Musim Kemarau, PDAM Diminta Siaga

NUSA PENIDA, NUSA PENIDA POST

Kekeringan yang melanda sejumlah wilayah di Indonesia, utamanya yang berada di wilayah selatan garis khatulistiwa juga dirasakan warga di Kepulauan Nusa Penida. Informasi dari BMKG menyebutkan kondisi ini dipicu oleh badai El-Nino hingga musim kemarau lebih lama dari biasanya. Wilayah Nusa Tenggara Timur bahkan sudah masuk musim kemarau sejak Maret lalu dan diperkirakan berlangsung sampai Desember.

Berdasarkan pantauan di beberapa wilayah di Nusa Penida, sejumlah kawasan hutan terlihat rontok dan hanya menyisakan warna cokelat. Kebun warga tampak kosong dengan tanah yang mengeras dan terbelah. Cubang (red; sumur) yang menjadi andalan simpanan air warga sudah mulai menipis dan diperkirakan hanya bertahan dalam satu bulan ke depan. Sebagai langkah antisipasi, PDAM menyiagakan dua unit mobil tangki. Mobil tersebut merupakan bantuan Dinas Sosial dan DKP Klungkung.

PDAM menyiagakan unit mobil tangki air untuk pendistribusian air ke sejumlah wilayah

PDAM menyiagakan unit mobil tangki air untuk pendistribusian air ke sejumlah wilayah

Selama ini pasokan air untuk memenuhi kebutuhan warga dilayani dengan distribusikan air dari mata air Penida dan Guyangan. Tidak semua wilayah bisa terlayani, hanya wilayah pesisir dengan geografi yang relatif landai. Beberapa sumber air besar termasuk Guyangan dengan debit di atas 120 liter per detik belum bisa dimanfaatkan secara optimal. Demikian pula, mata ir Penida yang hanya bisa dimanfaatkan 30% dari debit 200 liter per detik.

“Untuk antisipasi musim kemarau, kami mengaktifkan pompa air. Kebutuhan listrik juga menjadi tolok ukur, makanya kami sangat perlu komunikasi secara intens kepada PLN agar pompa bisa bekerja secara maksimal. Karena produktifitas mengandalkan tenaga listrik,” ujar sumber dari PDAM Nusa Penida, I Ketut Narsa, Kamis (30/7).

Secara khusus, distribusi air dari Penida menjangkau daerah pesisir mulai dari Desa Sakti, Toyapakeh, Ped bagian bawah, Kutampi Kaler, Batununggul dan Suana. Sementara, sumber mata air Guyangan yang dikelola PU Provinsi Bali dibawah UPT. SPAM Guyangan melayani. daerah perbukitan dengan jaringan pipanisasi. Posisi sumber air yang jauh dibawah sangat tergantung dari kemampuan mesin, sedikit saja ada gangguan pada mesin, pendistribusian dipastikan tersendat.

“Guna menjamin kebutuhan air, kami akan berkomunikasi dengan pihak UPT SPAM Guyangan. Tindakan reserpoar atas seizin SPAM Guyangan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Komunikasi aparat desa baik Kadus maupun Perbekel sangat kami harapkan. Bila pelayanan dirasa kurang masyarakat dimohon datang langsung ke kantor bukan keluhkan ke media social,” pungkas Narsa.

I Made Martawan, pelanggan PDAM mengemukan bahwa masalah air tidak hanya pada musim kemarau.
“Masalah air saat musim kemarau sudah menjadi masalah klasik yang tak dapat dipecahkan. Jangankan daerah perbukitan, pesisir saja saat puncak pemakian air sulit mengalir. Ini disebabkan pipa yang disalurkan kecil dengan beban yang memakai banyak,” keluhnya.

Perbekel Desa Batukandik, I Wayan Katon mengatakan masalah air memang mencuat di masyarakat namun diakuinya tidak ada ancaman kelaparan. Masyarakat dinilai memiliki pola pikir yang sudah maju. Masyarakat tidak lagi hanya mengandalkan pertanian tetapi juga bekerja di sejumlah sektor.
“Warga kami bekerja daerah pariwisata di Jungut Batu dan menjadi penopang hidup mereka. Sehingga kebutuhan hidup mereka tidak sampai kekurangan pangan,” tandas Katon.

Reporter: Santana Ja Dewa
Editor: I Gede Sumadi