Nasib Nelayan Tradisional Terombang-ambing

Untuk membaca detail Nusa Penida Post Vol 21 klik Gambar diatas!

Untuk membaca detail Nusa Penida Post Vol 21 klik Gambar diatas!

Nusa Penida adalah pulau kecil yang dikelilingi laut dan samudra. Bagian selatan berhadapan langsung dengan Samudra Hindia dan bagian barat langsung bersentuhan dengan selat Badung. Sementara bagian timur dan utara berbatasan langsung dengan Selat Lombok. Posisi ini membuatnya kaya akan potensi sumber daya kelautan dan perikanan.

Secara keseluruhan, hanya bagian timur dan utara yang bisa dimanfaatkan secara optimal. Bagian ini memiliki pantai yang lebih landai dengan pasir putih bertekstur kasar. Gugusan pantai ini terbentang dari Dusun Semaya sampai Toya Pakeh dengan beberapa teluk kecil. Selebihnya tidak bisa difungsikan karena kondisi geografis yang berupa tebing batu cadas yang terjal dan curam.

Di pantai yang landai inilah masyarakat mengandalkan hidupnya dari hasil laut. Ada dua sumber penghidupan utama, yaitu rumput laut dan nelayan tradisional. Deretan perahu nelayan dapat kita jumpai di sepanjang Pantai Suana, Karangsari, Batumulapan, Mentigi, Sampalan, Kutampi sampai dengan Toya Pakeh. Perahu terparkir secara berkelompok, terutama berdasarkan banjar masing-masing. Untuk kegiatan melaut sehari-hari, nelayan pun harus bergotong royong mengangkat perahu dari darat ke laut. Masyarakat yang bekerja mengangkat jukung disebut tukang sorog.

Jukung: Perpaduan Desain Kekuatan Fisik dan Artistik
Perahu tradisional di Nusa Penida memiliki perpaduan kualitas kekuatan fisik dan seni desain purwarupa. Secara umum, perahu berukuran kurang lebih 6 meter, dilengkapi bidak (red; layar) berbentuk segitiga yang terbuat dari terpal plastik. Bentuknya pun unik, dengan moncong lancip seperti mulut ikan paso dengan mata besar. Badan jukung juga diberi hiasan gambar yang berbahan dasar cat. Sebelum tahun 1990-an, jukung hanya menggunakan layar dengan memanfaatkan tenaga angin dan dayung manual. Daya jelajah untuk area tangkapan pun terbatas. Minimnya peralatan menyebabkan banyak nelayan sering hilang bahkan sampai ada yang terdampar ke Australia akibat terseret gelombang besar yang disertai angin kencang. Alat penangkapan ikan tongkol dan tuna yang digunakan pun masih sangat sederhana, hanya menggunakan pancing dan senar. Mereka pun dituntut untuk jeli membaca situasi alam sehingga beberapa nelayan senior begitu mahir akan ilmu perbintangan atau astronomi. Secara otodidak mereka belajar bagaimana mengamati dan menerjemahkan kondisi alam.

Nelayan tradisional masih mengandalkan peralatan sederhana dan masih digerakkan oleh layar.

Nelayan tradisional masih mengandalkan peralatan sederhana dan masih digerakkan oleh layar.

Minimnya Pangsa Pasar dan Sistem Pengolahan
Setelah era tahun 1990-an, nelayan mulai sedikit tersentuh moderenisasi dengan menggunakan mesin tempel 15 PK dan alat penangkap ikan yang berupa jaring. Nelayan yang hilang di laut menjadi berkurang, sedangkan tangkapan semakin banyak. Nelayan pun bisa bernafas lega. Tetapi lagi-lagi masalah pemasaran menjadi kendala. Ironis memang, pada saat musim hasil tangkapan melimpah, harga ikan turun drastis. Hal ini ditengarai pemasaran ikan tongkol hasil tangkapan hanya terbatas untuk konsumsi masyarakat Nusa Penida saja. Untuk menyiasati agar hasil tangkapan lebih tahan lama dan memiliki nilai ekonomis, nelayan ataupun pengepul akan mengukus ikan atau yang akrab dikenal mindang. Seiring lancarnya transportasi penyeberangan dari Nusa Penida ke Bali daratan, hasil tangkapan yang melebihi konsumsi lokal akan dijual ke luar Nusa Penida, antara lain Kusamba dan Padang Bai.

Miris, Nelayan Bagaikan Makan Buah Simalakama
Pengaruh teknologi moderen pun mulai dimanfaatkan, nelayan mulai menggunakan handphone pada saat melaut untuk menghindari terdampar maupun hilang, sedangkan pengawetan ikan mulai menggunakan kulkas maupun cold storage. Namun ternyata masalah tidak berhenti sampai di sana. Menurut I Ketut Tulu (38), nelayan asal Batu Mulapan, bahwa hasil tangkapan ikan sekarang sangat jauh berkurang dari tahun-tahun sebelumnya entah apa penyebabnya. “Keweh jani, awan sube tare ngamang, atut adene joh, paek Lombok lakun kalah di lengis ibe” (red; sekarang susah, ikan tongkol sulit ditemukan, kalau pun ada, jauh di Lombok tetapi kita rugi minyak), ujarnya (28/5).

Tidak mengherankan, nelayan pun banyak yang banting setir ke pekerjaan lain. Wayan Murta (36) yang dikonfirmasi (Rabu, 22/5), harus beralih profesi menjadi petani rumput laut di daerah Tanjungan, Jungut Batu. “Biaya untuk melaut cukup tinggi baik  bensin maupun perawatan mesin sedangkan tangkapan ikan hasilnya tidak menentu, makanya saya jadi petani rumput laut,” imbuh pria dengan dua anak ini yang biasanya dipanggil Nang Senangi. Tetapi bagaimana lagi, ini pekerjaan satu-satunya, mereka harus tetap menyabung nyawa dengan pendapatan yang tak pasti. Seperti makan buah simalakama, mungkin itu ungkapan yang tepat untuk menggambarkan nasib nelayan Nusa Penida. Pilihan yang sulit, kalau tidak melaut keluarga tidak bisa makan, tetapi kalau melaut hasilnya tidak menentu bahkan bisa rugi biaya bensin.

Deretan jukung yang terparkir di Pantai Kutampi.

Deretan jukung yang terparkir di Pantai Kutampi.

Menghadapi masalah yang dihadapi nelayan, Nusa Penida Post (18/5) mencoba menghubungi Kepala UPT Dinas Perikanan dan Kelautan Drs. Nyoman Suarta, terkait program apa yang telah dilakukan pemerintah dalam menyelesaikan masalah nelayan tersebut. Pria asal Jurang Pait, yang dihubungi via telepon seluler menjawab “Pak coba hubungi Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Klungkung,” ucapnya dari suara teleponnya sembari berjanji akan memberi nomor telepon seluler Kadis Perikanan dan Kelautan. Kemudian, Nusa Penida Post menghubungi Kepala Dinas bernama Drh. Badiwangsa sesuai pesan sms tersebut, ternyata nomor telepon yang diberi tidak bisa dihubungi. (NPP)