Warning: Use of undefined constant DISALLOW_FILE_EDIT - assumed 'DISALLOW_FILE_EDIT' (this will throw an Error in a future version of PHP) in /home/npm2017/public_html/wp-config.php on line 36
Nusa Penida Media | Musim Penghujan Tiba, Warga Serentak ‘Metajuk’
 

Musim Penghujan Tiba, Warga Serentak ‘Metajuk’

NUSA PENIDA, NUSA PENIDA POST

Hujan yang dinanti oleh masyarakat kepulauan Nusa Penida akhirnya turun juga meskipun agak mundur dari prediksi musim biasanya. Terhitung sejak Sabtu, 9 Oktober 2013, hujan mulai turun walau tidak merata terutama wilayah bagian utara. Berdasarkan perhitungan sasih (red; kalender Bali), hujan biasanya sudah turun per awal Oktober tetapi akibat pengaruh perubahan iklim global, musim penghujan mengalami pergeseran.

Pantaun Tim Nusa Penida Post selama dua minggu belakangan, masyarakat menyambut musim penghujan dengan mempersiapkan abian (red; ladang) masing-masing. Warga tampak sibuk menyiangi rumput dengan mencangkul dan sebagian lagi memanfaatkan tenaga sapi untuk nyungkrak atau nengala (red; membajak) seperti yang dilakukan salah satu petani di Banjar Semaga, Desa Klumpu (22/11).

Tiang wawu nyungkrak niki Pak, mare ujan uling telun, agak mes jani nyungkrake,” (red; Saya membajak karena hujannya baru turun sejak tiga hari lalu, lumayan mudah membajaknya), terangnya sambil membalikkan sapi untuk melanjutkan nyungkrak.

Musim penghujan tiba, warga mulai bercocok tanam

Musim penghujan tiba, warga mulai bercocok tanam

Ia pun mengaku, selesai dibajak, lahannya akan ditanami kacang dan jagung yang juga ditumpangsari dengan kacang abut (red; kacang tanah). Sementara hal berbeda terlihat di Banjar Dlundungan, Desa Sekartaji, masyarakat sudah selesai metajuk (red; menabur benih) karena hujan memang turun lebih awal.

Bapak sube puan suwud metajuk, mule biasa kelod-kelod ne malunan duang ujan,” (red; Saya sudah selesai menabur benih dua hari lalu karena biasanya daerah bagian barat lebih duluan turun hujan), ungkap I Wayan Murta (49) yang ditemui di ladangnya.

Lebih lanjut, Murta menandaskan, ladangnya tidak hanya ditanami jagung dan kacang tetapi juga ada kundis, bleleng (red; jagung gemal), kacang ijo serta komak tetapi semua ditanam sesuai jenis tanah yang ada di lahan. Setelah jagung berdaun lima, di sela-sela jagung akan ditanami singkong, selanjutnya, lahan akan di-gabag (red; alat bajak dengan gigi banyak) dan sebagian juga di-kiskis (red; cangkul bertangkai panjang) untuk membersihkan rumput liar.

Ketika tim media bergeser ke daerah bagian timur (23/11), warga yang ada di Banjar Jurang Batu, Desa Suana, terlihat sedang mubud (red; menabur benih) di ladang sambil sesekali menghalau ayam yang menggali benih. Menurut warga, I Made Galung (41), kegiatan menabur benih baru dimulai hari ini akibat hujan yang turun tidak mencukupi.

Mare tuni ne mulai metajuk,” (red; Baru tadi kami menabur benih), tutur Made sembari menunjukkan ladang yang sudah ditaburi benih. “Ne sekewale duang, nitip bibit,” (red; Ini hanya sekedar menitipkan benih), tambahnya. Made juga menjelaskan, ada tradisi unik di banjarnya, 4 hari setelah musim tanam, akan ada bunyi kentongan yang mengisyaratkan warga untuk menangkap ayamnya agar tidak memakan bibit yang masih kecil. Warga yang ketahuan masih melepaskan ayamnya akan didenda sesuai aturan adat, selanjutnya ayam akan dilepas setelah tanaman berumur 28 hari.

Reporter: I Gede Sumadi

Editor: I Komang Budiarta