Multiplier Effect Kenaikan BBM Warga Pulau Seberang

koran

Untuk download Nusa Penida Post Vol 26 klik gambar di atas!

BATUNUNGGUL, NUSA PENIDA POST
Kenaikan harga BBM sangat berimbas secara luas pada perekonomian masyarakat. Salah satu dampak nyata dialami oleh para pengguna jasa penyeberangan baik itu, speed boat, sampan, termasuk nelayan dan pedagang ikan bakar di Nusa Penida. Harga sembako yang didatangkan dari Bali daratan pun semakin meroket tak terbeli.

       Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) berdampak luas pada seluruh sendi perekonomian masyarakat. Tanpa terkecuali Nusa Penida yang merupakan daerah kepulauan. Ini memberikan efek multipliers pada kenaikan biaya transportasi yang diikuti harga sembako dan barang-barang kebutuhan lainnya. Tarif angkutan jasa speed boat yang semula Rp 65.000 mengalami kenaikan sekitar 21% menjadi Rp 80.000 per sekali trip. Anehnya lagi, harga untuk setiap speed boat berbeda-beda, tidak ada regulasi yang jelas mengatur termasuk dinas terkait pun diam tak tahu-menahu. “Lek, ibi aji Rp 75.000 timpale meli, jani ngude maelan(red; kemarin teman saya beli tiket Rp 75.000, sekarang kok lebih mahal), gerutu salah satu penumpang tujuan Nusa Penida di Pantai Sanur (29/6).

Kenaikan harga BBM juga membuat resah para nelayan dan para pedagang ikan laut di Nusa Penida, Kabupaten Klungkung, Bali. Banyak nelayan saat ini tidak melaut karena naiknya harga BBM. “Untuk saat ini saya dan para nelayan lainnya jarang melaut karena merasa berat untuk membeli bensin dan solar. Apalagi kalau kami tidak mendapat ikan, kami harus merugi sebanyak Rp 150.000 dalam sekali melaut,” ujar Komang Kariasa (38 tahun) warga Kutapang, Desa Batununggul (29/6/2013). Secara hitungan matematis, untuk sekali melaut para nelayan membutuhkan minyak sebanyak 20 liter per hari. Saat ini harga minyak di Nusa Penida Rp 7.000 per liter, berarti para nelayan harus menghabiskan biaya Rp 140.000 belum termasuk bekal makan dan minum. Hasil penelusuran Nusa Penida Post (Sabtu, 30/6/2013), sebagian nelayan mengurangi aktivitas melaut karena minimnya hasil tangkapan dan membengkaknya biaya melaut akibat kenaikan harga BBM. Mereka memilih memarkir jukung dan sebagian memilih untuk memperbaiki jaring dan pancing.

JUkung Nongkrong

Kenaikan BBM membuat nelayan enggan melaut dan memilih memarkirkan jukungnya

dagangbe

Usaha ikan bakar I Made Kariasa mengalami penurunan omzet

Hal serupa juga dirasakan Ni Made Cabluk (51 tahun) warga Batununggul, pedagang ikan bakar yang juga merasakan dampak kenaikan harga BBM. “Mangkin ten lancer nike, bedik anak luas, makane be mael, kayang base-base menek(red; Saya tidak lancar lagi dalam membuka usaha karena nelayan saat ini jarang melaut. Harga ikan mentah juga naik drastis termasuk juga bahan bumbu,” tuturnya. Hal ini membuat usaha ikan bakarnya naik turun. Usahanya yang dulunya rutin buka setiap hari sekarang hanya buka seminggu tiga kali, itu pun kalau ada pasokan ikan dari nelayan.

jukung

Tarif jasa penyeberangan meroket pasca kenaikan BBM

Kenaikan BBM saat ini membuat dilema semua lapisan masyarakat. Betapa tidak, warga Nusa Penida cuma mengandalkan ikan laut sebagai sumber lauk-pauk. Kalau nelayan jarang melaut berarti pasokan ikan sangat minim bahkan harus didatangkan dari Bali daratan. Bisa ditebak, harga ikan akan berlipat ganda. Sebelum kenaikan BBM harga ikan laut Rp 3.000 sampai Rp 6.000 per ekor, sekarang harga ikan laut menjadi Rp 8.000 sampai Rp 10.000 per ekor.

Harga sembako pun tak mau kalah berlomba, sejumlah kebutuhan sehari-hari seperti beras, sayur, dan bumbu dapur mengalami kenaikan signifigan. “Semua naik sekarang karena ongkos angkut penyebrangan barang di sampan juga naik” ungkap Ni Made Manis (48 tahun), salah satu pedagang di Pasar Mentigi. Pedas, harga cabai yang semula Rp 20.000 per kilogram melesat naik menjadi Rp 35.000. Warga Nusa Penida dibuat semakin terjepit, kalau membeli barang pasti lebih mahal 20% dibandingkan harga di Bali daratan sedangkan untuk menjual barang, warga harus rela lebih murah 20%. Sungguh sebuah ironi ekonomi yang sangat tidak berimbang. (I Putu Gunawan)