ikan. Nelayan yang tidak mengidahkan aturan harus ditindak dan mesti disiapkan SOP. ”Kebanyakan nelayan dari seperti Lombok dan Sumbawa yang memanfaatkan perairan Nusa Penida. Nanti kita berkoordinasi dengan Dinas Peternakan Perikanan dan Kelautan mengenai ijin menangkap ikan di kawasan koservasi yang sesuai dengan ketentuan KKP yang berlaku,” jelas mantan Camat Nusa Penida ini.

Reporter : Santana Ja Dewa

Editor: I Gede Sumadi